PALU, MAL – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbarui data warga terdampak gempa bumi magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026. Hingga Rabu, 17 Juni 2026, total 5.784 jiwa dilaporkan terdampak, diikuti oleh kerusakan ratusan bangunan, puluhan korban luka, dan satu korban jiwa yang terverifikasi akibat guncangan Gempa Sulawesi Tengah yang memicu gempa susulan serta longsor.
Peristiwa Gempa Sulawesi Tengah ini tersebar di lima wilayah yaitu Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso.
Gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 6,7 tersebut memicu dampak signifikan seperti kerusakan bangunan dan tanah longsor di beberapa titik.
Meskipun begitu, pemodelan awal oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan bahwa Gempa Sulawesi Tengah ini tidak berpotensi tsunami, memberikan kelegaan di tengah kepanikan warga.
Dinamika data korban terus berkembang seiring proses verifikasi lapangan yang dilakukan oleh petugas gabungan. Laporan awal dari Basarnas mencatat 8 orang terluka di Kabupaten Sigi, namun angka ini kemudian diperbarui oleh BNPB menjadi sedikitnya 73 orang mengalami luka ringan dan 3 orang cedera berat.
Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia tercatat tetap satu orang berdasarkan data pembaruan yang berhasil diverifikasi pasca Gempa Sulawesi Tengah.
Perbedaan angka yang muncul ke publik dari waktu ke waktu ini murni merepresentasikan dinamika pencatatan dan pergerakan data dari hasil pencocokan fakta di lapangan. Informasi ini penting untuk memahami kompleksitas penanganan darurat pasca Gempa Sulawesi Tengah.
Secara administratif, dampak Gempa Sulawesi Tengah ini telah tersebar ke empat kabupaten dan satu kota, mencakup total 10 kecamatan serta 33 desa. Kabupaten Sigi menjadi daerah yang mengalami dampak paling parah dan kerusakan paling masif, dengan sebaran dampak yang melingkupi tujuh kecamatan dan 30 desa di wilayahnya.
Wilayah lain seperti Kota Palu, Parigi Moutong, Donggala, dan Poso juga dilaporkan terdampak dengan skala kerusakan bangunan rumah warga dan fasilitas publik yang bervariasi akibat guncangan Gempa Sulawesi Tengah.
Guncangan Gempa Sulawesi Tengah ini berakibat buruk pada sektor permukiman penduduk serta fasilitas publik. Rekapitulasi data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah mencatat sedikitnya 847 unit rumah warga beserta berbagai gedung bangunan yang mengalami kerusakan.
Di Kabupaten Sigi, tingkat kerusakan rumah mencapai sekitar 800 unit, dengan rincian 720 unit rusak ringan, 68 unit rusak sedang, dan 12 unit rusak berat. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya Gempa Sulawesi Tengah di wilayah tersebut.
Kabupaten Parigi Moutong juga tercatat mengalami dampak, dengan sedikitnya 15 unit rumah warga yang mengalami kerusakan fisik akibat guncangan Gempa Sulawesi Tengah.
Dampak kerusakan sektoral lainnya meliputi empat fasilitas ibadah, empat fasilitas umum, dua unit gedung perkantoran, dan satu tempat usaha milik masyarakat.
Fasilitas pendidikan dan beberapa kantor layanan publik di daerah terdampak juga turut mengalami kerusakan akibat Gempa Sulawesi Tengah.
Akses transportasi turut terganggu, dengan satu ruas jalan provinsi penghubung Palu–Sigi–Poso dilaporkan amblas. Selain itu, dua jembatan mengalami dampak kerusakan, termasuk adanya keretakan fisik yang ditemukan pada Jembatan III Palu setelah Gempa Sulawesi Tengah.
Guncangan Gempa Sulawesi Tengah juga memicu terjadinya bencana longsor di kawasan pegunungan Gunung Kamarora, Kabupaten Sigi. Material longsoran ini berakibat langsung pada terputusnya jaringan dan saluran air bersih di wilayah sekitarnya, menambah daftar dampak Gempa Sulawesi Tengah.
Aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah tidak langsung berhenti setelah gempa utama; jumlah gempa susulan terus diperbarui.
Awalnya BPBD Sulawesi Tengah mendeteksi 42 kali gempa susulan, namun akumulasi aktivitas Gempa Sulawesi Tengah telah berkembang pesat hingga mencapai total 466 kali kejadian.
Fluktuasi data ini terjadi akibat adanya perbedaan waktu batas penarikan data (cut-off data) di stasiun pemantauan, menunjukkan tantangan dalam memantau Gempa Sulawesi Tengah secara real-time.
Di tengah situasi darurat dan penanganan dampak pascagempa, stabilitas pelayanan publik di pusat kota relatif terjaga. Sejumlah fasilitas infrastruktur vital strategis, seperti rumah sakit daerah dan sarana transportasi udara di Bandara Sis Al Jufri Palu, dikonfirmasi aman dan tetap beroperasi normal guna mendukung jalannya logistik kemanusiaan pasca Gempa Sulawesi Tengah.
Untuk memberikan kepastian data di masyarakat, Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, menyatakan, “Ada empat kabupaten, satu kota, total 10 kecamatan dan 33 desa terdampak.”
Andi Sembiring, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sulawesi Tengah, menambahkan, “Iya BPBD mencatat ada 847 rumah warga dan berbagai gedung bangunan yang terdampak gempa kemarin.”
Keterangan dari pejabat terkait penyelenggaraan fasilitas publik memastikan, “Fasilitas umum Rumah Sakit dan Bandara Sis Al Jufri terpantau dalam keadaan aman dan operasional seperti biasa.”

