PALU, MAL — Gelombang panas kembali menghantam sejumlah negara Eropa. Sedikitnya 135 juta warga diperkirakan menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius, sementara hampir 340 juta orang berpotensi mengalami temperatur lebih dari 30 derajat Celsius.
Prancis menjadi salah satu negara yang mengalami kondisi paling ekstrem. Suhu di Chateaumeillant, Prancis tengah, mencapai 42,5 derajat Celsius, sedangkan Paris mencatat temperatur hingga 38 derajat Celsius.
Kondisi serupa terjadi di Italia, Spanyol dan Inggris. Sekitar 29 juta warga Italia dan 25 juta warga Spanyol diperkirakan terdampak suhu tinggi. Di Inggris, temperatur mencapai sedikitnya 36 derajat Celsius di sekitar 40 lokasi di wilayah tengah dan selatan.
Bagi Eropa, persoalan ini bukan lagi sekadar cuaca panas. Gelombang panas yang semakin sering dan intens mulai menjadi persoalan kesehatan publik, keselamatan warga, hingga kemampuan kota-kota menghadapi perubahan iklim.
Para ilmuwan mengaitkan peningkatan frekuensi dan intensitas gelombang panas dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Dalam beberapa tahun terakhir, panas ekstrem dan kekeringan telah berulang kali memicu kebakaran hutan sekaligus meningkatkan risiko kematian.
Ancaman terbesar justru tidak selalu terlihat. Panas ekstrem dapat memperburuk penyakit jantung, gangguan pernapasan, penyakit ginjal, diabetes dan gangguan pembuluh darah otak. Dalam kondisi tertentu, tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu hingga menyebabkan dehidrasi, heatstroke, kerusakan organ dan kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut panas sebagai salah satu ancaman kesehatan yang kerap tidak terlihat. Banyak kematian yang berkaitan dengan suhu ekstrem tidak tercatat sebagai kematian akibat panas, melainkan muncul sebagai serangan jantung atau komplikasi penyakit kronis.
Data yang dihimpun dalam sejumlah penelitian menunjukkan besarnya persoalan tersebut. Pada 2024 diperkirakan terdapat sekitar 62.775 kematian terkait panas di 32 negara Eropa. Sementara pada musim panas 2022, penelitian memperkirakan sekitar 61.672 orang meninggal akibat panas dalam periode beberapa bulan.
Kelompok lanjut usia termasuk yang paling rentan, terutama mereka yang hidup sendiri dan memiliki penyakit kronis. Anak-anak, ibu hamil serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu juga menghadapi risiko lebih besar ketika temperatur meningkat secara ekstrem.
Ancaman juga dirasakan para pekerja luar ruangan. Pekerja konstruksi, petani, petugas kebersihan dan pekerja fisik lainnya harus menghadapi panas, paparan matahari dan aktivitas tubuh secara bersamaan, terutama ketika akses terhadap air dan tempat berteduh terbatas.
Gelombang panas juga memperbesar ancaman kebakaran. Di Yunani utara, ratusan wisatawan harus dievakuasi menggunakan perahu setelah kebakaran mendekati kawasan wisata. Di Inggris, petugas pemadam kebakaran berupaya mengendalikan api yang merusak sejumlah rumah di tengah kondisi tanah yang kering.
Eropa sendiri merupakan kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat. Data perubahan iklim menunjukkan kawasan tersebut telah menghangat sekitar 2,5 derajat Celsius dibandingkan tingkat praindustri.
Persoalan yang dihadapi Eropa menjadi peringatan bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan. Ketika suhu ekstrem meningkat, dampaknya merembet ke kesehatan, ketersediaan air, pertanian, infrastruktur, energi dan perekonomian.
Perubahan tersebut juga menuntut kota-kota untuk beradaptasi. Beton dan aspal dapat menyimpan panas sehingga memperkuat fenomena pulau panas perkotaan. Karena itu, kemampuan pemerintah menyediakan ruang teduh, akses air, sistem peringatan dini serta perlindungan bagi kelompok rentan menjadi semakin penting.
Proyeksi iklim menunjukkan kondisi tersebut dapat semakin berat jika pemanasan global terus meningkat. Jumlah penduduk yang menghadapi tekanan panas diperkirakan meningkat signifikan seiring bertambahnya temperatur bumi.
Dengan demikian, pertanyaan terbesar bagi Eropa bukan lagi apakah suhu 40 derajat Celsius akan kembali tercatat. Pertanyaannya adalah seberapa sering panas ekstrem akan terjadi, berapa lama berlangsung, dan seberapa siap masyarakat menghadapi kondisi yang perlahan berpotensi menjadi normal baru.
Gelombang panas Eropa pada akhirnya menunjukkan satu hal penting: perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga menguji ketahanan manusia dan sistem kehidupan yang dibangun untuk menghadapi masa depan.
Sumber: Republika, DWD, WHO, Copernicus Climate Change Service, IPCC dan EEA.
