Oleh: Wiwik Jumatul Rofi’ah*
Setiap bulan Agustus, suasana kemerdekaan terasa di mana-mana. Bendera Merah Putih berkibar, berbagai perlombaan digelar, lagu-lagu perjuangan kembali terdengar, dan kerupuk pun ikut menjadi bagian dari kemeriahan.
Kerupuk mungkin sederhana. Harganya murah, bentuknya biasa, tetapi ketika digoreng ia mengembang menjadi besar. Dari sinilah kita bisa mengambil sebuah perumpamaan tentang kemerdekaan.
Jangan sampai kemerdekaan kita seperti kerupuk: terlihat besar, tetapi ketika ditelusuri isinya kosong.
Sudah 81 tahun Indonesia merdeka. Kita patut bersyukur atas perjuangan para pahlawan yang merebut kemerdekaan dengan darah dan pengorbanan. Namun kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik. Kemerdekaan juga berarti terbebas dari kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, ketimpangan, korupsi, dan berbagai bentuk ketidakberdayaan.
Di sinilah “kerupuk kemerdekaan” menjadi sindiran yang menarik.
Jangan sampai kita terlalu sibuk merayakan kemerdekaan secara seremonial, tetapi lupa menghadirkan kemerdekaan dalam kehidupan rakyat.
Apa arti kemerdekaan jika masih ada anak yang putus sekolah karena biaya?
Apa arti kemerdekaan jika keluarga masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok?
Apa arti kemerdekaan jika petani dan nelayan belum mendapatkan kesejahteraan yang layak?
Apa arti kemerdekaan jika masyarakat di daerah yang kaya sumber daya alam justru belum merasakan manfaat yang sepadan?
Dan apa arti kemerdekaan jika hukum terasa tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat?
Kemerdekaan seharusnya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berada di pusat kekuasaan dan pusat pertumbuhan ekonomi. Kemerdekaan harus sampai ke meja makan keluarga Indonesia.
Kerupuk juga mengajarkan satu hal: jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya. Kerupuk yang besar belum tentu mengenyangkan. Demikian pula pembangunan yang terlihat megah belum tentu menunjukkan kesejahteraan rakyat.
Gedung boleh tinggi, jalan boleh lebar, investasi boleh besar, tetapi ukuran keberhasilan pembangunan pada akhirnya adalah seberapa jauh kehidupan rakyat menjadi lebih baik.
Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI seharusnya tidak berhenti pada lomba, upacara, baliho, dan seremoni. Semua itu penting sebagai simbol penghormatan kepada sejarah.
Tetapi jauh lebih penting adalah memastikan bahwa kemerdekaan benar-benar hadir dalam bentuk pendidikan yang berkualitas, kesehatan yang terjangkau, lapangan kerja, ekonomi keluarga yang kuat, pangan yang aman, lingkungan yang terjaga, serta pemerintahan yang bersih dan berpihak kepada rakyat.
Kerupuk boleh renyah, tetapi kemerdekaan jangan sampai hanya menjadi “renyah” dalam pidato.
Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan nyata.
Dari rumah ke rumah.
Dari desa ke kota.
Dari pusat sampai daerah.
Dari anak-anak hingga orang tua.
Sebab para pahlawan dahulu tidak berjuang agar kita sekadar bisa mengibarkan bendera.
Mereka berjuang agar anak cucunya dapat hidup merdeka, bermartabat, adil dan sejahtera.
Maka tahun ini, ketika kita menikmati kerupuk kemerdekaan, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah Indonesia kita sudah benar-benar merdeka, atau baru sekadar terlihat merdeka?”
Kerupuknya boleh mengembang.
Tetapi kemerdekaan harus benar-benar mengenyangkan rakyat.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka bukan sekadar perayaan.
Merdeka adalah ketika rakyat merasakan keadilan, kesejahteraan, dan martabat.
*Ketua Fraksi PKS DPRD Sulteng
