OLEH: Dewi Sri Wahyuni*

Matematika sering kali dipandang oleh sebagian besar siswa sebagai tumpukan angka dan rumus abstrak yang kering dari makna kehidupan.

Di sisi lain, pendidikan karakter dan nilai keagamaan kerap kali diajarkan secara terpisah, seolah menempati ruang yang berbeda dengan ilmu sains.

Padahal, jika kita menelisik lebih dalam, terdapat benang merah yang kokoh untuk mengintegrasikan spiritualitas Islam dengan ketajaman berpikir matematis.

Salah satu langkah konkretnya mewujud dalam inovasi pembelajaran Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) yang diintegrasikan dengan esensi nilai keislaman dan kearifan lokal melalui sintaks model pembelajaran PENA.

Melalui model ini, materi SPLDV di kelas VIII SMP/MTs tidak lagi diajarkan secara konvensional yang menuntut siswa langsung menghafal rumus.

Sebaliknya, materi ini dihidupkan melalui internalisasi nilai spiritualitas Surah Al-Ikhlas, pesan literasi Surah Al-Alaq, serta petuah luhur dari pendiri Alkhairaat, Guru Tua. Pembelajaran dikemas secara sistematis untuk menuntun siswa menemukan hakikat konsistensi logika dan kemurnian tauhid.

Menghidupkan Spirit “Iqra” dan Nilai Ke-Alkhairaat-an di Awal Kelas

Dalam tahap Mukaddimah (pendahuluan), pembelajaran dibuka bukan sekadar dengan absensi, melainkan dengan menata niat dan menghidupkan jiwa spiritual siswa. Pembacaan Surah Al-Alaq ayat 1–5 dilakukan secara bersama-sama untuk memicu spirit Iqra’ — perintah untuk membaca, menelaah, dan menganalisis fenomena sekitar.

Spirit pencarian ilmu ini sejalan dengan risalah kenabian yang menegaskan pentingnya ekosistem belajar yang beradab, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR. Tabrani)

Hadits ini meletakkan fondasi bahwa ilmu tidak berdiri sendiri; ia tumbuh dalam harmoni antara proses belajar, mengajar, dan penghormatan yang tinggi terhadap guru selaku sumber ilmu.

Di tanah kearifan lokal Palu, pilar adab dan etos menuntut ilmu yang bersumber dari hadits tersebut digelorakan secara puitis oleh pendiri Alkhairaat, Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua), melalui bait syairnya yang melegenda:

“Bergiatlah kalian menuntut ilmu hai para murid Alkhairaat, orang-orang berilmu menempati beberapa derajat. Niatkanlah dengan mempelajarinya agar kamu mengikuti kebenaran agama, karena amal itu tergantung niatnya.”

Untaian petuah luhur dari Guru Tua ini menjadi pemantik motivasi yang luar biasa bagi siswa.

Belajar SPLDV ditransformasikan bukan lagi sekadar urusan menghitung angka demi nilai ujian, melainkan upaya melatih keahlian berpikir logis untuk membaca variabel-variabel kehidupan.

Siswa diajak menyadari bahwa prinsip-prinsip utama ke-Alkhairaat-an — seperti Akhlak mulia, Tawazun (keseimbangan), Khidmah (saling membantu), Tasamuh (toleransi), Tawassuth (bersikap adil dan sederhana), serta Taqwa — harus melandasi setiap proses belajar. Integrasi ini diperkuat dengan esensi Surah Al-Ikhlas yang menegaskan bahwa kebenaran itu satu, jelas, dan tidak berubah.

Dalam SPLDV, dua persamaan harus selaras dan konsisten agar menghasilkan satu solusi mutlak. Hubungan harmonis antara hadits, syair, dan ilmu matematika inilah yang akan membimbing siswa menemukan hakikat kebenaran.

Eksplorasi Huruf Al-Qur’an: Dari Abstrak Menuju Kebenaran Tunggal

Untuk menjembatani pemahaman siswa menuju penalaran matematika yang mendalam, konsep SPLDV dihadirkan secara konkrit melalui analisis jumlah huruf lam dan mim dalam Surah Al-Ikhlas.

