PALU, MAL – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,2 yang mengguncang Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Minggu (16/8/2026) dini hari dipicu oleh aktivitas deformasi batuan di dalam Lempeng Laut Sulawesi yang berada di kawasan Teluk Tomini.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempa tersebut memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik atau oblique thrust fault dan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Gempa terjadi sekitar pukul 00.25–00.28 WITA dengan episentrum berada di laut pada koordinat 0,25 derajat Lintang Utara dan 120,22 derajat Bujur Timur, sekitar 74 kilometer barat daya Parigi Moutong. BMKG mencatat kedalaman gempa mencapai 44 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa akibat aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng tektonik.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng,” kata Wijayanto.
Ia menambahkan, hasil analisis BMKG menunjukkan sumber gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik (oblique thrust fault),” ujarnya.
Penjelasan BMKG tersebut sekaligus menjawab penyebab utama gempa yang mengguncang Parigi Moutong. Gempa ini bukan berasal dari aktivitas sesar darat seperti Sesar Palu-Koro maupun Sesar Matano, melainkan dari deformasi yang terjadi di dalam tubuh Lempeng Laut Sulawesi di bawah kawasan Teluk Tomini.
Oblique thrust fault merupakan salah satu mekanisme patahan yang menggabungkan dua jenis pergerakan sekaligus.
Pertama, komponen thrust fault atau sesar naik yang menyebabkan salah satu blok batuan bergerak naik akibat tekanan kompresi.
Kedua, komponen strike-slip fault atau sesar geser mendatar yang membuat batuan bergerak secara horizontal akibat gaya geser.
Karena mengandung dua komponen gerakan sekaligus, yakni vertikal dan horizontal, gempa dengan mekanisme oblique thrust cenderung menghasilkan guncangan yang lebih kompleks dibanding patahan yang hanya bergerak naik atau hanya bergeser mendatar.
Dalam kajian seismologi, mekanisme ini biasanya terbentuk pada wilayah yang mengalami kombinasi tekanan (kompresi) dan geseran (shear) secara bersamaan. Kondisi tersebut ditemukan di kawasan Teluk Tomini yang berada pada lingkungan tektonik kompleks.
Secara tektonik, Teluk Tomini berada di dalam sistem Lempeng Laut Sulawesi yang dipengaruhi interaksi sejumlah lempeng di sekitarnya. Di bagian barat terdapat pengaruh sistem Lempeng Sangihe, sementara di bagian timur dipengaruhi sistem Lempeng Maluku.
Interaksi berbagai sistem tektonik tersebut menyebabkan terbentuknya tekanan dan regangan di dalam tubuh lempeng. Dalam jangka waktu yang panjang, tekanan terus terakumulasi hingga melampaui kemampuan batuan untuk menahannya.
Ketika batas elastisitas batuan terlampaui, batuan mengalami patahan atau deformasi secara tiba-tiba dan melepaskan energi yang tersimpan dalam bentuk gelombang seismik. Proses inilah yang memicu terjadinya gempa bumi.
Fenomena tersebut dikenal sebagai deformasi intraplate atau deformasi yang terjadi di dalam lempeng tektonik. Berbeda dengan gempa subduksi yang terjadi pada batas pertemuan lempeng, gempa intraplate muncul akibat perubahan tegangan yang terjadi di dalam tubuh lempeng itu sendiri.
Ahli geologi sekaligus Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa di Teluk Tomini termasuk kategori gempa intraslab.
“Gempa ini merupakan jenis intraslab, dipicu oleh deformasi batuan dalam Lempeng Sulawesi,” kata Daryono.
Penjelasan serupa disampaikan Direktur Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS), Ardy Arsyad. Menurut dia, analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa terjadi di dalam lempeng, bukan pada batas pertemuan antarlempeng utama.
“Berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa (moment tensor) dari USGS dan BMKG, gempa ini diinterpretasikan sebagai sesar oblique-reverse (kombinasi sesar naik dan geser) yang terjadi di dalam lempeng (intraslab), bukan pada bidang kontak antarlempeng utama,” ujarnya.
