SARANGANI, MAL – Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,8 dan tsunami dahsyat melanda lepas pantai Provinsi Sarangani, Filipina Selatan, pada Senin, 8 Juni 2026. Bencana ini telah menewaskan 32 orang, melukai lebih dari 200 jiwa, dan meninggalkan 12 warga lainnya dalam pencarian, menimbulkan kerusakan luas di sejumlah wilayah Mindanao.
Gempa yang terjadi pada pukul 07.37 waktu Filipina atau 06.37 WIB tersebut berpusat di lepas pantai Maasim, Sarangani, pada kedalaman 33 kilometer. Guncangan kuat juga memicu tsunami dengan ketinggian tertinggi mencapai 1,48 meter di Kota Kiamba, Sarangani, menambah dampak mengerikan dari gempa dan tsunami Filipina ini.
Data awal menunjukkan korban jiwa tersebar di beberapa wilayah terdampak. Direktur Kantor Pertahanan Sipil Regional, Rodrigo Sosmena, mengungkapkan bahwa sedikitnya 12 korban tewas telah teridentifikasi pada tahap awal penanganan bencana.
“Sebanyak 12 korban meninggal terdiri atas tiga orang di Provinsi Sarangani dan sembilan orang di South Cotabato, termasuk tujuh korban di Kota General Santos yang berpenduduk sekitar 700 ribu jiwa,” kata Rodrigo Sosmena.
Laporan terkini menyebutkan bahwa sebagian besar korban meninggal disebabkan runtuhnya bangunan saat guncangan gempa. Selain itu, tanah longsor yang dipicu kuatnya guncangan juga menewaskan 13 warga desa di wilayah terdampak gempa dan tsunami Filipina.
Kota General Santos menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling berat akibat gempa dan tsunami Filipina ini. Sejumlah korban dilaporkan tertimpa reruntuhan bangunan, sementara fasilitas umum seperti rumah sakit dan sekolah mengalami kerusakan signifikan.
Pemerintah Filipina melalui Office of Civil Defense (OCD) terus melakukan validasi data korban di berbagai wilayah, termasuk Sarangani, South Cotabato, Davao Occidental, dan sejumlah daerah lain di Mindanao.
Wakil Juru Bicara OCD, Diego Mariano, mengatakan pihaknya masih memantau empat wilayah utama yang terdampak paling serius akibat guncangan.
“Mariano mengonfirmasi bahwa wilayah Soccsksargen (Region 12), Davao (Region 11), Semenanjung Zamboanga (Region 9), dan Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) yang paling terdampak terus dipantau terkait kemungkinan adanya korban, meskipun hingga saat itu belum tersedia data korban yang telah terverifikasi,” kata Diego Mariano.
Mariano juga mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru kembali ke bangunan yang mengalami kerusakan karena ancaman gempa susulan masih mungkin terjadi.
“Masyarakat diimbau untuk tidak kembali memasuki rumah maupun bangunan lainnya, terutama yang menunjukkan tanda-tanda kerusakan, termasuk bangunan bertingkat tinggi, karena masih terdapat ancaman gempa susulan,” tegas Diego Mariano.
Pasca-bencana, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan respons darurat dan asesmen kerusakan secara menyeluruh. Menteri Pertahanan Gilberto Teodoro Jr. bersama pejabat OCD diterjunkan ke wilayah terdampak untuk mempercepat penanganan korban dan distribusi bantuan.
“Saat ini, atas arahan Presiden Bongbong Marcos dan Menteri Teodoro, para pejabat DND dan OCD sedang menuju lokasi untuk menilai tingkat kerusakan serta melaksanakan operasi tanggap darurat secepatnya,” kata Diego Mariano.
Sementara itu, peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan oleh Philippine Institute of Volcanology and Seismology (PHIVOLCS) telah dicabut sekitar dua jam setelah gempa. Hasil pengamatan menunjukkan gelombang tsunami yang terjadi hanya menimbulkan gangguan permukaan laut berskala kecil, meskipun tetap berdampak pada sejumlah kawasan pesisir yang merasakan dampak gempa dan tsunami Filipina.
Proses pencarian terhadap 12 warga yang masih hilang terus dilakukan oleh tim penyelamat. Pemerintah Filipina menyatakan jumlah korban masih dapat berubah seiring berlangsungnya proses verifikasi di lapangan pasca gempa dan tsunami Filipina. ***

