POSO, MAL – Pondok Pesantren Baabul Khair Poso terus memperkuat kualitas pendidikan melalui Workshop Integrasi Keilmuan. Kegiatan ini diikuti seluruh dewan guru sebagai upaya nyata dalam menghadirkan pembelajaran yang memadukan ilmu pengetahuan umum, nilai-nilai keislaman, serta kearifan budaya lokal, demi mencapai tujuan integrasi keilmuan pesantren yang komprehensif.
Workshop yang difokuskan pada peningkatan kapasitas asaatidz dan asaatidzah ini berlangsung pada Selasa (16/6). Tujuannya agar para pendidik mampu menghadirkan metode pembelajaran yang terpadu, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman, tanpa sedikit pun mengabaikan identitas keislaman dan kearifan daerah yang melekat erat di lingkungan pondok pesantren.
Pimpinan Pondok Pesantren Baabul Khair, Dr. Makmur, S.Pd.I., M.Pd., C.IQA-Ed, menegaskan bahwa integrasi keilmuan pesantren merupakan bagian tak terpisahkan dari implementasi program Kementerian Agama Republik Indonesia. Program ini secara khusus dirancang untuk memperkuat pendidikan karakter di seluruh lingkungan pesantren.
“Kami ingin seluruh guru memiliki persepsi yang sama bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya harus terintegrasi dalam setiap proses pembelajaran agar mampu membentuk santri yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” kata Dr. Makmur, Pimpinan Pondok Pesantren Baabul Khair, Selasa (16/6).
Menurut Dr. Makmur, mata pelajaran umum sangat perlu diperkuat dengan nilai-nilai yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis yang relevan. Sebaliknya, pembelajaran keagamaan juga harus terus dikembangkan secara lebih kontekstual, dengan mengaitkannya pada perkembangan ilmu pengetahuan, dinamika kehidupan sosial, serta kebutuhan peserta didik di era modern saat ini. Hal ini penting untuk menciptakan integrasi keilmuan pesantren yang seimbang.
Workshop ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik dan spiritual, tetapi juga menjadi ruang penting untuk penguatan nilai-nilai luhur Sintuwu Maroso. Sintuwu Maroso adalah filosofi hidup masyarakat Poso yang menekankan kebersamaan, persaudaraan, toleransi, dan semangat hidup damai, yang diharapkan akan tumbuh kuat dalam setiap budaya pesantren.
Dalam kegiatan ini, para guru dibekali dengan kemampuan menyusun perangkat pembelajaran yang memang berbasis pada integrasi keilmuan. Mulai dari perencanaan tujuan belajar, pengembangan materi, penentuan metode pengajaran, hingga sistem evaluasi yang mampu menghubungkan aspek intelektual, spiritual, dan sosial dari setiap peserta didik.
Dr. Makmur berharap agar konsep integrasi keilmuan pesantren yang memadukan ilmu, agama, dan budaya lokal ini tidak berhenti pada kegiatan workshop semata. Ia ingin konsep tersebut menjadi budaya pendidikan yang melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari seluruh civitas akademika pesantren.
“Kami ingin menjadikan Ponpes Baabul Khair sebagai pusat pendidikan yang secara harmonis memadukan tahfizh Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, akhlak, dan kearifan lokal sebagai bekal utama santri dalam menapaki kehidupan bermasyarakat,” pungkas Dr. Makmur.

