JAKARTA, MAL – Nilai tukar Rupiah menguat signifikan ke level Rp17.905 per Dolar Amerika Serikat (USD) pada Rabu, 10 Juni 2026. Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-Rate menjadi 5,50 persen, disambut positif oleh pasar valuta asing global.
Kenaikan nilai tukar ini mencerminkan Rupiah menguat sekitar 0,85% atau 153–154 poin dari level sebelumnya Rp18.058 per dolar AS. Berdasarkan data Kurs Transaksi Bank Indonesia pada hari yang sama, Kurs Jual tercatat Rp18.231,71 dan Kurs Beli di level Rp18.050,29 per dolar AS.
Kenaikan suku bunga acuan tersebut diputuskan melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang dipercepat pada Selasa, 9 Juni 2026. Keputusan ini secara resmi dikonfirmasi melalui siaran pers dari Bank Indonesia, menegaskan komitmen mereka dalam menjaga stabilitas moneter.
“Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25 persen,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa peningkatan BI Rate dilakukan sebagai langkah untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah yang sedang tertekan akibat ketidakpastian global, khususnya dari konflik di Timur Tengah. Depresiasi tersebut dinilai telah melampaui proyeksi awal bank sentral.
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia ini, 9 Juni 2026, memutuskan untuk kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen,” ujarnya dalam pernyataan tertulisnya pada hari Selasa tersebut.
Kebijakan teranyar ini menggenapi total kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin sejak Mei 2026. Bank Indonesia terlebih dahulu menaikkan suku bunga 50 bps pada RDG Bulanan 19–20 Mei 2026, diikuti kenaikan 25 bps pada RDG Mingguan 9 Juni 2026.
Langkah ini merupakan bagian dari lima jurus kebijakan moneter serta pengaplikasian empat paket operasi moneter yang diterapkan BI demi memperkuat stabilisasi nilai tukar dan menjaga ketahanan pasar keuangan Indonesia. Ini menunjukkan strategi komprehensif dari Bank Indonesia.
Jika menilik data historis sehari sebelumnya, pada Selasa, 9 Juni 2026, Rupiah sebenarnya sudah ditutup menguat 170 poin (0,94%) di level Rp18.000 per dolar AS. Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI mencatat Rupiah berada di level Rp18.033 per dolar AS, juga menunjukkan penguatan.
Kendati performa hari ini menunjukkan Rupiah menguat dan mencatatkan perubahan bulanan +2,90% serta tahunan +10,30%, dinamika ini terjadi setelah Rupiah sempat menyentuh level terburuk sepanjang masa pada Mei 2026 di Rp17.925/US$ pada sesi I pukul 12.00 WIB.
Berdasarkan data yang dihimpun institusi keuangan, pergerakan Rupiah pada Rabu, 10 Juni 2026 hingga pukul 09.04 WIB di pasar spot harian Indonesia terpantau bergerak positif. Untuk sisa hari ini, perdagangan Rupiah diprediksi akan berada di kisaran Rp18.050 – Rp18.100 per dolar AS dengan kecenderungan melemah fluktuatif.
Kendati demikian, dalam prognosis jangka pendek, intervensi agresif dari Bank Indonesia ini diproyeksikan mampu menjaga nilai tukar Rupiah agar tetap bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.200 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Kebijakan ini diharapkan menjaga stabilitas mata uang. ***

