PALU – Prof. Dr. Hj. Husnah resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Akuntansi Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (Untad), Rabu (15/4).
Pengukuhan tersebut dirangkaikan dengan penyampaian orasi ilmiah bertajuk “Financial Trigger Menuju Sustainability Global di Era Geopolitik” yang berlangsung di Gedung Aula Fakultas Kedokteran Untad, Kota Palu.
Dalam orasinya, Prof. Husnah menyoroti pentingnya peran keputusan keuangan sebagai pemicu utama dalam mewujudkan keberlanjutan global, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks.
Ia menyampaikan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi kondisi polycrisis, yakni berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan, mulai dari krisis energi, konflik geopolitik, perubahan iklim, hingga ketidakstabilan ekonomi global.
Menurutnya, situasi tersebut memberikan tekanan besar terhadap sistem ekonomi dunia, yang ditandai dengan meningkatnya volatilitas pasar, risiko sistemik, serta tekanan likuiditas.
“Keuangan tidak lagi sekadar alat pencatatan, tetapi telah menjadi pemicu utama keberlanjutan,” ujar Husnah.
Ia juga menegaskan bahwa ketergantungan terhadap energi impor berpotensi menjadi beban finansial jangka panjang apabila tidak dikelola secara tepat.
Dalam kesempatan itu, Prof. Husnah memperkenalkan konsep financial trigger toward sustainability, yakni gagasan bahwa kebijakan dan keputusan keuangan menjadi titik awal dalam mendorong transformasi menuju pembangunan berkelanjutan.
Konsep tersebut meliputi berbagai instrumen, seperti kebijakan fiskal progresif, investasi hijau (green investment), pembiayaan berbasis ESG, obligasi hijau (green bonds), serta keuangan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan finansial, tetapi juga harus didukung oleh tanggung jawab sosial dan kemampuan organisasi dalam mengelola sumber daya.
Ia merujuk pada teori Resource-Based View (RBV), yang menyatakan bahwa keunggulan kompetitif ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, dan tidak tergantikan.
Dalam konteks Indonesia, Husnah menilai terdapat potensi besar pada sumber daya energi terbarukan, seperti energi surya, air, dan biomassa. Namun, tantangan utama terletak pada pengelolaan potensi tersebut agar dapat menjadi kekuatan finansial yang strategis.
Selain itu, ia memaparkan hasil penelitiannya yang menunjukkan bahwa kinerja keuangan organisasi dipengaruhi oleh integrasi sumber daya berwujud dan tidak berwujud, dinamika lingkungan, serta strategi kompetitif. Integrasi tersebut bahkan mampu menjelaskan lebih dari 80 persen variasi kinerja keuangan.
Peran Corporate Social Responsibility (CSR), lanjutnya, juga menjadi penting sebagai instrumen legitimasi sosial, manajemen risiko, serta penghubung antara profitabilitas dan risiko.
Dalam kesimpulannya, Prof. Husnah menyebut keberlanjutan dibangun atas tiga pilar utama, yakni sumber daya keuangan, kapabilitas organisasi, dan tanggung jawab strategis yang harus terintegrasi.
Sebagai rekomendasi, ia mendorong penguatan financial trigger, optimalisasi sumber daya lokal, peningkatan investasi berkelanjutan, serta pembangunan sistem ekonomi yang tangguh untuk generasi mendatang.
Pengukuhan ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Prof. Husnah sekaligus kontribusi nyata dalam pengembangan ilmu manajemen keuangan yang relevan dengan tantangan global.

