MAKASSAR, MAL – PT Vale Indonesia Tbk memaparkan strategi penguatan ketahanan energi berkelanjutan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan inovasi rendah karbon dalam Sosialisasi Kebijakan Energi yang diselenggarakan Dewan Energi Nasional (DEN) bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) di Makassar, Selasa (15/09).
Wakil Presiden Direktur dan Chief Operation & Infrastructure Officer PT Vale, Abu Ashar, mengatakan operasi PT Vale di Sorowako didukung tiga Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yakni Larona, Balambano, dan Karebbe. Ketiga pembangkit tersebut memanfaatkan aliran Sungai Larona yang bersumber dari Danau Matano, Mahalona, dan Towuti dengan total kapasitas terpasang mencapai 365 megawatt (MW).
Selain memenuhi kebutuhan energi operasi dan pengolahan nikel PT Vale, sebanyak 10,7 MW listrik yang dihasilkan disalurkan melalui jaringan PT PLN (Persero) untuk mendukung pasokan listrik masyarakat di Kabupaten Luwu Timur.
Abu menegaskan keberlanjutan sistem energi tersebut bergantung pada penerapan praktik pertambangan yang baik, pengelolaan daerah tangkapan air, rehabilitasi lahan, serta perlindungan kualitas air secara berkelanjutan.
“Menjaga hutan, menjaga daerah aliran sungai, dan menjaga kualitas air bukan hanya bagian dari komitmen lingkungan, tetapi juga menjadi fondasi ketahanan energi kami. Energi yang kami gunakan berasal dari alam, sehingga keberlangsungan operasi sangat bergantung pada kemampuan kami menjaga ekosistem tersebut,” ujar Abu.
Untuk menjaga kualitas air dan keberlanjutan ekosistem, PT Vale menerapkan pengelolaan air limpasan melalui kolam pengendapan (sediment pond) dan fasilitas pengolahan air sebelum dialirkan ke badan air alami setelah memenuhi baku mutu lingkungan yang berlaku.
Perusahaan juga melakukan pengaturan volume dan debit air dengan mempertimbangkan kondisi hidrologis, kebutuhan pembangkitan, serta keberlanjutan ekosistem danau. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan air bagi pembangkit listrik sekaligus memastikan pemanfaatan sumber daya air dilakukan secara bertanggung jawab.
Menurut Abu, upaya tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan meningkatkan ketahanan operasi terhadap variabilitas iklim, khususnya pada kegiatan industri yang mengandalkan energi hidro sebagai sumber utama listrik.
Selain mengandalkan energi hidro, PT Vale terus mengembangkan berbagai inovasi untuk meningkatkan efisiensi energi dan mendukung dekarbonisasi operasi. Program yang dijalankan antara lain optimalisasi dan pelapisan kanal untuk mengurangi kehilangan air, konversi ketel uap berbahan bakar minyak menjadi electric boiler, optimalisasi pengelolaan bijih untuk mengurangi kadar air sebelum proses pengeringan, serta peningkatan efisiensi sistem pengangkutan material.
“Pemanfaatan PLTA sebagai sumber utama pasokan listrik untuk proses pengolahan nikel membantu operasi Sorowako mempertahankan intensitas emisi GRK yang relatif rendah dibandingkan sejumlah fasilitas pengolahan nikel saprolit sejenis di Indonesia,” kata Abu.
Pendekatan PT Vale dalam pengelolaan sumber daya air dan energi terbarukan mendapat apresiasi dari Anggota Dewan Energi Nasional, Sripeni Inten Cahyani. Ia menilai pengelolaan tiga PLTA di Sorowako dapat menjadi pembelajaran dalam pengembangan energi terbarukan dan penguatan ketahanan energi nasional.
“Di tengah kondisi cuaca yang ekstrem saat ini, banyak pembangkit listrik tenaga air mengalami penurunan kemampuan produksi. Namun yang menarik, PLTA milik PT Vale tetap mampu beroperasi dengan baik. Ini menjadi lesson learned yang sangat penting mengenai bagaimana pengembangan dan pengelolaan PLTA dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan dan kawasan tangkapan airnya,” ujar Sripeni.
Menurut Sripeni, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh kapasitas pembangkit, tetapi juga kemampuan menjaga ekosistem yang menjadi sumber energi tersebut. ***
