NEW YORK, MAL — Wali Kota New York Zohran Mamdani menghadapi sejumlah ujian pada delapan bulan pertama pemerintahannya. Mulai dari gugatan terhadap kebijakan pajak rumah mewah hingga tekanan dari sebagian komunitas Yahudi.

Namun, persoalan tersebut belum menggerus popularitasnya. Survei Siena University pada 3–6 Agustus 2026 menunjukkan 69 persen pemilih di Kota New York memiliki pandangan positif terhadap Mamdani, naik dari 58 persen pada Juni. Hanya 24 persen yang berpandangan negatif.

Di tingkat Negara Bagian New York, dukungan terhadap Mamdani lebih berimbang. Sebanyak 47 persen responden berpandangan positif dan 44 persen negatif. Ini menunjukkan basis politik Mamdani masih sangat kuat di kota yang dipimpinnya.

Mamdani dilantik pada 1 Januari 2026 sebagai wali kota ke-112 New York. Pada usia 34 tahun, ia menjadi wali kota termuda kota itu dalam lebih dari satu abad, sekaligus Muslim pertama dan orang kelahiran Afrika pertama yang memimpin New York.

Ia memenangkan pemilihan dengan membawa agenda demokrat sosial, terutama persoalan biaya hidup, perumahan, transportasi, pendidikan anak dan upah pekerja.

Sejumlah program menjadi modal politiknya. Pemerintah kota melaporkan pembangunan dan preservasi 12.491 rumah terjangkau dalam enam bulan pertama 2026. Program pendidikan 2-K juga mendapat lebih dari 5.700 pendaftar untuk sekitar 2.000 kursi.

Di bidang keamanan, data NYPD menunjukkan pembunuhan Januari-Juli 2026 turun 22,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, penurunan tersebut merupakan bagian dari tren yang telah berlangsung sebelum Mamdani menjabat.

Pajak Orang Kaya Digugat

Salah satu kebijakan paling kontroversial adalah pajak terhadap rumah mewah yang tidak digunakan sebagai tempat tinggal utama. Kebijakan itu diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 500 juta dolar AS per tahun.

Namun, penerapannya digugat oleh sejumlah pemilik properti. Pada 10 Agustus, hakim mengeluarkan perintah penghentian sementara. Pemerintah Mamdani kemudian mengajukan banding.

Pada 13 Agustus, pengadilan banding mengizinkan proses penerapan kebijakan dilanjutkan sementara sengketa hukum berjalan. Sidang berikutnya dijadwalkan 31 Agustus.

Bagi Mamdani, persoalan ini menjadi ujian penting. Slogan agar orang kaya membayar lebih mudah disampaikan ketika kampanye, tetapi menerapkannya membutuhkan administrasi pajak yang akurat dan mampu bertahan di pengadilan.

Tekanan dari Komunitas Yahudi

Ujian lainnya datang dari hubungan dengan komunitas Yahudi. Mamdani dikenal sebagai pendukung Palestina dan pengkritik keras Pemerintah Israel.

Sikap tersebut mendapat dukungan dari kelompok progresif, tetapi juga memunculkan kekhawatiran dari sebagian pemimpin Yahudi mengenai antisemitisme.

NYPD mencatat 205 kejahatan kebencian anti-Yahudi sepanjang Januari-Juli 2026, meningkat 8,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Mamdani telah mengecam serangan terhadap jemaat di Central Synagogue, Manhattan, pada 14 Agustus. Ia juga bertemu sejumlah rabi dan menegaskan komitmennya memerangi antisemitisme.

Meski menghadapi berbagai kontroversi, popularitas Mamdani justru meningkat di New York City. Hal itu menunjukkan bahwa basis politik yang mengantarkannya ke Balai Kota belum runtuh.

Bagi pendukungnya, angka tersebut menjadi bukti bahwa agenda progresif masih mendapat tempat. Bagi pengkritiknya, persoalan pajak, fiskal dan hubungan antarkelompok menunjukkan bahwa ujian sesungguhnya pemerintahan Mamdani baru dimulai.

Yang jelas, delapan bulan pertama telah memperlihatkan satu kekuatan politik Mamdani: ia masih mampu membuat warga New York memperhatikan dan membicarakan apa yang dikerjakannya.