ANKARA, MAL — Klaim “40 bayi dipenggal Hamas” setelah serangan 7 Oktober 2023 menjadi salah satu contoh bagaimana informasi yang belum terverifikasi dapat menyebar luas dan membentuk persepsi publik di berbagai belahan dunia.

Wakil Manajer Pemberitaan Timur Tengah Anadolu Agency, Enes Canli, menyebut pemberitaan tersebut sebagai contoh pentingnya verifikasi berlapis dalam jurnalistik, khususnya ketika meliput konflik bersenjata.

“Setelah kejadian 7 Oktober 2023 (operasi militer Hamas), banyak fake news dan juga false news, kita (jurnalis) harus punya verifikasi dan menggunakan sumber kredibe;,” ujar Enes Canli saat pembekalan War Journalism Training, seperti dilaporkan wartawan Republika dari Ankara, Turki, Kamis (18/9).

Salah satu informasi yang ia soroti adalah berita bertajuk “40 babies Beheaded by Hamas” atau 40 bayi dipenggal Hamas.

Menurut Enes Cenli, berita yang pertama kali disiarkan salah satu media Israel tersebut benar-benar ngawur. Wartawan i24 yang menyiarkannya secara langsung hanya mendasarkan informasi pada keterangan seorang tentara tanpa melakukan konfirmasi lebih lanjut.

Jurnalis tersebut, kata Enes, hanya mengaku “mendengar” informasi itu tanpa memverifikasinya.

“Kami lakukan konfirmasi langsung ke otoritas Israel dan tidak ada konfirmasi maupun bukti untuk membenarkan berita itu,” ujar jurnalis senior yang sudah malang melintang di dunia konflik dari mulai Lebanon, Arab Spring, Suriah hingga Gaza itu.

Seorang jurnalis Prancis yang melakukan konfirmasi ke layanan medis juga tidak menemukan adanya fakta yang membenarkan berita tersebut.

Namun, Enen Cenli menyayangkan informasi itu telah menyebar begitu cepat, tidak hanya di Israel dan Timur Tengah, tetapi juga ke seluruh dunia. Bahkan Presiden AS saat itu, Joe Biden, ikut terimbas dari informasi tersebut.

“Disinilah pentingnya sebuah verikasi dari berbagai sisi,” katanya.

Cenli mengatakan, konfirmasi terhadap berbagai kejadian di Israel maupun Gaza dapat dilakukan dengan menghubungi layanan medis, otoritas Israel, Hamas, maupun pihak lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Ia juga menceritakan pengalaman ketika Israel menyerang sebuah sekolah PBB di Jalur Gaza. Militer Israel saat itu menyatakan serangan tersebut menyasar markas Hamas.

Namun, jurnalis di lapangan tidak menerima begitu saja klaim tersebut dan melakukan konfirmasi kepada layanan medis.

“Jadi itu hanya klaim Israel, kita buat berita faktanya bahwa Israel telah menyerang sekolah PBB,” ujarnya.

Menurut Cenli, dalam konflik, media maupun jurnalis terkadang memiliki narasi masing-masing. Namun, pewarta harus mampu menjaga batas agar tidak terjebak keluar dari fakta.

“Kadang bahkan kita harus berseberangan dengan kantor,” ujarnya.

Cenli yang kini bertugas dalam manajemen reporter di lapangan juga membagikan sejumlah pengalaman meliput di medan pertempuran. Salah satunya adalah pentingnya menyiapkan rute alternatif untuk keluar dari zona konflik, terutama jika akses penerbangan terputus.

“Kita juga harus punya alternatif jalur-jalur darat jika bandara tutup,” ujarnya.

Selain jalur evakuasi, ia menekankan pentingnya kepercayaan dan komunikasi dalam tim. Jurnalis di lapangan tidak dapat bekerja sendiri karena dalam kondisi penuh tekanan, anggota tim saling bergantung untuk menjaga keselamatan.

Sementara itu, Direktur Pemberitan Anadolu Agency, Hasan Ay, menekankan agar jurnalis tetap memegang prinsip saat meliput di medan perang, yakni memastikan berita, foto maupun video yang dikirimkan berdasarkan fakta, bukan hasil editan.

“Kita harus pastikan foto yang dikirimkan itu bukan editan, dan harus tahu bagaimana cara mendapatkanya,” ujar Hasan Ay.

Hasan mengatakan, AA mempunyai satu moto tegas. Moto dimaksud yakni, apa yang dikirimkan oleh AA adalah fakta.

“Dalam kondisi luar biasa seperti perang, kita harus lebih punya usaha ekstra untuk mengikuti prinsip ini,” ujarnya.***