DOA dalam acara resmi pemerintahan semestinya menjadi ruang untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan kebaikan bagi seluruh masyarakat. Namun, dalam praktiknya, doa terkadang bergeser menjadi semacam laporan keberhasilan pemerintah sekaligus pujian kepada pejabat yang hadir.
Di hadapan para pejabat, petugas doa menyebut berbagai capaian pembangunan. Keberhasilan pemerintah, program yang telah dijalankan, hingga prestasi daerah diselipkan dalam rangkaian doa. Pujian kepada pemimpin pun terdengar lebih menonjol daripada permohonan bagi rakyat.
Doa akhirnya terasa seperti sambutan dalam bentuk lain.
Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa doa memiliki orientasi yang jelas kepada Allah. Dalam QS Al-Baqarah ayat 186, Allah berfirman bahwa Dia dekat dan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya.
Karena itu, ketika doa dalam acara resmi lebih banyak berisi pujian terhadap pejabat dan laporan keberhasilan pemerintah, sementara penderitaan rakyat hanya mendapat sedikit ruang, patut muncul pertanyaan: apakah doa masih menjadi permohonan kepada Allah, atau telah bergeser menjadi seremoni untuk menyenangkan penguasa?
Di luar ruang acara, rakyat menghadapi persoalan yang jauh lebih nyata.
Ada warga yang kehilangan rumah akibat bencana. Ada keluarga yang sedang berduka. Ada petani yang menghadapi gagal panen, nelayan yang kesulitan melaut, pekerja yang kehilangan penghasilan, serta keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Mereka semestinya menjadi bagian penting dari doa.
Doa bukan forum untuk memberikan laporan pertanggungjawaban kepada pejabat. Apalagi menjadikannya sebagai ruang untuk mengagungkan kekuasaan.
Terlebih, QS An-Nisa ayat 58 mengingatkan agar amanah diberikan kepada yang berhak dan ketika menetapkan perkara dilakukan dengan adil. Ayat tersebut memberi dasar penting bahwa jabatan pada hakikatnya adalah amanah, bukan alasan bagi seseorang untuk dipuja.
Maka, doa untuk pemimpin seharusnya tidak berhenti pada pujian.
Petugas doa dapat memohon agar para pejabat diberi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, diberi kekuatan menjalankan amanah, dijauhkan dari kesewenang-wenangan, serta diberi keberanian membela kepentingan masyarakat.
Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi Muhammad SAW bahkan memberikan peringatan keras bagi orang yang mengurus urusan umat kemudian menyusahkan mereka. Sebaliknya, orang yang mengurus umat dengan penuh kasih sayang mendapatkan doa kebaikan.
Pesannya jelas: hubungan pemimpin dengan rakyat bukan hubungan untuk saling memuja, melainkan hubungan amanah dan tanggung jawab.
Karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin penting doa mengingatkan tentang tanggung jawabnya kepada masyarakat.
Doa semestinya menjadi ruang untuk mengetuk hati para pemegang kekuasaan. Mengingatkan bahwa di balik angka-angka pembangunan terdapat manusia. Di balik laporan keberhasilan terdapat warga yang mungkin masih kesulitan. Dan di balik sebuah jabatan terdapat amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Doa yang baik tidak perlu memuja manusia.
Ia cukup memohon agar pemimpin diberi petunjuk, pejabat diberi keadilan, keputusan pemerintah membawa kemaslahatan, serta rakyat yang sedang tertimpa musibah diberi keselamatan dan pertolongan.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan seberapa sering keberhasilannya disebut dalam doa.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh rakyat merasakan keberhasilan itu dalam kehidupan mereka.
Di tengah bencana, kemiskinan, kehilangan pekerjaan dan berbagai persoalan sosial, doa semestinya kembali kepada hakikatnya: memohon pertolongan Tuhan bagi manusia, bukan menjadi panggung untuk mengagungkan penguasa.
