JAKARTA, MAL — Nilai tukar rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Senin (26/10) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar AS per barel yang memberikan tekanan hebat terhadap mata uang domestik.
Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda dibuka melemah pada level Rp18.089 per dolar AS atau turun 0,05 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Pelemahan Rupiah tembus Rp18.000 ini semakin dalam pada tengah hari hingga menyentuh angka Rp18.117 per dolar AS akibat sentimen negatif global yang kuat.
Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan bahwa kenaikan harga energi menjadi faktor utama yang membebani nilai tukar. Kondisi ini diperparah dengan menguatnya indeks dolar AS serta aksi jual investor asing di pasar keuangan dalam negeri yang mencari aset aman (safe haven).
“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS di tengah kekhawatiran eskalasi tensi geopolitik Timteng yang kembali membuat harga minyak naik di atas US$100 per barel,” kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.
Menanggapi situasi ini, otoritas moneter terus melakukan pemantauan ketat di pasar valuta asing. Bank Indonesia menyatakan bahwa pihaknya tetap berada di pasar untuk memastikan volatilitas nilai tukar tetap terjaga sesuai dengan fundamental ekonomi nasional.
“Kebijakan moneter ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat,” kata Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia.
Meskipun kondisi pasar sedang bergejolak, pemerintah dan bank sentral meyakini ketahanan ekonomi Indonesia masih cukup solid. Fokus utama saat ini adalah memitigasi dampak rambatan dari harga komoditas energi yang dapat memengaruhi inflasi di dalam negeri.
“Tekanan terhadap rupiah masih dapat dikelola meski sempat menembus Rp18.000,” kata Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia.
