ADA satu kebiasaan kecil anak-anak yang belakangan mulai berubah. Dulu, kalau bertemu orang tua, guru, kakek, nenek, atau orang yang dituakan, tangan disambut lalu dicium. Sekarang, tidak sedikit anak yang cukup menempelkan kening ke punggung tangan.
Sepintas tidak ada masalah. Sama-sama salim. Sama-sama menunjukkan hormat.
Tetapi kalau kita perhatikan lebih lama, ada pertanyaan yang menarik: apakah anak-anak masih tahu kenapa mereka salim?
Sebab anak kecil biasanya tidak bertanya soal itu. Ketika orang tua mengatakan, “Salim,” ia menurut. Tangannya diambil, lalu dicium. Besok diulang lagi. Lusa diulang lagi. Lama-lama menjadi kebiasaan.
Dari kebiasaan sederhana itulah anak sebenarnya sedang belajar sesuatu yang lebih besar. Ia belajar bahwa ketika bertemu orang yang lebih tua, ada sikap yang berbeda. Tidak asal menyapa, tidak asal lewat. Ada cara memperlakukan orang lain dengan hormat.
Sekarang bentuknya mulai berubah. Kening ditempelkan ke tangan. Bisa jadi karena melihat orang lain melakukannya. Bisa juga karena memang begitu yang diajarkan di rumah.
Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan dari perubahan gerakan itu. Yang justru perlu kita pikirkan adalah bagaimana pendidikan adab berlangsung di rumah.
Anak sekarang menerima begitu banyak contoh. Dari orang tua, guru, teman, video pendek, sampai media sosial. Mereka meniru apa yang sering dilihat. Kalau di rumah orang tua berbicara kasar kepada orang tuanya sendiri, lalu di depan anak sibuk meminta anak menghormati orang yang lebih tua, pesan yang diterima anak tentu menjadi campur aduk.
Begitu juga dengan salim.
Kita bisa mengajari anak mencium tangan setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Tetapi kalau setelah itu anak melihat orang tuanya membentak kakek atau nenek, pendidikan yang lebih kuat justru datang dari bentakan itu.
Maka mungkin kita terlalu sibuk memperdebatkan gerakan salim.
Cium tangan atau kening? Begitu pertanyaannya.
Padahal anak membutuhkan sesuatu yang lebih sederhana: contoh.
Ia perlu melihat bahwa ayah menghormati kakek. Ibu berbicara lembut kepada nenek. Anak melihat gurunya dihormati. Ia juga melihat orang dewasa meminta maaf ketika salah.
Dari situ ia mengerti bahwa menghormati orang lain bukan sekadar ritual yang dilakukan ketika bertemu.
Salim hanya pintu masuk. Pendidikan sesungguhnya terjadi setelah tangan itu dilepas.
Kalau anak masih mencium tangan, tetapi kehilangan rasa hormat, kita punya masalah. Kalau anak menempelkan kening ke tangan tetapi memahami siapa yang sedang ia hormati, nilai adab itu masih ada.
Karena yang kita khawatirkan sebenarnya bukan hilangnya kebiasaan mencium tangan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kalau anak tumbuh dengan tangan yang pandai bersalaman, tetapi hatinya tidak pernah diajarkan untuk menghormati.
