DONGGALA, MAL – Bupati Donggala, Vera Elena Laruni, memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan agrowisata durian Donggala, khususnya varietas Musang King dan Black Thorn, yang membidik pasar ekspor dunia. Dukungan ini disampaikan langsung saat Vera Laruni mengunjungi kebun durian milik petani lokal di Desa Ape Maliko, Kecamatan Sindue Tobata, pada Ahad (21/06), sebagai upaya nyata mendorong potensi ekonomi daerah.

Kunjungan Bupati Vera Laruni tersebut berlangsung di kebun durian milik dua petani lokal, Wawan Ragil dan Edi, di mana mereka berhasil mengembangkan sekitar 700 pohon durian Musang King dan Black Thorn di lahan seluas tujuh hektare. Vera Laruni optimistis potensi agrowisata durian Donggala ini akan melahirkan ‘sultan baru’ di Donggala.

“Ini dua petani kita Pak Wawan Ragil dan Pak Edi, adalah calon sultan baru di Kabupaten Donggala dalam dua hingga tiga tahun ke depan,” kata Vera Laruni, Bupati Donggala, disambut tawa warga yang hadir di kebun durian Desa Ape Maliko.

Menurut Vera, langkah besar dalam sektor pertanian dan pariwisata ini terlihat nyata melalui pengembangan durian unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar internasional sangat menjanjikan. Dia yakin bahwa dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Kabupaten Donggala sudah mampu mengekspor durian hasil kebun petani lokal, memperkuat posisi agrowisata durian Donggala di kancah global.

“Saya optimistis dalam dua sampai tiga tahun ke depan Kabupaten Donggala sudah mampu mengekspor durian hasil kebun petani lokal untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional,” kata Vera Laruni.

Durian Musang King dan Black Thorn dikenal sebagai varietas premium dengan cita rasa khas, tekstur lembut, dan kualitas tinggi, menjadikannya ‘Raja Buah’ di pasaran global. Harga durian premium ini dapat mencapai Rp225 ribu hingga Rp500 ribu per kilogram, menunjukkan potensi besar bagi agrowisata durian Donggala dan kesejahteraan petani.

Melihat potensi besar ini, Pemerintah Kabupaten Donggala berkomitmen memberikan dukungan melalui penyediaan bibit unggul bagi masyarakat. Meskipun dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi anggaran daerah, ini adalah langkah strategis untuk memperkuat infrastruktur agrowisata durian Donggala.

“Kami tetap menyediakan bantuan bibit berkualitas bagi masyarakat. Walaupun jumlahnya masih terbatas karena efisiensi anggaran, ini merupakan langkah strategis untuk mendorong program yang langsung menyentuh kesejahteraan rakyat,” jelas Vera.

Bupati Vera Laruni juga mengajak masyarakat yang memiliki lahan kosong untuk mulai menanam durian unggulan sebagai investasi jangka panjang yang bernilai tinggi. Dia sendiri telah menanam sekitar 100 pohon Musang King dan Black Thorn di kebunnya di Desa Batusuya Tompe, menunjukkan komitmennya terhadap agrowisata durian Donggala ini.

“Saya sendiri juga baru belajar menanam Musang King dan Black Thorn. Saat ini saya sudah menanam sekitar 100 pohon di kebun saya di Desa Batusuya Tompe. Dalam proses perawatannya saya banyak dibantu oleh Pak Wawan Ragil. Saya berharap langkah ini bisa diikuti masyarakat Donggala, minimal dimulai dari pekarangan rumah masing-masing,” ujarnya.

Sementara itu, Wawan Ragil mengungkapkan hasil panen perdana mulai menunjukkan prospek bisnis yang sangat menjanjikan. Bahkan, ada penawaran Rp10 juta untuk satu pohon durian, meskipun belum direspons karena pohon masih dalam tahap awal produksi agrowisata durian Donggala ini.

“Baru mulai panen saja sudah ada yang menawar satu pohon durian seharga Rp10 juta. Namun saya belum merespons karena pohon-pohon ini masih dalam tahap awal produksi. Siapa tahu panen berikutnya hasilnya jauh lebih besar,” ungkap Wawan Ragil.

Hal senada disampaikan Edi, yang juga mengelola sekitar 700 pohon durian. Beberapa pohonnya telah berusia tiga tahun dan memasuki masa produktif, dengan panen besar yang dijadwalkan pada bulan Juli mendatang. Hasil yang ada saat ini sudah cukup memenuhi kebutuhan pasar lokal di sekitar Donggala, mendukung geliat agrowisata durian Donggala.

“Panen besar dijadwalkan pada bulan Juli mendatang. Saat ini hasil yang ada sudah cukup memenuhi kebutuhan pasar lokal di sekitar Donggala,” kata Edi.