NEW YORK, MAL – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah melontarkan berbagai sindiran kepada kalangan media saat menghadiri jamuan makan malam Asosiasi Koresponden Gedung Putih di Hotel Waldorf Astoria, New York, Jumat (24/7).
Di hadapan sekitar 700 tamu yang sebagian besar merupakan wartawan, Trump menyampaikan pidato yang dipenuhi klaim keberhasilan pemerintahannya, diselingi candaan yang kerap bernada satir. Sejumlah lelucon yang ia lontarkan tidak mendapat respons meriah dari hadirin.
“Tempat ini benar-benar merupakan kelompok terbesar orang-orang dengan sindrom gangguan Trump yang pernah berkumpul dalam satu waktu,” ujar Trump, menyindir para jurnalis yang hadir.
Dalam pidatonya, Trump kembali menyebut dirinya sebagai presiden paling terbuka dan transparan dalam sejarah Amerika Serikat. Pernyataan itu kontras dengan rekam jejaknya yang selama ini kerap berseteru dengan media. Selama menjabat, ia berulang kali menuduh sejumlah media arus utama menyebarkan “berita palsu”, menegur wartawan dalam konferensi pers, hingga membatasi akses beberapa jurnalis ke lingkungan Gedung Putih.
Trump bahkan sempat mengomentari kegagalan salah satu leluconnya yang tidak memancing tawa audiens.
“Itu sebenarnya satu-satunya hal yang menurutku bagus di seluruh pidato bodoh ini,” katanya.
Meski sering mengkritik media, Trump mengakui pentingnya berkomunikasi dengan pers. Menurutnya, berbicara langsung kepada wartawan memberi peluang agar pemberitaan mengenai dirinya menjadi lebih positif.
“Saya selalu beranggapan, ketika Anda tidak berbicara dengan pers, Anda selalu mendapatkan berita buruk. Ketika Anda berbicara dengan pers, Anda memiliki kesempatan untuk mendapatkan berita yang bagus,” ujarnya.
Acara tersebut sejatinya merupakan agenda yang sempat tertunda. Jamuan makan malam awalnya dijadwalkan berlangsung pada 25 April 2026 di Hotel Washington Hilton. Namun, acara dibatalkan setelah seorang pria bernama Cole Allen menerobos pos pemeriksaan keamanan dan melepaskan tembakan di luar lokasi tempat Trump dan anggota kabinetnya berada.
Selain menyinggung media, Trump juga kembali menghidupkan spekulasi mengenai kemungkinan dirinya menjabat sebagai presiden untuk periode ketiga. Menjelang akhir pidato, ia mengenakan topi merah bertuliskan “Trump 2028”.
“Sama seperti masa kepresidenan saya, yang kedua selalu lebih baik. Dan, yang ketiga akan lebih baik lagi,” ucapnya, sebelum kemudian mengatakan bahwa pernyataan tersebut hanyalah sebuah candaan.
Meski demikian, Trump telah beberapa kali menyampaikan wacana serupa dalam berbagai kesempatan. Padahal, Amandemen ke-22 Konstitusi Amerika Serikat membatasi masa jabatan presiden maksimal dua periode.
Pidato Trump menuai kritik dari berbagai kalangan. Ahli etika media dari Poynter Institute, Kelly McBride, menilai penyelenggaraan acara semacam itu di tengah hubungan yang memburuk antara pemerintah dan media justru berpotensi merusak kepercayaan publik.
“Hal itu merusak kepercayaan publik terhadap cara kerja pers dan membuat kita terlihat seperti berteman dengan orang-orang yang kita liput,” ujarnya.
Kekhawatiran terhadap kondisi kebebasan pers di Amerika Serikat juga sebelumnya disampaikan Reporters Without Borders (RSF). Organisasi tersebut menyebut kebebasan pers menghadapi ancaman sejak awal masa jabatan kedua Trump pada 2025, dengan menyoroti berbagai kebijakan yang dinilai membatasi akses jurnalis, mengintervensi independensi redaksi, serta menggunakan langkah hukum terhadap media.
Direktur Eksekutif RSF Amerika Serikat, Clayton Weimers, menegaskan bahwa kebebasan pers merupakan fondasi demokrasi karena menjamin masyarakat memperoleh informasi yang akurat dan berasal dari berbagai sumber yang independen. (Reuters/AP/AFP)
