Dari tepian, sebuah mesin bernama keren combine harvester mulai merayap perlahan menjajal hamparan sawah. Bukan bising, raung suaranya justru menjadi nyanyian penuh semangat, membersamai hangatnya mentari pagi yang menyinari punggung para petani Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Mengiring tiap centi pijakan roda menuju tengah sawah, nampak bulir-bulir padi yang menguning ikut jatuh ke dalam wadahnya, menandai dimulainya “ritual” panen raya yang telah lama dinantikan petani desa berpenduduk 1570 jiwa ini. Pagi itu, medio Agustus 2026, menjadi momen istimewa bagi para petani Desa Walatana, untuk kembali menyemai harapan dari benih yang mereka tanam selama berbulan-bulan.

Meski bukan yang pertama, namun panen raya padi organik ini terasa lebih istimewa bagi petani. Karena di tepi sawah, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid, ternyata ikut hadir menjadi saksi senyum sumringah warga desa, khususnya petani milenial yang selama beberapa tahun terakhir mengembangkan budidaya padi organik di desanya.

Gubernur tak sendiri. Bersamanya, ada Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna, juga Ketua Utama Alkhairaat Habib Alwi bin Saggaf Aljufri serta pihak PT Vale Indonesia Tbk sebagai penanam tonggak dimulainya pertanian padi organik di desa itu.

Mereka hadir bukan sekadar menyaksikan panen raya. Ada kebahagiaan yang terlihat ketika mereka ikut merasakan bagaimana combine harvester berjalan pelan memotong, merontokkan, hingga membersihkan gabah dalam satu proses.

Bagi masyarakat Walatana, panen itu bukan datang secara instan. Ada proses pendampingan, pembelajaran, dan kolaborasi yang mengawalinya, sejak beberapa tahun lalu melalui kerja sama masyarakat, Alkhairaat dan PT Vale Indonesia.

Sebuah pengakuan jujur terlontar dari Afdal Abdullah, Ketua Internal Control System (ICS) Singgani Alkhairaat Walatana yang ditemui di sela kegiatan panen raya padi organik. Baginya, dan tentu juga bagi kawan-kawan se-desanya, pengembangan pertanian organik di Walatana bukan sekadar proyek budidaya padi. Tapi lebih dari itu, merupakan cita-cita mulia ingin mewujudkan pertanian organik berbasis ekonomi kerakyatan di desanya,

Afdal Abdullah

Fasilitator petani milenial ini ingat betul bagaimana program itu dimulai. Semua berawal dari kegelisahan petani yang hanya bisa memanen hasil seadanya, ketika pola pertanian masih dilakukan secara tradisional dan biasa-biasa saja.

“Budidaya organik ini menjadi awal keberhasilan rintisan dalam mewujudkan desa organik. Ini juga yang juga menarik perhatian publik dan sejumlah investor, termasuk kunjungan Wakil Gubernur Papua Selatan beberapa waktu lalu untuk melihat langsung praktik pemberdayaan ekonomi kerakyatan ini,” ujar Afdal.

Bagi Afdal, faktor yang membuat petani bertahan mengembangkan sistem organik adalah adanya kepastian pasar.

Melalui BUMA, kata dia, hasil panen petani tidak berhenti di sawah. Beras organik yang diproduksi kini telah memiliki pasar yang jelas sehingga petani memiliki motivasi untuk terus meningkatkan kualitas produksinya.

Pada musim tanam keenam ini, lanjut Afdal, kelompok petani mulai mencoba metode Hazton untuk meningkatkan produktivitas lahan. Metode ini berupa penanaman bibit dalam jumlah banyak pada satu lubang tanam.

“Kami berharap penerapan metode tersebut dapat membawa perubahan dan meningkatkan hasil produksi padi organik di Desa Walatana,” pungkas Afdal.

Senada dengan Afdal, Ketua Kelompok Tani Milenial Desa Walatana, Zani, mengungkap suka duka yang dialami petani Walatana sebelum menerapkan sistem organik.

