Kini kita telah berada di 10 hari terakhir Ramadhan, bahkan tinggal beberapa hari lagi kita dibersamai oleh bulan mulia ini.
Jika diibaratkan pertandingan sepakbola, maka menit-menit akhir (injury time) merupakan paling menentukan dan menegangkan. Seluruh pemain akan mengeluarkan segenap kemampuannya guna mencetak gol, agar timnya menang atau menyelamatkan timnya dari kekalahan.
Hal tersebut agak sama dengan kondisi akhir Ramadhan. Saat memasuki 10 hari terakhir Rasulullah SAW lebih bersemangat dalam menunaikan berbagai macam ibadah dibandingkan hari-hari lainnya. (HR Muslim).
Dalam hadis lain disebutkan, bila memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, Nabi SAW menyingsingkan lengan baju, menghidupkan seluruh malamnya, dan membangunkan keluarganya. (HR Bukhari)
Rasulullah SAW menghidupkan seluruh malamnya dengan qiyam, tilawatul Quran, zikir dengan hati, lisan, dan anggota badan karena mulianya malam-malam ini dan untuk menanti Lailatul Qadar.
Amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah pada malam-malam 10 terakhir adalah pertama, menghidupkan malam-malamnya untuk beribadah, shalat, zikir, dan lain-lain.
Dalam riwayat an-Nasa’i dari Siti Aisyah ia berkata, “Aku tidak melihat Rasulullah SAW membaca Alquran atau shalat sepanjang malam sampai pagi selain bulan Ramadhan.”
Rasulullah senantiasa beriktikaf di 10 hari terakhir sampai beliau wafat. (HR Bukhari dan Muslim).
Beliau beriktikaf untuk menggapai Lailatul Qadar, tekun secara total untuk menghidupkan malam-malamnya dalam munajat, zikir, dan berdoa. Beliau mengkhususkan tikar yang agak jauh dari yang lain agar lebih khusyuk.
Amalan penting lainnya adalah tilawatul Quran dengan tadabur dan khusyuk. Beliau mengkhatamkan Alquran minimal dua kali pada bulan Ramadhan.
Apa yang dicontohkah Rasulullah SAW bisa kita terapkan apabila sunguh-sungguh untuk meraih ridha-Nya, yakni memperbanyak berdoa guna mendapatkan kesempatan menikmati Lailatur Qadar.
Rasulullah, dalam riwayat Ibnu Majah dari Anas bin Malik, bahkan menjadikan Lailatul Qadar sebagai barometer kesuksesan seseorang. Bila berhasil menggapai malam itu, ia sukses di bulan-bulan lainnya. Demikian juga sebaliknya. Jika terhalang, cacatlah hari-hari di luar Ramadhan.
Melihat dari begitu banyaknya keistimewaan di hari-hari terakhir Ramadhan, rasanya rugi sekali apabila kita melewatkannya. Bagi yang sudah tekun beribadah dari awal Ramadhan, semoga bisa terus lebih tekun dan tambah khusyu’ hingga finish nanti. Bagi yang masih setengah-setengah mulailah tancap gas.
Bagi yang belum sama sekali, yuk mulai dengan apa yang kalian bisa. Yang terpenting mulailah dengan niat, bismillah.
Di akhir Ramadhan ini, ketika hari kemenangan itu tiba, akan terlihat hasilnya. Ada yang menjadi lulusan terbaik Ramadhan dan ada yang sekedar lulus Ramadhan. Para lulusan ini akan menampilkan wajah yang berbeda pada 11 bulan berikutnya. Wallahu a’lam
DARLIS MUHAMMAD (REDAKTUR SENIOR MEDIA ALKHAIRAAT)

