CALI, MAL – Abelardo de la Espriella resmi dilantik sebagai Presiden Kolombia pada Jumat, 7 Agustus 2026, namun masa jabatan Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella langsung diuji dengan dua serangan bom pada hari berikutnya yang menewaskan seorang polisi dan melukai beberapa orang di wilayah Cauca dan Cesar.
Bersamaan dengan itu, pemerintahan baru juga mengumumkan pemulihan hubungan diplomatik dengan Israel yang sempat terputus dan akan menerima rencana bantuan keamanan senilai 1 miliar dolar AS dari Amerika Serikat.
Pelantikan Abelardo de la Espriella berlangsung di Cali, Kolombia barat daya, dengan pengamanan ketat melibatkan lebih dari 11.000 personel militer. Politisi sayap kanan yang memenangkan pemilu pada 21 Juni 2026 ini menggantikan Gustavo Petro dan berjanji akan memerangi perdagangan narkoba, kelompok kriminal, serta memulihkan ketertiban negara.
Belum sehari setelah pelantikan Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella, dua insiden kekerasan terjadi. Serangan pertama menggunakan bahan peledak di dekat gerbang tol di Santander de Quilichao, Departemen Cauca, melukai dua petugas keamanan. Angkatan Darat Kolombia mengaitkan serangan ini dengan faksi pembangkang FARC.
Serangan kedua terjadi sekitar 1.000 kilometer jauhnya di Departemen Cesar, di mana sebuah drone bermuatan bahan peledak menghantam kantor polisi, menewaskan seorang petugas. Identitas pelaku serangan ini masih dalam penyelidikan otoritas keamanan. Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella mengecam insiden ini, menjadikannya ujian awal bagi agenda keamanan pemerintahannya.
“Tidak akan ada ruang untuk manuver yang merusak stabilitas negara,” kata Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella, merujuk pada janji pemerintahannya untuk menindak terorisme narkoba.
Ia menambahkan, “Menyerang infrastruktur negara berarti menyerang kemajuan.”
Di bidang kebijakan luar negeri, pemerintahan Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella berencana memulihkan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Israel. Hubungan tersebut sebelumnya diputus oleh pemerintahan Gustavo Petro pada Mei 2024 terkait perang di Gaza.
Pemerintahan baru Kolombia mengumumkan pembentukan Komisi Ekonomi Binasional Kolombia-Israel dan merencanakan kunjungan delegasi Kolombia ke Israel pada Oktober 2026. Langkah ini juga mencakup rencana pertukaran duta besar, kerja sama perdagangan, dan kemungkinan pembahasan pembukaan kedutaan di Yerusalem.
Mantan Presiden Gustavo Petro pada 1 Mei 2024 menyatakan, “Di depan kalian, pemerintahan perubahan, presiden republik, menyatakan bahwa mulai besok, kami memutus hubungan diplomatik dengan Israel karena memiliki presiden yang mendukung genosida.”
Pada hari yang sama dengan pelantikan, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan rencana paket bantuan keamanan senilai 1 miliar dolar AS untuk Kolombia. Dengan perkiraan kurs Rp17.800 per dolar AS, nilai bantuan ini setara sekitar Rp17,8 triliun. Bantuan tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari kemitraan keamanan yang diperbarui antara Washington dan Bogotá.
“Sebagai landasan kemitraan yang diperbarui ini, Amerika Serikat, bekerja sama dengan Kongres, bermaksud mengumumkan bantuan senilai 1 miliar dolar AS sebagai bagian dari paket keamanan untuk mendukung pemerintahan Presiden de la Espriella dalam mencapai tujuan bersama kita,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Rincian alokasi dan persetujuan Kongres AS masih diperlukan untuk merealisasikan bantuan ini. Tujuan umum bantuan adalah memperkuat pasukan keamanan Kolombia, mendukung operasi anti-narkoba, dan meningkatkan interoperabilitas militer.
Pemerintahan Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella kini dihadapkan pada tiga agenda besar secara simultan: menangani serangan bersenjata untuk menjaga keamanan nasional, mengimplementasikan janji pemulihan hubungan dengan Israel, serta menindaklanjuti paket bantuan keamanan dari AS. Informasi lebih lanjut mengenai jadwal pencairan bantuan, rincian program, dan status final identitas pelaku serangan masih menunggu konfirmasi resmi.