Dalam Surah Al-Ikhlas terdapat berbagai jenis huruf. Misalnya, jika kita menghitung huruf ل (lam) dan huruf م (mim), hasil yang umum dipakai dalam pembelajaran adalah:

  • Jumlah huruf ل (lam)dan huruf م (mim )= 16
  • Selisih huruf ل (lam)dan huruf م (mim )= 8

Siswa diajak melakukan pemisalan variabel, dimana x mewakili jumlah huruf lam dan y mewakili jumlah huruf mim.seperti dibawah ini:

  • x = jumlah huruf lam
  • y = jumlah huruf mim

Dari informasi bahwa jumlah kedua huruf tersebut, berdasarkan pernyataan yang ada yang diberikan jumlah total huruf lam + mim = 16 huruf, maka:
x + y = 16 … (1)

Pada pernyataan kedua selisih huruf lam dan  huruf mim adalah 8, maka:

: x – y =8 … (2)

Maka terbentuklah SPLDV yang sederhana:

Kemudian, siswa dipandu menggunakan metode eliminasi untuk memecahkan sistem hubungan tersebut:

Ayo kita eliminasi dengan menjumlahkan kedua persamaan.

                                           (x+y) + (x-y)=16+8
                                            2x=24
                                            x=12

Masukkan kembali ke persamaan (1):

                                    12+y=16
                                    y=4

Hasil:

  • x = 12 (jumlah huruf lam)
  • y = 4 (jumlah huruf mim)                

Mari kita refleksikan kembali: Jika Anda membuka Mushaf Al-Qur’an dan menghitungnya secara saksama pada Surah Al-Ikhlas, Anda akan menemukan kebenaran matematis yang presisi ini!

Refleksi Teologis dan Nilai Karakter

Proses penyelesaian SPLDV ini menjadi ruang refleksi nilai kemurnian niat (ikhlas) dan konsistensi (istiqamah). Menyelesaikan perhitungan matematika menuntut kejujuran akademis yang mutlak.

Sikap teliti, tidak terburu-buru, dan patuh pada asas konsistensi logika dalam mengeliminasi variabel merupakan bentuk nyata dari penerapan ketauhidan dalam menuntut ilmu.

Hal ini mengajarkan refleksi teologis yang mendalam kepada siswa: sebagaimana nilai tauhid dalam Surah Al-Ikhlas yang mengajarkan kebenaran tunggal (Ahad) yang mutlak dan bebas dari kontradiksi, matematika juga menuntut konsistensi berpikir untuk mencapai satu kebenaran jawaban yang valid.

Di sini, keselarasan antara kelurusan niat yang dipesankan oleh Guru Tua dan adab memuliakan aturan kebenaran dari HR. Tabrani mewujud nyata dalam tindakan konkrit berpikir kritis.

Reorientasi Masa Depan Pendidikan Matematika

Melalui implementasi model PENA yang mengintegrasikan aspek teologis Al-Qur’an dan kearifan lokal Alkhairaat ini, kita sedang melakukan reorientasi besar pada arah pembelajaran matematika masa depan.

Ruang kelas tidak lagi menjadi tempat yang dingin, menakutkan, dan menjemukan. Kelas matematika menjelma menjadi laboratorium perbaikan karakter sekaligus pengasahan nalar kritis.

Siswa tidak hanya pulang membawa keterampilan menghitung sistem persamaan, tetapi mereka membawa pulang kesadaran spiritual yang kokoh. Ketika siswa mampu menyelesaikan nilai variabel x dan y secara jujur dan teliti, mereka sesungguhnya telah mempraktikkan perintah Iqra’ untuk menganalisis kebenaran, menjaga keseimbangan (tawazun), serta merawat kemurnian sikap tauhid yang diajarkan oleh Surah Al-Ikhlas.

Ketika Guru Tua bersyair bahwa “orang-orang berilmu menempati beberapa derajat,” derajat tinggi itu tidak dicapai lewat hafalan rumus yang kosong, melainkan lewat ketajaman nalar yang mampu melihat kebesaran Tuhan dalam tiap variabel angka.

Dan ketika Guru Tua mengingatkan bahwa “amal itu tergantung niatnya,” siswa Alkhairaat diajarkan bahwa meluruskan langkah penyelesaian matematika demi sebuah kebenaran tunggal adalah bagian dari manifestasi niat mengikuti kebenaran agama.

Inilah wujud nyata dari pendidikan yang seimbang: cerdas secara intelektual yang mengangkat derajat, luhur secara penalaran yang bersumber dari kemurnian niat, dan kokoh secara spiritual sebagaimana dicita-citakan dalam spirit pendidikan Guru Tua (Sayyid Idrus bin Salim Aljufri).

*Doktor Pendidikan Matematika/Pengembang Model Pembelajaran PENA*