MADRID, MAL – Gelombang panas ekstrem yang disertai angin kencang memicu kebakaran hutan besar di Perancis dan Spanyol. Hingga Jumat (24/7/2026), sedikitnya 79.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena kobaran api terus meluas dan mengancam permukiman maupun kawasan wisata.
Di Perancis, lebih dari 60.000 warga telah dievakuasi. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan sedikitnya 32 titik kebakaran masih aktif di berbagai wilayah dan belum berhasil dikendalikan.
Salah satu wilayah yang terdampak paling parah adalah Semenanjung Cap Ferret, destinasi wisata populer di pesisir Atlantik. Pemerintah memerintahkan evakuasi segera ketika api bergerak semakin dekat. Ratusan warga dan wisatawan meninggalkan kawasan itu menggunakan perahu demi menghindari kobaran api.
Sementara itu, Spanyol juga menghadapi situasi yang tak kalah serius. Lebih dari 19.000 orang mengungsi dari kawasan pegunungan di sebelah barat Madrid setelah kebakaran meluas dengan cepat.
Hingga Jumat sore, api telah melalap hampir 15.000 hektare lahan. Presiden Wilayah Madrid, Isabel Diaz Ayuso, menyebut bencana tersebut sebagai kebakaran hutan terburuk yang pernah dialami wilayahnya. Pemerintah daerah kini memusatkan perhatian pada penyelamatan warga yang berada di jalur penyebaran api.
“Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa, tidak ada yang lain,” ujar Ayuso, seperti dikutip The New York Times.
Kebakaran Berpotensi Menyatu
Pemerintah Spanyol menetapkan keadaan darurat nasional menyusul memburuknya situasi di Madrid dan meminta bantuan tambahan dari Uni Eropa untuk memperkuat upaya pemadaman.
Suhu udara yang sangat tinggi serta angin kencang terus menyulitkan petugas di lapangan. Kekhawatiran terbesar saat ini adalah kemungkinan kobaran api di Madrid bertemu dengan kebakaran lain yang terjadi di wilayah Avila.
Menurut Menteri Dalam Negeri Spanyol, Fernando Grande-Marlaska, apabila kedua titik api tersebut menyatu, dampaknya akan jauh lebih besar dan sulit dikendalikan.
“Jika kedua kobaran itu bertemu, api akan menjadi lebih ganas dan agresif,” katanya.
Ia mengakui pemerintah belum dapat memperkirakan kapan kebakaran dapat dipadamkan sepenuhnya.
“Kita tidak bisa optimistis. Hari ini adalah hari yang kritis,” ujarnya.
Dampak Gelombang Panas Eropa
Kebakaran yang melanda Perancis dan Spanyol merupakan bagian dari rangkaian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Eropa sepanjang musim panas 2026. Gelombang panas yang berlangsung sejak akhir Mei menyebabkan suhu meningkat drastis dan membuat kawasan hutan menjadi sangat kering sehingga mudah terbakar.
Badan pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, bahkan mencatat Juni 2026 sebagai bulan Juni terpanas yang pernah terjadi di Eropa Barat. Para ilmuwan menilai perubahan iklim akibat aktivitas manusia turut meningkatkan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan.
Sekitar dua pekan sebelumnya, kebakaran besar di Provinsi Almeria, Spanyol, menewaskan 13 orang, menjadikannya salah satu kebakaran hutan paling mematikan di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Perancis pun menghadapi lonjakan jumlah kebakaran. Presiden Emmanuel Macron sebelumnya menyatakan negaranya belum pernah mengalami kebakaran hutan sebesar tahun ini sejak berakhirnya Perang Dunia II.**
