FINAL Piala Dunia 2026 bukan hanya mempertemukan Spanyol dan Argentina dalam perebutan trofi. Di luar lapangan, sebagian warganet juga membangun narasi lain: seolah laga itu menjadi pertarungan dua sentimen politik yang telah lama menyita perhatian dunia, yakni Israel dan Palestina.

Narasi tersebut muncul bukan karena sikap resmi federasi sepak bola kedua negara, melainkan dipengaruhi oleh citra politik masing-masing pemerintahan. Argentina, di bawah Presiden Javier Milei, dikenal memiliki hubungan yang sangat erat dengan Israel. Milei berulang kali menyatakan dukungan kepada Israel, bahkan menjanjikan pemindahan Kedutaan Besar Argentina ke Yerusalem serta menjadikan hubungan kedua negara sebagai salah satu prioritas politik luar negerinya.

Sebaliknya, Spanyol dalam beberapa tahun terakhir tampil sebagai salah satu negara Eropa yang paling vokal menyuarakan perlindungan terhadap rakyat Palestina. Pemerintah Spanyol mendorong pengakuan terhadap negara Palestina dan berulang kali mengkritik dampak kemanusiaan akibat konflik di Gaza.

Perbedaan sikap politik inilah yang kemudian terbawa ke ruang publik. Di media sosial, sebagian pendukung Palestina mengaku lebih berharap Spanyol meraih kemenangan, bukan semata karena kualitas sepak bolanya, tetapi karena memandang posisi politik Madrid lebih dekat dengan aspirasi mereka. Sebaliknya, ada pula yang mengaitkan Argentina dengan dukungan pemerintahnya terhadap Israel.

Namun, dalam perspektif Islam, penting untuk membedakan antara kebijakan pemerintah dengan individu atau masyarakat suatu negara. Al-Qur’an mengingatkan agar kebencian terhadap suatu kelompok tidak membuat seorang Muslim kehilangan keadilan.

“Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).

Karena itu, kemenangan atau kekalahan sebuah tim nasional bukanlah ukuran benar atau salahnya suatu sikap politik. Sepak bola tetaplah olahraga yang dimainkan para atlet, bukan referendum atas kebijakan pemerintah negaranya. Seorang Muslim dapat bersimpati kepada perjuangan rakyat Palestina tanpa harus membenci pemain, suporter, atau masyarakat dari negara lain.

Fenomena final Piala Dunia 2026 justru menunjukkan bahwa olahraga sering menjadi cermin dinamika geopolitik dunia. Sentimen publik dapat terbawa ke tribun stadion maupun media sosial. Namun, Islam mengajarkan agar empati kepada korban kezaliman tetap berjalan beriringan dengan keadilan, objektivitas, dan akhlak dalam menilai setiap manusia.*