MOROWALI, MAL – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) mengapresiasi pembangunan proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi di Kabupaten Morowali yang dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi nikel nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny Arniwaty Lamadjido, menyampaikan apresiasi tersebut saat menghadiri kedatangan autoclave, peralatan utama proyek HPAL di Sambalagi, Bungku Pesisir, Morowali, Rabu (22/7).

Menurut Reny, pengembangan kawasan industri tidak hanya harus berorientasi pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi juga perlu menghadirkan manfaat nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di sekitar kawasan industri.

Ia menilai, keberadaan proyek HPAL Sambalagi menjadi peluang besar untuk memperkuat perekonomian daerah melalui peningkatan nilai tambah sumber daya mineral, pembukaan lapangan kerja, serta tumbuhnya sektor usaha masyarakat.

“Kami mengapresiasi komitmen PT Vale dan para mitra yang tidak hanya membangun kawasan industri, tetapi juga memberikan ruang bagi UMKM lokal untuk berkembang serta membuka akses bagi masyarakat terhadap berbagai fasilitas yang telah dibangun,” ujar Reny.

Menurutnya, pola pembangunan industri seperti itu menjadi harapan pemerintah daerah, di mana pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

“Pendekatan seperti inilah yang kami harapkan, di mana pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” tambahnya.

Proyek HPAL Sambalagi dikembangkan oleh PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI), perusahaan patungan antara PT Vale Indonesia Tbk bersama mitra strategis GEM Co. Ltd. dan EcoPro. Proyek tersebut merupakan bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Kedatangan autoclave menjadi salah satu tahapan penting dalam pembangunan fasilitas pengolahan nikel berbasis teknologi hidrometalurgi tersebut. Peralatan ini berfungsi sebagai inti proses HPAL untuk mengolah bijih nikel limonit menggunakan kombinasi tekanan tinggi, temperatur tinggi, dan asam sulfat guna menghasilkan produk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku industri baterai kendaraan listrik.

Fasilitas HPAL Sambalagi dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 90 ribu ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk MHP, dengan pasokan bahan baku sekitar 10,4 juta ton bijih limonit per tahun dari wilayah tambang PT Vale di Blok Bahodopi.

Selain meningkatkan nilai tambah mineral, proyek tersebut juga mengusung konsep industri rendah karbon melalui penerapan berbagai solusi energi bersih, termasuk pemanfaatan Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) serta rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, sebelumnya menyampaikan bahwa HPAL Sambalagi menjadi contoh pembangunan industri yang tidak hanya mengejar nilai ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dan manfaat sosial.

Sementara itu, Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf menyambut baik perkembangan proyek HPAL Sambalagi yang dinilai menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurutnya, investasi tersebut akan membuka peluang kerja, menggerakkan sektor usaha lokal, serta memberikan efek berganda bagi pembangunan Kabupaten Morowali.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berharap pengembangan kawasan industri di Morowali terus dilakukan secara inklusif dengan melibatkan masyarakat sekitar, sehingga hilirisasi mineral tidak hanya meningkatkan daya saing industri nasional, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat daerah.

Dengan pembangunan HPAL Sambalagi, Morowali semakin memperkuat perannya sebagai salah satu pusat hilirisasi nikel strategis Indonesia sekaligus bagian penting dalam rantai pasok global industri baterai kendaraan listrik. *