JENEWA, MAL — Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Türk menyerukan agar penyelidik internasional diberi akses ke seluruh wilayah Jalur Gaza. Seruan itu disampaikan menyusul ditemukannya ratusan jenazah dan sisa-sisa tubuh di bawah reruntuhan bangunan.
Türk memperingatkan bahwa jenazah yang telah ditemukan mungkin baru sebagian kecil dari korban yang masih tertimbun.
“Penemuan sisa-sisa jenazah yang luas di bawah reruntuhan di Kota Gaza memunculkan kembali kekhawatiran akan kejahatan perang dan kejahatan kekejaman lainnya. Saya khawatir sisa-sisa jenazah yang ditemukan sejauh ini mungkin hanya puncak gunung es,” kata Türk, sebagaimana dikutip Middle East Monitor, Rabu (16/9).
Ia juga menyoroti aktivitas perataan reruntuhan menggunakan alat berat di sejumlah wilayah Gaza yang sebelumnya menjadi lokasi operasi militer Israel.
“Hari ini, banyak daerah di Gaza tempat militer Israel dikerahkan terus diratakan oleh buldoser tanpa menghormati orang mati di bawah reruntuhan,” ujarnya.
Menurut Türk, akses bagi penyelidik internasional diperlukan untuk membantu mendokumentasikan kondisi di lapangan sekaligus menjaga bukti yang mungkin berkaitan dengan dugaan pelanggaran hukum internasional.
Kantor HAM PBB menyebut pihak berwenang Palestina memperkirakan masih terdapat ribuan jenazah di bawah reruntuhan bangunan di Gaza. Upaya pencarian dan evakuasi menghadapi keterbatasan alat berat dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengangkat puing-puing. Laporan mengenai jumlah jenazah yang masih tertimbun tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kondisi itu tergambar dalam pemakaman massal yang digelar di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, pada 6 September 2026. Sekitar 100 jenazah atau sisa-sisa tubuh yang berhasil ditemukan dari reruntuhan dimakamkan bersama, dengan sekitar 60 di antaranya merupakan anak-anak.
Jenazah tersebut sebelumnya dicari oleh keluarga korban dan petugas pertahanan sipil selama berminggu-minggu. Proses pencarian berlangsung dengan peralatan yang terbatas sehingga evakuasi korban dari bawah reruntuhan berjalan lambat.
Penemuan tersebut kembali memperlihatkan persoalan yang dihadapi Gaza setelah sebagian besar wilayahnya mengalami kerusakan akibat perang. Selain persoalan korban yang belum ditemukan, proses identifikasi dan pemakaman juga menghadapi keterbatasan fasilitas serta kerusakan sejumlah kawasan pemakaman.
Türk meminta akses internasional dibuka agar kondisi di lapangan dapat didokumentasikan dan bukti-bukti terkait dugaan pelanggaran dapat dipertahankan untuk proses pertanggungjawaban di kemudian hari.**
