ZURICH, MAL — FIFA secara resmi membuka evaluasi menyeluruh terhadap masa depan FIFA Peace Prize, sebuah penghargaan perdamaian kontroversial yang pertama kali dianugerahkan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Desember 2025.

Langkah ini diambil setelah munculnya desakan terkait prinsip netralitas politik dalam organisasi sepak bola dunia tersebut.

Keputusan evaluasi ini ditetapkan dalam rapat Dewan FIFA di Zurich, Swiss, pada Kamis (15/10). Tim penilai akan mengkaji apakah penghargaan ini perlu dilanjutkan, direformasi dengan kriteria baru yang lebih ketat, atau dihapus sepenuhnya dari agenda tahunan federasi.

Dewan FIFA telah menugaskan Football Social Responsibility Committee untuk memimpin proses analisis mendalam ini. Komite tersebut akan meninjau asal-usul pembentukan FIFA Peace Prize, prosedur pengambilan keputusan yang dinilai tidak transparan, serta dampaknya terhadap citra federasi secara global.

“Diputuskan bahwa Komite Tanggung Jawab Sosial Sepak Bola akan ditugaskan untuk menganalisisnya, memberikan usulan, dan selanjutnya keputusan akan diambil pada rapat Dewan FIFA berikutnya,” kata Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Kontroversi mencuat karena penganugerahan trofi emas kepada Trump dianggap melanggar aturan internal mengenai keterlibatan politik praktis. Organisasi hak asasi manusia FairSquare dan Federasi Sepak Bola Norwegia bahkan telah melaporkan dugaan pelanggaran etika ini kepada Komite Etik FIFA sejak awal tahun 2026.

“Mereka akan menilai bagaimana penghargaan itu tercipta, apakah seharusnya diberikan dengan cara seperti itu, siapa yang mengambil keputusan, serta apakah itu harus dihapus atau direformasi,” kata Debbie Hewitt, Wakil Presiden FIFA.

Hingga saat ini, status Donald Trump sebagai penerima perdana FIFA Peace Prize belum dicabut secara resmi. Namun, masa depan penghargaan ini berada di ujung tanduk karena beberapa laporan menyebutkan bahwa Dewan FIFA sebelumnya tidak dilibatkan dalam proses penciptaan penghargaan tersebut.

Rapat penentuan nasib penghargaan ini dijadwalkan berlangsung pada 16/12 mendatang di Doha, Qatar. Jika akhirnya diputuskan untuk dihapus, maka Trump akan tercatat sebagai satu-satunya tokoh dalam sejarah yang pernah menerima medali perdamaian dari organisasi tersebut.