Karakteristik oblique thrust fault juga menjelaskan mengapa guncangan gempa terasa cukup luas. Mekanisme ini menghasilkan komponen getaran vertikal dan horizontal secara bersamaan sehingga bangunan dapat terasa bergoyang kuat seperti dilalui kendaraan berat.
Selain itu, kedalaman gempa yang mencapai 44 kilometer tergolong dangkal-menengah. Pada kedalaman tersebut, sebagian besar energi gempa masih dapat mencapai permukaan sehingga guncangan terasa kuat di daratan.
BMKG mencatat intensitas guncangan mencapai skala V MMI di Tinombo, Parigi Moutong, Dampelas, dan Donggala. Pada intensitas tersebut, getaran dirasakan hampir semua orang dan benda-benda di dalam rumah dapat bergoyang kuat.
Di Palu dan Gorontalo, guncangan dirasakan pada skala III hingga IV MMI. Sementara itu, getaran juga dirasakan di Toli-Toli, Bolaang Mongondow Utara, Berau, Bontang, dan Kutai Timur dengan intensitas II hingga III MMI.
Gempa Parigi Moutong bukan peristiwa tunggal di kawasan Teluk Tomini. Dalam dua tahun terakhir, wilayah tersebut beberapa kali mengalami aktivitas seismik dengan mekanisme serupa.
Pada 5 November 2025, gempa magnitudo 6,0 mengguncang Bone Bolango, Gorontalo, dengan mekanisme sesar naik yang memiliki komponen oblique. Selanjutnya pada 31 Januari 2026 terjadi gempa magnitudo 4,8 di Teluk Tomini dengan mekanisme oblique thrust. Kemudian pada 5 Juni 2026 kembali terjadi gempa magnitudo 5,6 yang dipicu mekanisme sesar naik di kawasan yang sama.
Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan Teluk Tomini merupakan salah satu zona deformasi intraplate aktif yang berada di dalam Lempeng Laut Sulawesi.
Meski demikian, BMKG memastikan gempa Parigi Moutong tidak berpotensi tsunami. Hal ini karena mekanisme oblique thrust yang terjadi di dalam lempeng tidak menghasilkan deformasi dasar laut yang cukup besar untuk memicu pembentukan gelombang tsunami.
BMKG juga menegaskan gempa Parigi Moutong tidak memiliki hubungan langsung dengan gempa besar lain yang terjadi di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
“Tidak ada korelasi langsung. Ketiga gempa yaitu NTT M7.7 akibat Sesar Back Arc Thrust Flores, Simalungun M6.4 akibat Subduksi Lempeng Indo-Australia, dan Parigi Moutong M5.9 akibat Deformasi Dalam Lempeng Laut Sulawesi terjadi di 3 sistem sumber dan tatanan tektonik yang berbeda. Secara mekanis tidak saling memicu,” demikian penjelasan BMKG.
Sementara itu, dampak gempa masih terus didata oleh pemerintah daerah. Hingga Minggu siang, BPBD Parigi Moutong mencatat satu korban meninggal dunia, yakni Wiwi Putri Thabha (29), warga Dusun II, Desa Bugis, Kecamatan Mepanga, yang diduga mengalami serangan jantung saat kejadian.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada Kantor Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPRP) Kabupaten Parigi Moutong.
“Iya, gempa tersebut dilaporkan ada kerusakan di Dinas PUPR yang terjadi pada bagian plafon dan dinding bangunan,” kata Plt Kepala BPBD Parigi Moutong, Rivai.
Menurut Rivai, pendataan dampak masih dilakukan oleh tim di lapangan.
“Tim masih di lapangan untuk melakukan pendataan kerusakan. Tapi, sampai saat ini situasi gempa telah berakhir,” ujarnya.
BMKG mencatat hingga pukul 01.27 WITA terjadi satu kali gempa susulan berkekuatan magnitudo 2,2. Pemerintah daerah bersama BPBD masih melakukan asesmen untuk memastikan jumlah kerusakan serta dampak yang ditimbulkan gempa tersebut.
