Ini Langkah Konkret Lawan AS dan Israel Menurut Habib Saggaf

oleh
Habib Saggaf bin Muhammad Aljufri

PALU – Ketua Utama Alkhairaat HS Saggaf bin Muhammad Aldjufri, tegaskan perlu ada tindakan konkret terkait pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyatakan,  Yarusalem sebagai Ibu Kota Israel. Tindakan yang dimaskud Habib adalah, memboikot seluruh produk AS dan Israel. Termasuk mengajak Negara Negara Islam mulai memutus hubungan ekonomi kepada dua Negara tersebut.

“Dan tentunya tidak hanya cukup mengutuk saja, perlu adanya tindakan yang positif, kongkrit di lapangan. Salah satunya, kalau itu memang bisa dilaksanakan oleh Negara Negara Islam, memutuskan seluruh hubungan, paling kurang hubungan ekonomi, dengan Negara Amerika dan sekutunya. Yang paling nomor satu dalah Israel!” imbau Ketua Utama Alkhairaat, saat menyapaikan tausyiah di Masjid Alkhairaat, Kamis (14/12) malam.

Habib mengajak umat Islam, sadar tak lagi mengunakan produk Zionis Yahudi. Selain itu, Habib mengingatkan jangan lagi berbangga saat mengunakan produk tersebut, sebab itu sama saja membantu perjuangan Yahudi.

Habib menambahkan, masih banyak pilihan produk yang lain dijual. Untuk itu, Habib meningtakan kepada jamaah yang hadir, untuk saling mengajak untuk tidak lagi membeli produk-produk kedua Negara tersebut.

“Artinya kalau anda beli satu botol, Anda ikut menyumbang kepada Yahudi. Harus dipahami, Anda tidak sadar padahal pilihan yang lain banyak!” kata Habib.

Menurut Habib, bahwa Zionis Isreal yang meyakini wilayah tersebut diyakini terdapat peninggalan Sulaiman, dan sampai saat ini lanjut Habib belum dibuktikan kebenarannya.

Habib Saggaf  mengatakan, sikap Donald Trump adalah sikap yang bodoh. “Trump ini orang yang tidak sehat pikirannya,” ujar Habib.

Alasannya jelas, sebab pernyataan itu mengundang reaksi dunia. Karena kita tahu Yerusalem/Baitul Maqdis adalah kota tiga agama (Islam, Yahudi dan Kristen).

Bahkan atas pernyataan itu, PBB pun tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Negara-negara Islam, tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada telah berkumpul di Istambul untuk membicarakan hal tersebut.

“Mereka mengatakan ini satu pelanggaran besar,” kata Habib Saggaf.  (NANANG  IP)

loading...