Mungkin di antara kita ada banyak yang merasa galau, yakni perasaan tidak tenang, gelisah, makan tidak enak, bahkan tidur pun tidak nyenyak. Kita menjadi sering marah-marah dan mudah emosi. Keadaan ini terasa lumrah terjadi pada siapa saja. Bahkan, boleh dibilang manusiawi. Setiap manusia pasti pernah melewati fase ketika dirinya menyimpang dari keadaan normal tersebut.

Sebenarnya, ada banyak faktor yang menyebabkan perasaan galau melekat begitu saja pada manusia. Salah satunya adalah ketidaksiapan hati dan tergerusnya akar tauhid.

Hati, dengan wataknya yang labil (taqallub, yang seakar dengan kata qalbun, berarti hati), seharusnya bisa ditundukkan agar tenang atau mencapai tumakninah jika rangsangan dari luar bersesuaian. Salah satu cara menenangkan hati adalah dengan senantiasa mengingat Allah atau zikrullah.

“Dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Yang dimaksud dengan akar tauhid adalah keyakinan yang sempurna kepada Allah bahwa segala keadaan terjadi atas izin dan pengetahuan-Nya. Hati dan seluruh keadaan kita berada dalam pengawasan Allah. Tidak ada sedikit pun yang terlewatkan dari perhatian-Nya. Dia Maha Melihat dan Mahabijaksana. Lantas, mengapa kita tidak mencoba mengeluhkan segala persoalan di hadapan-Nya?

Pernah suatu ketika, seorang jamaah Ibnu Mas’ud RA mengeluhkan keadaan dirinya yang persis seperti di atas. Selepas taklim, jamaah tersebut menghampiri sahabat Nabi yang mulia ini. Ibnu Mas’ud RA kemudian berpesan agar ia mendatangi tiga tempat.

Pertama, datangi majelis yang senantiasa memperdengarkan Al-Qur’an. Simak bacaannya dan, jika mampu, ikuti bacaannya. Niscaya kamu akan mendapatkan rahmat dan ketenangan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra: 82.

Ada orang yang rela mengeluarkan biaya besar demi mencari ketenangan. Sebagian mencarinya melalui lantunan musik, ada yang mendatangi kelab malam, dan ada pula yang mencarinya di berbagai tempat rekreasi di pinggir pantai. Namun, apakah mereka benar-benar mendapatkan ketenangan?

Tidak, itu hanyalah ketenangan semu. Ketenangan hakiki hanya dapat diraih dengan iman. Ketenangan semacam itu dapat ditemukan dalam majelis ilmu syar’i.

Cobalah rasakan ketenangan melalui majelis ilmu ketika Al-Qur’an dilantunkan dan hadis Nabi Muhammad SAW disampaikan. Rasakanlah kenikmatan yang berbeda.

Kedua, datangi majelis ilmu tempat para guru saleh menasihatimu dengan firman-firman Allah dan sabda Nabi-Nya. Niscaya, ilmu yang mencerahkan akan bertambah. Al-‘ilmu nuurun, ilmu adalah cahaya yang menerangi.

Ketiga, datangi alas sajadah pada malam-malam munajatmu. Niscaya, keadaanmu akan meningkat menuju kedudukan yang semakin dekat dengan Sumber Ketenangan, Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Isra: 79.

Atas dasar itulah, cobalah mulai sekarang untuk lebih sering mengeluh dan mengadu kepada Allah, Pemilik hati dan seluruh keadaan kita. Belajarlah untuk istiqamah mendatangi ketiga tempat yang dipesankan Ibnu Mas’ud tersebut. Insyaallah, akan ada ketenangan dan kebaikan yang dilimpahi keberkahan.

Demikian pesan yang disampaikan untuk mengakhiri halaqah Subuh pada pagi itu.

Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa Allah bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, apakah hamba-Ku berdoa kepada-Ku?”

Jibril menjawab, “Ya.”

Allah bertanya lagi, “Apakah ia mengiba kepada-Ku dalam meminta?”

Jibril menjawab, “Ya.”

Maka Allah berfirman, “Wahai Jibril, tangguhkanlah (pengabulan) permintaan hamba-Ku, sebab Aku suka mendengar suaranya.” Wallahu a’lam

Darlis Muhammad (Redaktur Senior Media Alkhairaat)