TEHERAN, MAL — Iran menyatakan sebagian besar kemampuan rudal dan drone miliknya masih dalam kondisi siap digunakan, sekaligus membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan parah.
Wakil Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Reza Sheikh, dikutip IRNA, Rabu (12/8/2026), menyebut lebih dari 75 persen kapabilitas rudal dan drone Iran masih utuh dan siap digunakan.
“Lebih dari 75 persen kapabilitas rudal dan drone Iran masih utuh dan siap,” ujar Sheikh.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menegaskan bahwa serangan AS dan Israel belum berhasil melumpuhkan seluruh kemampuan militer Iran. Sheikh bahkan menggambarkan sistem drone Iran sebagai “mimpi buruk bagi musuh”.
Klaim Iran itu berlawanan dengan pernyataan Trump yang menyebut Iran kini hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari total stok rudal dan drone.
Di tengah perang dan saling klaim mengenai kemampuan militer, Iran juga disebut memiliki rencana mengembangkan rudal balistik dengan jangkauan hingga 15 ribu kilometer.
Menurut publikasi Defense Express yang dilansir UNN, rencana tersebut diungkap Abd al-Nabi Musavi Fard, perwakilan Pemimpin Tertinggi Iran, dalam khotbah Jumat pekan lalu.
Pengembangan rudal dengan kemampuan antarbenua akan menjadi lompatan teknologi besar bagi Iran. Untuk menjangkau wilayah seperti Washington dan New York dari Iran, sebuah rudal membutuhkan jangkauan setidaknya sekitar 10 ribu kilometer.
Salah satu rudal Iran dengan jangkauan terjauh saat ini adalah Khorramshahr. Sistem tersebut disebut memiliki hubungan teknologi dengan rudal Korea Utara Hwasong-10, yang memiliki akar pengembangan dari teknologi rudal balistik Soviet R-27.
Iran Siap Hadapi Perang Berkepanjangan
Ancaman Iran tidak hanya menyangkut kemampuan persenjataan, tetapi juga kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan.
Jenderal Mohammad Reza Naqdi dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan Iran mampu mempertahankan perang hingga masa jabatan Trump berakhir pada 20 Januari 2029.
Dalam wawancara dengan PBS, Naqdi mengatakan perang yang berlangsung lebih lama akan memberikan Iran pengalaman sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi AS.
“Semakin lama perang ini berlangsung, lebih banyak pengalaman kami peroleh,” kata Naqdi.
Menurutnya, memperpanjang perang merupakan bagian dari strategi untuk membangun daya tangkal. Iran ingin menciptakan situasi ketika setiap pihak yang mempertimbangkan serangan terhadap Iran harus memperhitungkan biaya yang besar.
Naqdi juga menanggapi kemungkinan penggunaan senjata nuklir oleh AS. Ia memperingatkan bahwa penggunaan bom nuklir dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi pihak yang menyerang.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran berusaha membangun narasi bahwa konflik tidak akan mudah diselesaikan melalui penghancuran kemampuan rudal Iran. Sebaliknya, Iran menegaskan masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan perang dan memberikan tekanan dalam jangka panjang.
Namun, klaim mengenai persentase stok rudal dan drone yang masih utuh maupun kemampuan Iran untuk mengembangkan rudal antarbenua merupakan pernyataan dari pihak-pihak terkait dan tetap perlu diverifikasi secara independen.**
