PALU – PT Citra Palu Minerals (CPM) memastikan bahwa seluruh aktivitas pertambangan yang dilakukan di Kelurahan Poboya, telah mempertimbangkan berbagai aspek secara optimal.
“Semua faktor berpotensi menyebabkan kegagalan operasional, namun semua itu diupayakan untuk diakomodasi sebaik mungkin,” kata Kepala Teknik Tambang (KT) PT CPM, Yan Adriansyah, saat silaturahmi buka puasa bersama insan pers, di Palu, Jumat (13/03).
Sebagai contoh, kata dia, analisis mengenai pengaruh terhadap infrastruktur, tambang bawah tanah, bangunan, dan fasilitas lainnya, seluruh faktor dimasukkan sebagai parameter.
Pada klasifikasi kegempaan, ia mengilustrasikan bahwa sebelumnya percepatan gempa sekitar 0,2, namun usai gempa 2018, pemerintah melalui kementerian terkait bersama DPR menaikan standar menjadi 0,3.
“Kenaikan standar, tentu berdampak pada biaya konstruksi, sebab kebutuhan struktur lebih kuat,” ujarnya.
Terkait operasional, lanjut Yan, saat ini CPM masih beroperasi dengan kapasitas produksi sekitar 4500 ton, dan rencananya akan ditingkatkan menjadi 6000.
Saat ini kata dia, proses perizinan sedang berjalan, dari aspek kajian lingkungan dan Amdal dokumen telah diajukan ke kementerian terkait.
“Proses pembangunan pabrik baru masih berlangsung, diperkirakan selesai Juli atau Agustus, namun operasional tetap menunggu seluruh izin resmi diterbitkan,” katanya.
Dia menambahkan, secara keseluruhan PT CPM berupaya memastikan seluruh kegiatan operasional, baik yang sedang berjalan maupun rencana pengembangan ke depan, telah dimasukkan dalam revisi dokumen perizinan baru, termasuk pengelolaan lahan, pengembangan kapasitas produksi dan aspek lingkungan.
“Harapannya, perusahaan dapat semakin patuh terhadap seluruh peraturan yang berlaku,” tutupnya.