Kata dia, waktu itu petani hanya mampu menghasilkan sekitar empat hingga lima ton gabah per hektare. Namun setelah menjalankan metode SRI Organik, produktivitas meningkat hingga lebih dari delapan ton per hektare.

“PT Vale dan Alkhairaat mencerdaskan para petani, termasuk bagi pemuda yang ikut bertani,” kata Zani.

Tak banyak yang bisa diungkapkan Ketua Utama Alkhairaat Habib Alwi bin Saggaf Aljufri, ketika melihat keberhasilan program yang dirintisnya bersama PT Vale Indonesia. Ia bahkan tidak menyangka bahwa hasil yang diperoleh sejauh ini, melampaui ekspektasi awal.

“Terima kasih PT Vale telah memperkenalkan program penanaman padi organik pada petani. Semoga program ini berkelanjutan, sehingga bisa terus memberikan manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, panen raya yang dihadiri pejabat daerah memang hanya seremoni belaka. Namun tak ada yang bisa membantah apa kata hati petani Walatana. Panen ini, bagi mereka adalah pembasuh peluh setelah penantian panjang merintis program pemberdayaan bersama PT Vale Indonesia dan Alkhairaat, lewat badan usahanya bernama BUMA (Badan Usaha Milik Alkhairaat).

Vale Hadir Menjawab Kegelisahan Petani

Kegelisahan petani Walatana, sebagaimana yang diungkapkan Afdal Abdullah, akhirnya terjawab, ketika pendekatan yang dilakukan beralih menggunakan System of Rice Intensification (SRI) Organik.

Jauh sebelum panen raya yang dihadiri gubernur dan berbagai pemangku kepentingan itu berlangsung, kala itu tepatnya sekitar Tahun 2024, Desa Walatana telah dipilih menjadi salah satu lokasi percontohan program pertanian sehat ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Program tersebut dieksekusi melalui kerja sama PT Vale dan Alkhairaat yang melibatkan konsultan pendamping Aliksa Organik SRI Consultant (AOSC), A+ CSR, dan Hatfield.

Di tahap awal, luas lahan binaan mencapai 13 hektare, terdiri atas 5,6 hektare padi SRI organik dan 7,4 hektare tanaman hortikultura serta palawija organik. Mengawali program, ada 23 petani setempat yang diberi edukasi dan pendampingan intensif mengenai teknik budidaya organik, pengolahan pupuk kompos, hingga pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL).

Senior Koordinator Government Relations PT Vale untuk Sulawesi Tengah, Muhammad Risal, juga menyampaikan hal yang sama.

Senior Koordinator Government Relations PT Vale untuk Sulawesi Tengah, Muhammad Risal (tengah) bersama petani Desa Walatana. (Foto: Media Alkhairaat)

Kata dia, perusahaan sejak awal mendukung pengembangan pertanian organik karena sejalan dengan upaya mewujudkan swasembada pangan dan pembangunan berkelanjutan.

“Pertanian organik menjadi salah satu solusi sistem pertanian yang berorientasi pada keberlanjutan dan juga menghadirkan beras berkualitas bagi masyarakat,” katanya.

Meski saat ini tidak lagi membersamai petani, namun bagi PT Vale, ukuran keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh kehadiran perusahaan di lapangan, tapi bagaimana melihat petani bisa mandiri dan berdaya secara ekonomi.

“PT Vale tidak akan selamanya berada di suatu wilayah. Peran kami adalah melakukan transfer knowledge atau alih pengetahuan kepada masyarakat agar mereka memiliki kemampuan dan kemandirian untuk bisa menjalankan program ini secara berkelanjutan,” ujar Risal.

Bagi PT Vale, tujuan program tidak pernah berhenti pada panen, tapi ada jejak baik yang terus berjalan dengan kesungguhan. Prinsip itu tampak nyata di Walatana. Petani tetap menanam, memanen, dan mengembangkan pertanian organik secara mandiri.

