MOROWALI, MAL – PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus meningkatkan kapasitas pembibitan di lahan nursery untuk menyemai ribuan bibit pohon peneduh dan flora hias siap tanam pada seluruh ruang terbuka hijau (RTH) lingkar kawasan seluas 1.937,9 hektare.
Nursery IMIP, yang dikelola secara mandiri oleh Departemen Environmental, berfungsi sebagai jantung hijau dan wujud komitmen dekarbonisasi industri. Kawasan industri ini menjadi pelopor dalam rehabilitasi lingkungan, termasuk program konservasi mangrove dan perlindungan keanekaragaman hayati di area Morowali.
Dalam setahun, Bank Benih IMIP mampu memproduksi lebih dari 80.000 bibit vegetasi hijau, tanaman penghias, hingga tanaman blue carbon sink seperti mangrove.
Staf Nursery Departemen Environmental PT IMIP, Rian Hakim, menjelaskan bahwa kemandirian pengelolaan tempat penyemaian bibit tanaman di area Edupark ini diperkuat dengan program Bank Benih IMIP yang telah berjalan sejak awal 2026.
Melalui program ini, benih dari berbagai jenis tanaman lokal maupun endemik yang tumbuh di seluruh kawasan perusahaan dikumpulkan. Benih-benih tersebut kemudian diproses, dikeringkan, dikemas, dan disimpan sebagai cadangan.
“Melalui program ini diharapkan kebutuhan benih dapat dipenuhi secara mandiri sehingga mengurangi ketergantungan pada sumber dari luar. Ini juga bentuk upaya PT IMIP dalam menjaga konservasi keanekaragaman hayati lokal,” ucap Rian, Sabtu (18/08/2026).
Sebagai pengelola kawasan industri berbasis nikel terbesar di Asia Tenggara, PT IMIP tidak hanya fokus pada penghijauan di dalam area perusahaan, tetapi juga meluas ke luar zona. Rian memaparkan bahwa penyebaran bibit siap tanam dilakukan melalui tiga metode utama.
Pertama, penanaman langsung di sepanjang jalur transportasi lingkar kawasan industri dan ratusan titik taman jalan.
Kedua, distribusi kepada seluruh tenant untuk ditanam pada area ruang terbuka hijau (RTH) masing-masing perusahaan. Terakhir, penyaluran bibit ke masyarakat di luar kawasan.
“Untuk penyaluran ke luar kawasan atau masyarakat, prosesnya dilakukan sangat mudah, masyarakat cukup bersurat kepada instansi Pemerintah Daerah. Ini hanya sebagai administrasi saja untuk nanti kita mendata tanaman jenis apa saja dan ke mana bibit tersebut disalurkan keluar,” jelas Rian.
Ke depannya, Nursery PT IMIP menargetkan penghentian total penggunaan polybag plastik sekali pakai, beralih ke pemanfaatan polipot yang dapat digunakan berulang kali.
Program ini merupakan bagian dari komitmen dalam mendukung pengurangan timbulan sampah plastik serta penerapan prinsip keberlanjutan di lingkungan perusahaan.
Selain itu, Rian menambahkan bahwa Bank Benih IMIP diupayakan mampu memenuhi seluruh kebutuhan operasional secara mandiri, termasuk memproduksi sarana pengendalian hama dan penyakit berbahan alami seperti insektisida dan herbisida nabati.
“Dengan langkah ini, Nursery PT IMIP diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi tanaman, tetapi juga menjadi pusat konservasi, inovasi, dan pengelolaan sumber daya hayati yang berkelanjutan,” tandasnya. ***
