Oleh: Muhammad Fadli, S.Tr.Stat.

Kemiskinan adalah permasalahan yang tidak ada habisnya dialami oleh sebuah negara bahkan daerah dimanapun. Namun, walaupun permasalahan ini tidak ada habisnya. Sebagai pengampuh kebijakan tentu selalu terus berusaha agar kemiskinan terus turun dari waktu ke waktu. Mulai dari bantuan sosial baik secara tunai maupun barang, meningkatkan lapangan kerja dan lain sebagainya.

Pada hasil rilis (15/7/2022) Badan Pusat Statistik profil kemiskinan Indonesia. Pada bulan Maret 2022. Persentase kemiskinan Indonesia pada Maret 2022 turun menjadi 9,54 persen turun sebesar 0,17 persen poin pada September 2021 dan 0,06 persen poin pada Maret 2021. Jumlah penduduk miskin sebesar 26,16 juta jiwa.

Kepala BPS RI Margo Yuwono (15/7/2022) mengatakan bahwa penurunan ini terjadi akibat pemulihan ekonomi yang terus berlanjut dan bantuan sosial sebagai bantalan kesehjahteraan sehingga mendorong peningkatan pendapatan masyarakat pada maret 2022. Pemulihan ekonomi ini seperti kita tahu bahwa pertumbuhan ekonomi triwulan satu secara tahun (y-on-y) tumbuh sebesar 5,01 persen. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2022 juga turun menjadi 5,83 persen atau turun 0,66 persen dibandingkan Agustus 2021. Februari 2022 juga sektor pertanian sebagai lapangan usaha yang paling berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia juga menyerap tenaga kerja 3,51 juta orang lebih banyak disbanding Agustus 2022. Inflasi inti pada Januari-Maret 2022 sebesar 1,03 persen ini menandakan bahwa daya beli masyarakat terus membaik. Pada Maret 2022 juga terjadi panen raya dan produksi padi nasional meningkat 5,02 juta ton disbanding September 2021.  

Adapun Kepala BPS RI Margo Yuwono (15/7/2022) mengatakan bantuan sosial (Bansos) dari pemerintah juga berpengaruh dimana persentase bansos Program Keluarga Harapan (PKH) tahap I Maret 2022 meningkat sebesar 97,2 persen dibandingkan September 2021. Ada juga persentase penyaluran Bansos Januari-Maret 2022 meningkat sebesar 98 persen. Ini juga dibuktikan dari realisasi anggaran perlindungan sosial hingga maret 2022 mencapai Rp. 81 trilliun.

Kemarin (18/7/2022) BPS Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) merilis profil kemiskinan di Sulteng. Hasilnya bertolak belakang dengan apa yang dialami Indonesia secara umum. Persentase kemiskinan Sulteng naik menjadi sebesar 12,33 persen, hasil ini naik 0,15 persen poin dibandingkan dengan September 2021. Jumlah penduduk miskinnya ialah 388,35 ribu orang atau ada 7,14 ribu jiwa yang menjadi penduduk miskin baru dibandingkan September 2021.

Padahal kita tahu pada bulan September 2021 persentase kemiskinan Sulteng sempat turun menjadi 12,18 persen atau turun sebesar 0,82 persen poin dibandingkan Maret 2021. Hal ini jika dilihat trennya mulai September 2017 trennya turun hingga bulan September 2021 walaupun ada terjadi kenaikan pada bulan September 2020 dan Maret 2021 karena puncak covid-19. Kemarin pada bulan September 2021 menjadi yang terendah dibandingkan 5 tahun berjalan tersebut. Namun pada bulan ini justru kembali naik. Apa yang terjadi? mari kita lihat lebih jauh.

