POSO, MAL – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah mendorong penguatan ekosistem kakao melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan business matching dalam program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) Komoditas Kakao Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini mempertemukan petani, koperasi, pelaku usaha, lembaga jasa keuangan, pemerintah daerah, dan mitra pendamping untuk memperluas akses pembiayaan, meningkatkan kualitas produksi, serta membuka peluang pasar bagi kakao daerah.
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra, mengatakan pengembangan kakao membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar potensi komoditas tersebut dapat berkembang secara optimal.
Melalui program PED, OJK mendorong keterhubungan antara kebutuhan petani dan pelaku usaha dengan dukungan pembiayaan, pendampingan, penguatan kelembagaan, serta akses pasar.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, business matching mempertemukan petani dan pelaku usaha kakao dengan sejumlah lembaga, antara lain PT Pegadaian, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), dan BPJS Ketenagakerjaan. Pertemuan ini diharapkan membuka akses pembiayaan dan pendampingan usaha sekaligus memperluas perlindungan sosial bagi pekerja sektor kakao.
Potensi pasar kakao Sulteng antara lain terlihat dari kemitraan Koperasi Karya Bersama dengan perusahaan asal Prancis, Valrhona. Pada 2026, koperasi tersebut telah merealisasikan ekspor 12,5 ton kakao premium terfermentasi.
Selain itu, terdapat peluang kerja sama pasokan biji kakao basah dengan Adore Rempa Indonesia yang kebutuhannya belum dapat dipenuhi secara optimal. Ada pula penawaran kerja sama penyediaan tiga ton kakao fermentasi pada 2026.
Peluang tersebut menunjukkan bahwa permintaan pasar perlu diimbangi dengan kapasitas produksi, kualitas hasil, dan kesinambungan pasokan. Karena itu, penguatan kelembagaan petani dan koperasi serta dukungan pembiayaan menjadi bagian penting dalam pengembangan rantai usaha kakao.
Program ini turut didukung Fakultas Pertanian Universitas Sintuwu Maroso dan Rainforest Alliance, terutama dalam peningkatan kapasitas petani serta kualitas budi daya dan penanganan pascapanen.
Sementara itu, implementasi PED komoditas kakao yang berjalan sejak 2025 melalui kerja sama dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. mencatat pembiayaan kepada 655 debitur dengan total penyaluran Rp38,602 miliar selama periode Oktober 2025 hingga Agustus 2026.
Realisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan bagi petani dan pelaku usaha kakao. Ke depan, penguatan ekosistem diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas dan kesinambungan pasokan, serta memperluas kemitraan dan ekspor kakao Sulawesi Tengah.
