PALU, MAL – Wilayah Palu dan sekitarnya masih diguncang aktivitas kegempaan yang tinggi setelah gempa bumi tektonik Magnitudo 6,7 pada Selasa 16/06 pukul 11.27 WITA, memicu hingga 177 gempa susulan Palu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 70 di antaranya dirasakan masyarakat, menimbulkan kepanikan dan sejumlah kerusakan bangunan.
Guncangan kuat pada siang hari itu sempat membuat warga berhamburan keluar rumah dan gedung untuk menyelamatkan diri.
Laporan awal menunjukkan beberapa bangunan di daerah terdampak mengalami kerusakan akibat guncangan tersebut.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, menjelaskan hasil analisis mekanisme sumber gempa ini.
Pergerakan turun atau normal fault menjadi karakteristik utama dari gempa yang terjadi di Palu ini.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault). Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” kata Djati Cipto Kuncoro.
BMKG menegaskan bahwa gempa Magnitudo 6,7 ini bukan berasal dari aktivitas Sesar Palu-Koro, melainkan dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu.
Analisis lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya kembali menguatkan bahwa ini adalah gempa dangkal dari sesar aktif dengan mekanisme sesar turun.
Sesar Sausu merupakan salah satu sesar aktif di Sulawesi Tengah yang berada di kawasan selatan Lembah Palu.
Sesar ini menjadi bagian dari sistem tektonik kompleks yang membentuk aktivitas kegempaan di wilayah tengah Pulau Sulawesi, berbeda dengan Sesar Palu-Koro yang dikenal sebagai sesar geser mendatar.
Sulawesi Tengah memang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia, juga memiliki Sesar Palu-Koro yang membentang dari Teluk Palu hingga Teluk Bone.
Namun, BMKG kembali menekankan bahwa guncangan M6,7 pada 16/06 tidak terkait Sesar Palu-Koro, melainkan murni dari Sesar Sausu, yang menghasilkan gempa susulan Palu yang signifikan.
BMKG juga mengingatkan bahwa teknologi belum mampu memprediksi gempa bumi secara pasti. Namun, gempa besar seperti yang terjadi di Palu ini umumnya akan diikuti oleh serangkaian gempa susulan Palu yang dapat berlangsung selama beberapa hari ke depan.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi tidak terverifikasi.
Penting untuk selalu mengikuti perkembangan informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG dan instansi terkait lainnya mengenai gempa susulan Palu ini.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, namun tidak perlu panik. Pastikan memperoleh informasi hanya dari sumber resmi dan terpercaya,” kata Djati Cipto Kuncoro, mengakhiri pernyataannya.