Sebelum lebih lanjut mari kita lihat perkembangan garis kemiskinan di Sulteng. Garis kemiskinan per kapita adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikeluarkan per orang untuk memenuhi kebutuhannya agar tidak dikategorikan miskin. Garis kemiskinan di Sulteng pada bulan Maret 2022 ialah Rp. 530.251,-/kapita/bulan meningkat 4,87 persen yang dari sebelumnya Rp. 505.608,-/kapita/bulan. Ini disebabkan oleh dua yaitu garis kemiskinan makanan dan non makanan. Hasilnya ialah garis kemiskinan makanan berpengaruh lebih besar yaitu 76,20 persen sedangkan non makanan ialah 23,80 persen. Jika kita lihat per-rumah tangga dengan rata-rata anggota rumah tangga miskin sebesar 5,42 maka secara umum garis kemiskinan rumah tangga miskin sebesar Rp. 2.873.960,-/rumah tangga/bulan. Bisa kitakan untuk rumah tangga jika memiliki rata-rata anggota rumah tangga 5-6 orang dirumah dengan pengeluaran rumah tangga kurang dari itu maka bisa dikatakan rumah tangga tersebut ialah rumah tangga miskin. Tentu nilai tersebut jauh sekali dibandingkan garis kemiskinan pada bulan September 2021 ialah Rp. 2.533.096,-/kapita/bulan dengan rata-rata anggota rumah tangga sebesar 5,01. Hal ini tentu menjadi sebuah permasalahan juga kemiskinan meningkat diikuti dengan garis kemiskinan atau peluang orang masuk ke jurang kemiskinan juga besar.

Dari sisi pembentuk garis kemiskinan ternyata ada tiga komoditas kelompok makanan yang paling berkontribusi besar di Sulteng yaitu Beras dengan persentase 20,02 persen di perkotaan dan 23,90 persen di perdesaan; Rokok kretek filter dengan persentase 17,07 persen di perkotaan dan 17,22 persen di perdesaan; dan terakhir tongkol/tuna/cakalang dengan persentase 4,07 persen di perkotaan dan 3,80 persen di perdesaan. Kemudian jika kelompok non makanan ada tiga komoditas juga masing-masing di perkotaan ada perumahan 14,43 persen; listrik 3,01 persen; dan bensin 2,26 persen. Pada daerah perdesaan ada perumahan 9,17 persen; bensin 2,38 persen; serta listrik 1,24 persen. Berbeda dengan perkotaan diperdesaan justru bensin peringkat 2 dan listrik peringkat 3.

Jika kita partisi lebih jauh ternyata disparitas persentase kemiskinan diperdesaan jauh lebih besar yaitu 13,87 persen dengan jumlah penduduk miskinnya ialah 298,09 ribu jiwa sedangkan perkotaan ialah 9,03 persen atau 90,26 ribu jiwa. Hal ini menandakan penduduk miskin lebih banyak diwilayah perdesaan daripada perkotaan.

Kemudian, mari kita lihat dari indeks kedalaman kemiskinan. Indeks kedalaman kemiskinan mengindikasikan jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilainya mengindikasikan secara rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin semakin jauh dengan garis kemiskinan di wilayah tersebut. Hasilnya pada bulan Maret 2022 di Sulteng indeks ini mengalami kenaikan menjadi 2,41 poin atau naik sekitar 0,17 poin dimana sebelumnya 2,24 poin pada bulan September 2021.

Selanjutnya, indeks keparahan kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran diantara penduduk miskin. Semakin tinggi nilainya maka semakin besar juga perbedaan pengeluaran antar penduduk miskin di wilayah tersebut. Hasilnya pada bulan Maret 2022 di Sulteng indeks ini juga mengalami kenaikan menjadi 0,68 poin atau naik sekitar 0,04 poin dimana sebelumnya 0,64 poin pada bulan September 2021.

Disini kita semakin tahu pada bulan Maret 2022 di Sulteng selain persentase kemiskinan meningkat, ternyata garis kemiskinan semakin tinggi, jarak pengeluaran rata-rata penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin jauh dan antar pengeluaran penduduk miskin semakin timpang. Tentu, hal ini haruslah menjadi perhatian khusus oleh Pemda untuk kita cermati bersama. Misal contoh saja, jika persentase kemiskinan naik tetapi indeks kedalaman kemiskinan turun maka baiknya untuk mengangkat orang miskin tersebut menjadi tidak miskin semakin mudah karena jarak dia dengan garis kemiskinan tidak begitu jauh.

Oleh karena itu, karena Sulteng mengalami kenaikan hampir disemua nilai yang berhubungan dengan kemiskinan secara langsung tentu pemda harus merencanakan serta mengeksekusi dengan matang dan tepat apa yang harus dilakukan agar hal tersebut tidak berlanjut lebih jauh. Hal ini patut kita waspadai karena pada bulan September 2022 ini bisa jadi angka kemiskinan melonjak lagi disebabkan kenaikan harga barang pokok dan energi yang yang terjadi sekarang ini dan mungkin nanti.

*Penulis adalah Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Sigi