MOSKOW, MAL — Seorang pejabat militer senior Rusia memperingatkan Israel berisiko kehilangan eksistensinya sebagai sebuah negara apabila konflik di Timur Tengah terus meningkat.
Peringatan tersebut disampaikan Wakil Kepala Direktorat Militer-Politik Utama Rusia sekaligus Komandan Pasukan Khusus Akhmat, Letnan Jenderal Apti Alaudinov.
Menurut Alaudinov, perang di Timur Tengah masih berpotensi meluas. Ia bahkan menilai peningkatan eskalasi konflik kemungkinan menjadi bagian dari strategi Israel untuk melibatkan lebih banyak kekuatan asing.
“Kita harus menyadari bahwa perang di Timur Tengah hanya akan meningkat. Saya percaya bahwa justru itulah tujuan Israel, untuk meningkatkan konflik semaksimal mungkin dan menyeret AS serta seluruh blok NATO ke dalamnya,” ujar Alaudinov, seperti dikutip dari Anadolu Agency dan Middle East Monitor.
Alaudinov juga memperingatkan Israel agar tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan militernya.
Menurutnya, jika konflik terus diperluas, Israel justru dapat menghadapi konsekuensi yang mengancam keberlangsungan negaranya.
“Pada akhirnya, mereka akan melebih-lebihkan kekuatan mereka dan akan lenyap sebagai sebuah negara,” katanya.
Konflik Timur Tengah Terus Memanas
Ketegangan kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah negara di kawasan yang menjadi lokasi aset Amerika Serikat.
Pada Juni, Iran dan Amerika Serikat sempat menandatangani nota kesepahaman yang ditujukan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih luas.
Namun, kesepakatan tersebut kemudian gagal di tengah saling tuduh pelanggaran dan kembali meningkatnya permusuhan antara kedua pihak.
Hingga kini, upaya diplomatik belum menghasilkan terobosan berarti, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz maupun dimulainya kembali perundingan mengenai kesepakatan yang lebih luas.
Pernyataan Alaudinov muncul di tengah situasi kawasan yang semakin kompleks. Keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik dengan Iran, serta potensi keterlibatan negara-negara lain, meningkatkan kekhawatiran bahwa perang dapat berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas.
Peringatan pejabat Rusia tersebut sekaligus menunjukkan semakin tajamnya perbedaan pandangan mengenai arah konflik Timur Tengah dan risiko yang dapat ditimbulkannya bagi seluruh kawasan.**