Kekuatan komitmen dan kesungguhan PT Vale Indonesia untuk mewujudkan petani yang mandiri dan berdaya secara ekonomi, menjadi daya tarik tersendiri di mata Gubernur Sulteng, Anwar Hafid.

Pada panen raya di Desa Walatana yang dihadirinya Agustus 2026 kemarin, Gubernur Anwar Hafid ternyata melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan satu kelompok tani.

Anwar Hafid melihat sebuah model khas yang ditunjukkan pertanian padi organik di desa itu. Bagi Anwar, Walatana bisa menjadi peluang menjadi role model pertanian modern Sulawesi Tengah.

“Petani jangan hanya berpikir berapa ton yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa nilai ekonomi yang diperoleh. Produksi harus menghasilkan pendapatan yang lebih baik bagi petani,” tegasnya.

Ia menginginkan pertanian organik di Walatana berkembang menjadi ekosistem yang lengkap, mulai dari bibit, produksi, pengolahan, pemasaran hingga hilirisasi.

Pengalaman yang ia dapat, saat mengunjungi Sichuan, Tiongkok, memberinya keyakinan bahwa masa depan pertanian terletak pada kombinasi antara riset, teknologi, pengairan yang baik, kepastian pasar, digitalisasi dan hilirisasi.

Tanpa sadar, secara tidak langsung apa yang disampaikan Gubernur Anwar, ternyata sudah diaplikasikan Vale, jauh hari sebelum panen keenam ini dihelat. Vale juga memulai program ini dengan riset terlebih dahulu, hingga menemukan metode tepat, kemudian diwariskan dan belakangan hari dilanjutkan petani Walatana dalam mengembangkan produksinya.

Walatana Bukan yang Pertama

Apa yang disemai petani Desa Walatana saat ini, sesungguhnya bukan success story pertama yang dirasakan petani.

Di area lingkar tambang, program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) yang dikembangkan PT Vale, telah lebih dahulu menunjukkan hasil.

Cerita baik ini dimulai pada kisaran 2021-2022, diawali dengan melibatkan 12 petani di empat desa binaan PT Vale, tepatnya Desa Kolono, Ululere, Bahomoahi, dan Bahomotefe dengan total lahan baru di kisaran 1,2 hektare.

Seiring waktu, jumlah petani yang terlibat meningkat menjadi 90 orang dan meluas di 13 desa pemberdayaan. Bertambahnya petani dan cakupan desa pemberdayaan, juga diiringi luasan sawah organik yang mencapai sekitar 6,8 hektare. Total panen dari luas lahan ini mencapai 17,6 ribu kilogram.

Sebagian lahan yang ada, bahkan telah memperoleh sertifikasi organik dari  (Indonesian Organic Farming Certification) sebuah lembaga yang berkompeten menilai bahwa sebuah  produk atau proses produksi telah memenuhi persyaratan/standar pertanian organik yang berlaku dalam skema sertifikasinya.

Director of Mine Project IGP Morowali PT Vale, Wafir, menyebut, pertumbuhan itu terjadi karena pendekatan yang digunakan tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kapasitas petani.

“Kami ikut memberi bantuan berupa cultivator, rumah kompos, peralatan untuk penyiangan, pengemasan, dan sebagainya. Untuk sarana kami berinteraksi dan berdialog, serta transfer pengetahuan, kami juga membangun sekolah lapangan di lokasi pertanian yang digunakan sebagai pusat pembelajaran bagi petani,” katanya.

Menurut Wafir, target perusahaan bukan hanya meningkatkan jumlah petani, tetapi menciptakan ekosistem pertanian organik yang mampu menjangkau pasar lebih luas.

Lahan pertanian padi organik di Kabupaten Morowali. (Foto: Dok. PT Vale)

Yusuf Ukasa adalah satu dari sekian banyak petani yang merasakan manfaat atas buah dedikasi perusahaan yang menjadi bagian dari MIND ID tersebut.

