PALU, MAL – SMP Negeri 2 Palu menjadi sekolah tingkat SMP pertama di Kota Palu yang memperoleh sertifikat kandidat Sekolah Rujukan Google tahun 2026.

Kepala SMPN 2 Palu, Erik Ruben, mengatakan terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi kandidat Sekolah Rujukan Google. Salah satunya, minimal 40 persen guru memiliki sertifikat Google dan Gemini serta menerapkan pembelajaran berbasis digital di dalam kelas.

“Hampir semua guru di SMPN 2 Palu itu sudah menggunakan teknologi, terutama dalam interaksi pembelajaran di dalam kelas,” ujar Erik Ruben kepada media ini, Jumat (18/9).

Menurut Erik, capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan dan kolaborasi seluruh guru, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palu, serta Pemerintah Kota Palu dalam memenuhi kebutuhan fasilitas pembelajaran berbasis teknologi.

Salah satu dukungan tersebut berupa bantuan 60 unit Chromebook dari Disdikbud Kota Palu. Dengan dukungan fasilitas itu, SMPN 2 Palu menjadi sekolah pertama dari 54 sekolah tingkat SMP di Kota Palu yang dipercaya mengikuti program kandidat Sekolah Rujukan Google.

Erik mengatakan, status sebagai kandidat Sekolah Rujukan Google akan mendorong pihak sekolah semakin memaksimalkan pemanfaatan teknologi dalam proses pendidikan.

“Tentu dalam penerapan pembelajaran digital lebih dimaksimalkan lagi. Karena konsep dari kandidat sekolah rujukan Google itu bagaimana guru-guru lebih maksimal menggunakan perangkat digital di dalam sekolah,” jelasnya.

Digitalisasi, kata dia, tidak hanya diterapkan dalam proses pembelajaran, tetapi juga ditargetkan merambah berbagai aspek pengelolaan sekolah, mulai dari perpustakaan, tata usaha hingga sistem absensi wali kelas.

“Harapan kami di SMPN 2 Palu nanti bukan hanya pembelajaran, akan tetapi pengelolaan administrasi juga sudah berbasis digital. Seperti di perpustakaan, tata usaha, bahkan wali-wali kelas sudah menggunakan absen yang berbasis digital,” ujarnya.

Pembelajaran Lebih Fleksibel

Erik menilai pemanfaatan teknologi memberikan manfaat dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar mengajar.

Menurutnya, pembelajaran berbasis digital juga memungkinkan siswa tetap mengikuti proses belajar ketika memiliki kendala untuk hadir secara langsung di sekolah.

“Misalnya anak-anak yang terkendala belajar di dalam kelas akibat sakit, maka bisa dilakukan pembelajaran dari rumah by system,” katanya.

Selain itu, teknologi memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk mengeksplorasi berbagai materi pembelajaran. Sumber belajar tidak lagi terbatas pada buku teks, tetapi dapat diperoleh dari internet maupun sumber digital lainnya yang relevan.

“Melalui penggunaan teknologi ini juga sangat membantu para siswa dalam mengeksplorasi materi-materi yang bukan hanya bersumber dari buku. Akan tetapi bisa diperoleh dari internet dan sumber lain yang dapat mendukung pembelajaran,” ungkapnya.

Saat ini, SMPN 2 Palu memiliki 1.146 siswa yang tersebar di kelas VII hingga IX. Sementara tenaga pendidik berjumlah 68 guru dan didukung sembilan tenaga tata usaha.

Erik menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Kota Palu melalui Disdikbud yang terus mendorong peningkatan mutu pendidikan di Kota Palu.

Ia menilai berbagai terobosan yang dilakukan Disdikbud menjadi motivasi bagi sekolah untuk terus mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam proses pendidikan.

“Terus melakukan terobosan di sekolah-sekolah, sehingga sekolah terus melakukan kreativitas dan inovasi untuk menggenjot percepatan perbaikan pendidikan, baik di dalam sekolah maupun pendidikan di Kota Palu pada umumnya,” tutupnya.