SIGI, MAL – DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Sigi menggelar Training for Trainers, Sabtu (10/10/2026), untuk meningkatkan kualitas instruktur pembinaan melalui penguatan kemampuan komunikasi dan keteladanan.
Pelatihan bertema “Membina dengan Hati, Menggerakkan dengan Hikmah” itu menghadirkan Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BiPeka) DPW PKS Sulawesi Tengah, Wiwik Jumatul Rofi’ah, sebagai narasumber.
Dalam kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore tersebut, Wiwik yang juga Ketua Fraksi PKS DPRD Sulawesi Tengah dan Sekretaris Komisi IV membawakan materi tentang wawasan serta keterampilan berbicara di depan umum bagi para pembina.
Ia menekankan bahwa peran pembina atau murabbi tidak terbatas pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga mencakup pendampingan, kemampuan mendengarkan, pemberian motivasi, dan keteladanan untuk mendorong perubahan perilaku peserta binaan.
“Public speaking membuat orang mendengar kita. Tetapi keteladanan membuat orang mengikuti kita,” demikian pesan Wiwik dalam pelatihan tersebut.
Menurut Wiwik, komunikasi dalam pembinaan perlu dirancang agar pesan tidak hanya dipahami, tetapi juga menyentuh hati dan mendorong tindakan nyata. Pendekatan itu dirangkum dalam konsep Head, Heart, Hand, yakni membangun pemahaman, menyentuh hati, dan menggerakkan tindakan.
Untuk menerapkan pendekatan tersebut, pembina perlu mengenali karakter, pengalaman, dan kebutuhan peserta binaan. Materi yang disampaikan juga harus memiliki pesan utama yang jelas serta berkaitan dengan persoalan sehari-hari.
Wiwik memperkenalkan pola penyampaian materi “Buka–Bangun–Beri–Gerakkan”. Pola ini dimulai dengan membuka pembicaraan melalui pertanyaan atau cerita, membangun hubungan dengan audiens, menyampaikan materi secara sederhana, lalu menutupnya dengan ajakan konkret.
Ia juga menjelaskan prinsip 1–3–1 untuk menyederhanakan materi, yaitu satu pesan utama, tiga poin pendukung, dan satu aksi nyata. Pola tersebut digunakan untuk menjaga fokus pembahasan sekaligus memberikan arah tindak lanjut bagi peserta binaan.
Dalam proses pembinaan, Wiwik mengingatkan pentingnya memberikan ruang bagi peserta untuk berbicara, bertanya, dan menyampaikan kesulitan tanpa merasa dihakimi.
“Pembina perlu memberi ruang kepada peserta binaan untuk berbicara, mengajukan pertanyaan, dan menyampaikan kesulitan tanpa merasa dihakimi. Terlalu banyak membaca, menumpuk teori, serta sering menggurui justru dapat mengurangi kedekatan dan menghambat pemahaman,” katanya.
Selain teknik komunikasi verbal, materi pelatihan mencakup pengaturan suara, bahasa tubuh, latihan bercerita, berbicara singkat tanpa teks, serta simulasi menghadapi peserta binaan dengan karakter beragam. Empati dan ketegasan juga ditekankan dalam memberikan teguran maupun pendampingan.
Melalui kegiatan ini, DPD PKS Kabupaten Sigi berupaya memperkuat kapasitas instruktur agar mampu memadukan penguasaan ilmu, keterampilan komunikasi, dan keteladanan dalam proses pembinaan. ***
