LUWU TIMUR – Keseruan ratusan pelajar yang sedang mengikuti sosialisasi berkendara dengan aman dan pelatihan pertolongan pertama, Kamis (12/02), tiba-tiba berubah menjadi ketegangan ketika dari arah pintu, muncul sekelompok orang yang menamakan diri Aliansi Petani Loeha Raya (APL), berteriak untuk membubarkan kegiatan.
Sedianya, kegiatan yang dilaksakan PT Vale Indonesia Tbk dalam rangka Bulan K3 Nasional di Desa Tokalimbo ini bertujuan mengedukasi pelajar di Loeha Raya agar bisa memahami pentingnya memerhatikan keselamatan dalam berkendara, serta cara pertolongan pertama pada kecelakaan.
Saat itu, para siswa sedang fokus menyimak materi kedua yaitu pertolongan pertama. Tampak juga guru, aparat desa dan tenaga kesehatan puskesmas yang ikut bersiap mendengarkan materi.
Kegiatan diawali penyampaian maksud dan tujuan kegiatan oleh Manager Health Safety Environment and Risk (HSER) Sorowako Growth PT Vale Indonesia (PT Vale), Murianti.
Muri, sapaan akrabnya menyapa para siswa yang hadir. Bercerita tentang tujuan kegiatan dilakukan agar mereka mendapatkan pengetahuan safety riding sebagai bagian kampanye keselamatan yang dijalankan perusahaan selama ini.
Materi ini sangat ditunggu, apalagi di awal sudah diberi info akan ada praktik langsung teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP), penanganan patah tulang, penanganan luka dan pendarahan, juga teknik penanganan korban yang pingsan.
Bahkan ketika akan masuk ruangan, para siswa sudah penasaran melihat manekin praktik yang dipajang dan beberapa alat balut luka yang tersusun rapi.
Namun keceriaan di wajah para siswa ini berubah menjadi ketakutan, ketika microphone yang sedang dipegang pemateri direbut.
Wajah-wajah penuh semangat belajar berubah jadi muram, namun mereka tapi tak mampu bicara karena takut.
Sekelompok orang yang masuk tidak peduli. Sikap arogansi disaksikan ratusan anak-anak di bawah umur.
“Kau komunis! PKI! Kehadiranmu menganggu masyarakat karena mau melakukan provokasi,” hardik perwakilan kelompok tersebut.
Bahkan dengan lantangnya, seorang pria berpakaian hijau memakai topi hitam memprovokasi agar peserta yang hadir di lokasi menyerang penyelenggara kegiatan, PT Vale.
“Siapa kepala sekolahnya ini? Adik-adik harus tahu PT Vale merusak tanah orang tuamu. Saya tidak mau bertanggungjawab kalau ada kejadian,” ungkapnya.
Mendengar ini, para siswa terlihat ketakutan bahkan menangis mendengar sahutan kebencian. Dalam sekejap, ruang belajar disulap jadi ajang demonstrasi.
Di tengah kekacauan, tim PT Vale berusaha menerima massa dengan baik dan menjelaskan tujuan kegiatan murni untuk berbagi edukasi karena keselamatan adalah yang terpenting. Tapi, massa terus berteriak “Bubarkan kegiatan!”
Siswa-siswi diminta berdiri dan keluar ruangan meninggalkan kegiatan juga manekin yang masih terbaring.
Salah seorang peserta yang tidak disebutkan namanya, mengaku kaget dan trauma atas kejadian tersebut.
“Saya takut, tiba-tiba masuk berteriak padahal kami hanya mau ikut sosilaisasi safety riding. Kami kasian sama PT Vale karena kegiatannya dihentikan dan disuruh pulang,” ucapnya.
Saking takutnya, mereka kembali di sekolah dan lanjut menangis.
“Orangtua tidak melarang ikut kegiatan PT Vale, malahan didukung. Setelah kegiatan berpapasan dengan kelompok orang yang sdh buat kericuhan, makin takut karena diliat-liati ki’ sama temannya,” ungkapnya.
Peserta lainnya menyampaikan terima kasih atas ilmu yang diberikan, karena menjadi ilmu baru dalam berkendara dengan aman dan selamat.
“Saya sangat senang bisa ikut, namun karena ada kejadian sehingga semua materi tidak bisa kami ikuti,” ungkapnya. ***

