BANGGAI – Capaian peserta keluarga berencana (KB) di Sulawesi Tengah hingga Oktober 2025 mencapai 287.848 orang, termasuk 95.848 peserta Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Angka tersebut dinilai berkontribusi penting dalam upaya percepatan penurunan stunting di daerah.
Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C. Soriton, mengatakan capaian tersebut telah memenuhi target, bahkan program KB pascapersalinan melampaui target dengan realisasi 33.129 peserta atau 103,4 persen.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan, di antaranya belum optimalnya pelaporan kelompok kegiatan serta rendahnya partisipasi MKJP di beberapa wilayah, termasuk Kabupaten Banggai Laut.
“Tantangan ini perlu menjadi perhatian bersama agar program KB semakin efektif dalam mendukung pembangunan keluarga,” ujarnya dalam rapat koordinasi dan sinkronisasi program Bangga Kencana di Aula Kantor Bupati Banggai, Senin (20/4).
Tenny juga menekankan pentingnya ketahanan keluarga sebagai faktor pendukung keberhasilan program KB, khususnya peran laki-laki dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
“Kita sebagai laki-laki harus introspeksi. Banyak kasus perceraian justru diajukan oleh pihak perempuan. Ini menjadi perhatian bersama,” katanya.
Menurut dia, meningkatnya peran perempuan di berbagai bidang menuntut laki-laki untuk semakin memperkuat peran dalam keluarga guna menciptakan lingkungan yang harmonis dan mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menegaskan penguatan program KB menjadi bagian dari strategi lintas sektor dalam percepatan penurunan stunting pada 2026.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banggai, Ramli Songko, yang membacakan sambutan Gubernur Sulawesi Tengah, menyebutkan pemerintah mendorong peningkatan pelayanan keluarga berencana, edukasi kesehatan, serta pendampingan keluarga berisiko stunting.
“Penguatan program berbasis keluarga menjadi kunci, termasuk integrasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi digital dalam layanan dan monitoring,” ujarnya.
Berdasarkan data terbaru, angka stunting di Sulawesi Tengah mengalami penurunan dari 27,2 persen pada 2023 menjadi 26,1 persen pada 2024. Penurunan ini juga sejalan dengan menurunnya angka kemiskinan dari 12,41 persen pada 2023 menjadi 10,52 persen pada 2025.
Pemerintah berharap keterlibatan aktif masyarakat, khususnya melalui program KB, dapat terus diperkuat guna mendukung percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Sulteng.*

