DI banyak sekolah, membersihkan halaman, menyapu kelas, memungut sampah, hingga membersihkan toilet masih kerap digunakan sebagai bentuk hukuman bagi siswa yang melakukan pelanggaran. Anak yang datang terlambat, ribut di kelas, tidak mengerjakan tugas, atau melanggar aturan tertentu dapat diminta melakukan pekerjaan kebersihan sebagai konsekuensi.

Cara seperti ini sekilas tampak sederhana dan mendidik. Anak yang melakukan kesalahan diberi pekerjaan yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah. Sekolah juga merasa memperoleh dua keuntungan sekaligus: pelanggaran diberi sanksi dan lingkungan menjadi lebih bersih.

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya sedang dipelajari anak dari hukuman tersebut?

Pendidikan tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan anak, tetapi juga tentang makna yang tertanam di kepalanya. Ketika membersihkan halaman atau toilet selalu diberikan kepada anak yang melakukan kesalahan, anak dapat membangun hubungan psikologis antara kebersihan dan hukuman.

Lambat laun bisa muncul pemahaman sederhana: bersih-bersih adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan harus dilakukan ketika seseorang berbuat salah. Kebersihan tidak lagi dipahami sebagai kebiasaan baik, melainkan sebagai konsekuensi yang harus dihindari.

Di sinilah sekolah perlu berhati-hati. Jangan sampai pendidikan disiplin justru menghasilkan pesan yang bertentangan dengan pendidikan karakter. Sekolah ingin membentuk anak yang peduli terhadap lingkungan, tetapi pada saat yang sama menjadikan pekerjaan menjaga lingkungan sebagai alat untuk menghukum.

Masalahnya semakin terasa ketika toilet dijadikan tempat hukuman. Toilet sekolah semestinya diperkenalkan kepada anak sebagai fasilitas bersama yang harus dijaga kebersihannya karena berkaitan dengan kesehatan dan kenyamanan. Tetapi apabila seorang siswa yang terlambat kemudian diperintahkan membersihkan toilet, hubungan yang terbentuk bisa berbeda.

Anak dapat melihat toilet sebagai tempat yang identik dengan hukuman. Membersihkan toilet dianggap sebagai pekerjaan bagi anak yang bermasalah. Pada titik tertentu, sekolah justru berisiko menanamkan anggapan bahwa pekerjaan kebersihan adalah pekerjaan rendah.

Padahal tidak ada yang rendah dari membersihkan sesuatu. Menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan toilet, atau memungut sampah merupakan pekerjaan yang sangat penting. Lingkungan sekolah tidak akan nyaman tanpa pekerjaan-pekerjaan tersebut.

Karena itu, yang perlu dikritisi bukan kegiatan membersihkannya, melainkan cara sekolah memberikan makna terhadap kegiatan tersebut.

Ada perbedaan besar antara anak yang membuang sampah sembarangan lalu diminta mengambil kembali sampahnya dengan anak yang terlambat masuk sekolah kemudian dihukum membersihkan toilet. Pada kasus pertama, terdapat hubungan langsung antara kesalahan dan konsekuensi.

Anak belajar bahwa ketika ia membuat lingkungan kotor, ia memiliki tanggung jawab untuk memperbaikinya. Itu merupakan pendidikan tanggung jawab yang masuk akal.

Sebaliknya, keterlambatan tidak memiliki hubungan langsung dengan kebersihan toilet. Jika anak terlambat lalu harus membersihkan toilet, anak lebih mungkin memahami kegiatan itu sebagai hukuman daripada sebagai pelajaran tentang kebersihan.

Sekolah sebenarnya dapat memisahkan dua hal tersebut. Kebersihan dijadikan budaya, sedangkan pelanggaran diberikan konsekuensi yang relevan dengan kesalahannya.

Jika sekolah ingin mengajarkan kebersihan, semua anak seharusnya memiliki pengalaman membersihkan lingkungan, bukan hanya mereka yang sedang dihukum. Ada jadwal kebersihan kelas, kerja bersama membersihkan lingkungan, kepedulian terhadap toilet, pengelolaan sampah, serta kebiasaan sederhana untuk mengambil sampah yang terlihat.

Bahkan akan jauh lebih kuat jika guru sesekali ikut menyapu halaman atau memungut sampah bersama siswa. Anak akan melihat bahwa menjaga kebersihan bukan pekerjaan yang diberikan kepada orang yang salah, melainkan tanggung jawab semua orang.

Di sinilah pendidikan karakter menemukan bentuknya yang sebenarnya. Karakter tidak selalu lahir dari ceramah panjang tentang disiplin dan tanggung jawab. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan dari contoh yang dilihat anak setiap hari.

Sekolah juga perlu bertanya apakah hukuman yang diberikan benar-benar menyelesaikan persoalan. Anak yang dihukum membersihkan toilet karena terlambat mungkin menjadi takut terlambat. Tetapi apakah ia menjadi lebih bertanggung jawab terhadap kebersihan? Belum tentu.

Jangan sampai sekolah hanya berhasil menciptakan anak yang berpikir, “Jangan sampai saya dihukum membersihkan sekolah,” bukan anak yang berpikir, “Kalau sekolah ini kotor, saya harus ikut membersihkannya.”

Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara pendidikan sangat besar. Yang pertama menghasilkan kepatuhan karena takut terhadap hukuman. Yang kedua menghasilkan kesadaran karena merasa memiliki tanggung jawab.

Maka, membersihkan sekolah seharusnya tidak diposisikan sebagai musuh anak. Ia harus menjadi bagian dari budaya sekolah yang normal, terhormat, dan dilakukan bersama.

Sekolah boleh memberi konsekuensi kepada siswa yang terlambat, melanggar aturan, atau melakukan kesalahan. Tetapi konsekuensi itu sebaiknya membantu anak memahami kesalahannya, bukan secara tidak sengaja mengajarkan bahwa pekerjaan kebersihan adalah sesuatu yang buruk.

Sebab pada akhirnya, pendidikan kebersihan bukan sekadar membuat halaman sekolah tampak bersih. Pendidikan kebersihan adalah membuat anak memiliki kesadaran bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan hukuman bagi mereka yang melakukan kesalahan.

Kalau anak tumbuh dengan keyakinan bahwa menyapu adalah hukuman, maka sekolah mungkin berhasil membuat lantainya bersih hari ini. Tetapi belum tentu berhasil membuat masyarakat yang bersih di masa depan.