Petani dari Desa Kolono ini pernah bersaksi, bahwa sebelum mengenal SRI Organik, produktivitas sawahnya hanya sekitar 3 ton per hektare. Namun dari teknologi pertanian yang baru baginya, hasil panennya bahkan pernah mencapai hampir 5 ton per hektare.

“Saya berterima kasih kepada PT Vale karena telah menghadirkan program pertanian ini dengan kolaborasi bersama Pemda Morowali dan Yayasan Aliksa sebagai pendamping di lapangan. Kami para petani jadi sadar akan pentingnya SRI Organik demi keberlanjutan pangan sehat bagi masyarakat,” ujarnya, ketika itu.

Selain Yusuf, Faisal Suma adalah sosok petani lain yang ikut ketiban manfaat dari ketekunannya mengaplikasikan teknologi SRI organik.

Ketua Perkumpulan Petani SRI Organik Morowali ini mengatakan, sebelum menerapkan metode pertanian organik, mereka harus mengeluarkan biaya produksi yang besar.

“Tapi ketika beralih ke pertanian organik, biaya produksi yang kami keluarkan tidak sebesar sebelumnya,” katanya, sembari menambahkan bahwa dari metode itu, petani pun tidak lagi tergantung pada pupuk kimia dan pestisida.

Jejak Dedikasi Itu Nyata, Diakui

Persepsi baik yang muncul akhirnya menjadi pembuktian bahwa apa yang dilakukan Vale bukan hanya untuk memenuhi syarat normatif tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat. Ada keseriusan yang menjadi pegangan dalam setiap menjalankan program pemberdayaan, apapun namanya.

Persepsi positif ini muncul dari Ketua Komisi III DPRD Sulawesi Tengah Arnila HM Ali. Ia menilai, kehadiran PT Vale telah memberikan harapan bagi daerah melalui investasi, pemberdayaan masyarakat, dan pembukaan lapangan kerja.

“Kami hari ini sangat senang karena PT Vale menunjukkan keterbukaan. Artinya, hal-hal yang sebelumnya belum kami ketahui sekarang bisa kami pahami.”

Arnila berharap perusahaan dapat menjadi contoh pengelolaan industri yang memberi manfaat langsung kepada masyarakat.

“Yang namanya pertambangan tentu ada plus minusnya. Tetapi kita berharap kehadiran industri ini memberi dampak positif bagi generasi muda Sulawesi Tengah, khususnya dalam membuka kesempatan kerja di masa depan.”

Pengakuan juga datang dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Di momentum peringatan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Tengah, PT Vale menerima penghargaan sebagai wajib pajak yang konsisten memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Head of External Relations Regional & Growth PT Vale, Endra Kusuma, menyebut, penghargaan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menciptakan nilai bersama bagi pemerintah, masyarakat, dan pemegang saham.

Ia menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi fondasi utama pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

“Harapan kami, Sulawesi Tengah terus maju dan semakin sejahtera. Sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat harus terus diperkuat untuk bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus melestarikan nilai budaya.”

Di Walatana, juga di desa lain yang pernah diwarisi “ilmu padi” oleh PT Vale, musim panen itu baru saja usai.

Rasa syukur tentu patut dipanjatkan, namun kegembiraan akan hasil yang memuaskan tentu tak boleh melenakan diri para petani. Mereka harus beranjak lagi ke sawah, karena musim tanam akan kembali dimulai.

Mereka akan kembali mengolah tanah, menyiapkan benih, merawat tanaman, dan menunggu masa panen berikutnya.

Dan Vale mungkin tidak akan bersama mereka lagi. Paling mungkin jika diundang, utusannya akan datang menyaksikan lagi panen raya berikutnya. Kembali menyaksikan senyum ceria petani menikmati hasil panennya.

Vale tidak hadir lagi di sawah-sawah itu. Namun ada jejak yang ditinggalkan dan akan terus tumbuh. Bukan tanaman tapi pengetahuan, keterampilan, jaringan pasar, dan keyakinan bahwa petani kini sudah dapat berdiri di atas kakinya sendiri.