GAZA, MAL – Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) resmi menunjuk Khalil Al Hayya sebagai Kepala Biro Politik baru mereka pada Senin, 20 Juli 2025. Penunjukan Khalil Al Hayya Kepala Biro Politik Hamas ini menggantikan Yahya Sinwar, pemimpin sebelumnya yang tewas dalam serangan Israel pada Oktober 2024 lalu. Khalil Al Hayya akan memimpin gerakan tersebut hingga periode 2027 sebelum pemilihan kepala baru digelar.
Pengumuman penting mengenai kepemimpinan Hamas ini disampaikan langsung oleh pihak gerakan. Pemilihan Khalil Al Hayya Kepala Biro Politik Hamas menandai era baru setelah kepergian Yahya Sinwar yang merupakan tokoh kunci.
“Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengumumkan pemilihan saudara mujahid Khalil Al Hayya sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan pemimpin yang gugur, Yahya Al Sinwar,” demikian pernyataan Hamas, seperti dikutip AFP.
Sebelum menjabat posisi strategis ini, Khalil Al Hayya memiliki peran krusial sebagai negosiator utama Hamas dalam perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan Israel. Keahliannya dalam diplomasi menjadikannya figur penting dalam setiap dialog terkait konflik.
Nama Khalil Al Hayya memang sudah sangat dikenal dalam deretan aktivis Palestina yang berpengaruh. Dia juga dikenal sebagai sosok yang mengelola hubungan baik antara Hamas dengan Iran, salah satu sekutu regional terpenting gerakan tersebut, memperkuat jaringan internasional Hamas.
Dilansir Al Jazeera, Khalil Al Hayya lahir di Kota Gaza pada 05 November 1960. Masa kecilnya diwarnai dengan trauma Perang Arab-Israel 1967 dan pendudukan Israel yang terjadi setelahnya, membentuk pandangan politiknya sejak dini.
Sejak kecil, Khalil Al Hayya sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia politik dan perjuangan rakyatnya. Dia bahkan menyaksikan sendiri penggerebekan militer di rumah keluarganya di Gaza dan penangkapan anggota keluarganya, pengalaman yang sangat membekas.
Pertemuan penting dengan pendiri Hamas, Sheikh Ahmed Yassin, pada Maret 1980 menjadi titik balik yang membawanya masuk dalam aktivisme terorganisir. Sejak saat itu, perjalanan politik Khalil Al Hayya Kepala Biro Politik Hamas dimulai dengan lebih serius. Pengalaman panjangnya sebagai anggota kunci di internal gerakan menjadikan Khalil Al Hayya sangat memahami dinamika organisasi.
Khalil Al Hayya menempuh studi Islam dan berhasil memperoleh gelar sarjana dari Universitas Islam Gaza pada 1983. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya dan meraih gelar master dari Universitas Yordania pada 1986, serta gelar doktor dalam ilmu hadits dari Sudan pada 1997. Dia juga merupakan anggota aktif dalam Asosiasi Cendekiawan Palestina.
Sebagai salah satu anggota pendiri Hamas pada 1987, Khalil Al Hayya telah berulang kali keluar masuk penjara Israel selama pemberontakan Palestina yang dikenal sebagai Intifada pertama. Selama masa penahanan tersebut, dia dikabarkan mengalami penyiksaan yang berat, menunjukkan ketangguhan perjuangannya.
Meski telah kehilangan banyak anggota keluarga dalam rentetan konflik berkepanjangan, hal itu tidak sedikit pun menyurutkan semangat dan posisinya sebagai tokoh sentral politik Hamas. Ketahanan dan komitmennya menjadikan Khalil Al Hayya Kepala Biro Politik Hamas sosok yang dihormati di kalangan anggotanya.
