PALU,MAL – Rektor Universitas Tadulako (Untad) Palu, Prof. Amar, mendorong mahasiswa tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan (job creator) melalui penguatan kewirausahaan, inovasi, dan pemanfaatan teknologi digital.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Amar saat membuka secara resmi orasi ilmiah Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Prof. A.M. Nurdin Halid, di Aula Baru Fakultas Kedokteran Untad, Jumat (11/9).

Orasi ilmiah tersebut mengangkat tema “Kewirausahaan sebagai Pilar Inovasi, Kemandirian, dan Daya Saing Bangsa di Era Global.”

Prof. Amar mengatakan, kehadiran Nurdin Halid sebagai narasumber menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan tentang kewirausahaan.

Menurutnya, pengalaman Nurdin Halid sebagai akademisi, praktisi, sekaligus politisi dapat memberikan perspektif yang lebih luas kepada mahasiswa.

“Beliau memiliki pengalaman yang sangat luar biasa. Selain sebagai dosen, beliau juga seorang praktisi dan politisi. Saya kira ini menjadi kesempatan yang baik bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengayaan pengetahuan, khususnya mengenai model dan praktik kewirausahaan,” ujar Prof. Amar.

Ia menegaskan, perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi tempat mahasiswa memperoleh gelar akademik. Kampus harus mampu menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pemikiran kritis, inovasi, sekaligus melahirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

“Bukan hanya sekadar mendapatkan gelar, tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh dapat dikembangkan dan memberikan dampak kepada masyarakat,” katanya.

Menurut Prof. Amar, penguatan kewirausahaan mahasiswa menjadi semakin penting di tengah perubahan ekonomi global. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk melihat peluang, mengembangkan ide menjadi usaha, serta memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar.

“Kita ingin mahasiswa memiliki talenta bisnis yang dapat dikembangkan. Talenta tersebut bukan hanya bersifat konvensional, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan digital,” ujarnya.

Ia menyebut sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki posisi strategis dalam perekonomian Indonesia. Karena itu, penguatan UMKM harus menjadi bagian dari strategi menghadapi tantangan ekonomi, termasuk perubahan dan tekanan ekonomi global.

Prof. Amar mengatakan tantangan pelaku UMKM saat ini bukan hanya persoalan memulai usaha, tetapi bagaimana usaha tersebut dapat berkembang dan naik kelas.

Upaya itu, kata dia, membutuhkan pemanfaatan teknologi, inovasi, akses pembiayaan, standardisasi produk, penguatan merek, hingga perluasan pasar.

Untad, lanjutnya, terus mendorong pengembangan kewirausahaan mahasiswa melalui pembentukan unit yang fokus pada pengembangan bisnis mahasiswa serta penguatan pembelajaran UMKM.

Selain itu, Untad juga mendorong pengembangan produk halal melalui keberadaan pusat halal. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.

Prof. Amar menilai mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan yang tidak hanya bersifat akademik atau teknis. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan, literasi keuangan, integritas, kejujuran, membangun kepercayaan, dan bekerja sama menjadi bagian penting dalam menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha.

“Bukan berarti ilmu pengetahuan tidak penting. Namun, apabila hard skill dan soft skill dapat digabungkan, mahasiswa akan memiliki bekal yang lebih kuat untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Indonesia tidak perlu bersikap anti terhadap globalisasi. Namun, bangsa Indonesia harus memiliki daya tawar dan daya saing yang kuat agar produk serta inovasi lokal mampu masuk ke dalam rantai pasok nasional maupun global.

Menurutnya, kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi Sulawesi Tengah untuk mengembangkan potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi.

Prof. Amar mencontohkan potensi pariwisata dan peninggalan megalitik di Sulawesi Tengah yang memiliki nilai ekonomi sekaligus budaya. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan lebih optimal melalui inovasi, pengelolaan profesional, dan strategi promosi yang tepat.

“Begitu banyak potensi daerah yang belum dikembangkan secara optimal. Ini menjadi tugas kita bersama untuk mengelolanya dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Lebih jauh, Prof. Amar mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, produktif, inovatif, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Hal itu dinilai penting untuk mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 yang tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas manusia, inovasi, dan kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.

Ia berharap orasi ilmiah tersebut tidak berhenti sebagai forum penyampaian gagasan, tetapi dapat mendorong lahirnya gerakan nyata dalam membangun budaya kewirausahaan di lingkungan Untad.

“Saya berharap lahir lebih banyak mahasiswa entrepreneur, startup berbasis riset dan inovasi teknologi, serta produk-produk unggulan daerah. Mari kita membangun kapitalisme yang berkeadilan, beretika, berpihak kepada rakyat, tetapi tetap kompetitif di tingkat global,” ujarnya.

Orasi ilmiah yang disampaikan Nurdin Halid diharapkan memberikan perspektif baru bagi sivitas akademika Untad mengenai pentingnya kewirausahaan sebagai instrumen memperkuat kemandirian ekonomi, inovasi, dan daya saing bangsa di tengah persaingan global.