DI ERA media sosial, seseorang tidak lagi hanya memilih apa yang ingin ia baca. Dalam banyak hal, algoritma juga ikut menentukan apa yang akan terus muncul di hadapannya.

Di sinilah muncul persoalan yang semakin penting dalam kehidupan keagamaan: narasi agama menjadi terfragmentasi dan mudah terpolarisasi karena terbentuknya “enklave algoritmik” yang memperkuat echo chamber.

Enklave algoritmik dapat dipahami sebagai ruang digital yang terbentuk ketika sistem rekomendasi platform terus-menerus menyajikan konten yang dianggap sesuai dengan minat, kebiasaan, dan interaksi penggunanya.

Jika seseorang sering menonton ceramah dengan tema tertentu, algoritma akan mencari dan menyodorkan konten serupa. Ketika ia menyukai unggahan yang menyerang kelompok tertentu, konten dengan kecenderungan yang sama berpotensi semakin sering muncul.

Lama-kelamaan, seseorang seolah hidup dalam sebuah ruang informasi yang hanya memperdengarkan suara yang serupa dengan keyakinannya sendiri.

Inilah yang disebut echo chamber—ruang gema ketika pandangan yang sama terus diulang, sementara pandangan berbeda semakin jarang terdengar.

Agama dalam Ruang Gema

Persoalannya menjadi lebih serius ketika mekanisme tersebut bekerja pada narasi keagamaan.

Agama memiliki dimensi yang luas. Ada fikih, akhlak, tasawuf, sejarah, tafsir, pendidikan, muamalah, kehidupan sosial, hingga persoalan kemanusiaan.

Namun di media sosial, kompleksitas itu sering dipadatkan menjadi potongan-potongan pendek.

Sebuah persoalan fikih dapat berubah menjadi video berdurasi satu menit. Perbedaan pendapat ulama dapat dipresentasikan sebagai pertarungan antara “yang benar” dan “yang sesat”. Nasihat agama dapat berubah menjadi konten yang mengejek kelompok lain.

Ketika konten semacam itu mendapatkan banyak interaksi, algoritma memiliki alasan untuk terus mendistribusikannya.

Akibatnya, narasi yang sebenarnya memiliki konteks panjang dapat tampil sebagai kesimpulan pendek yang keras.

Di sinilah fragmentasi terjadi.

Masyarakat tidak lagi menerima satu narasi keagamaan yang utuh, melainkan potongan-potongan narasi yang berbeda sesuai dengan ruang digital masing-masing.

Seseorang melihat Islam melalui konten A. Orang lain melihat Islam melalui konten B. Keduanya kemudian merasa memiliki gambaran yang paling lengkap, padahal mereka hanya melihat bagian yang berbeda dari sebuah persoalan yang jauh lebih luas.

Algoritma Tidak Mengenal Kedalaman

Ada satu hal yang perlu dipahami: algoritma media sosial pada dasarnya tidak dirancang untuk menentukan mana pemahaman agama yang paling benar.

Algoritma bekerja dengan membaca perilaku pengguna.

Konten yang membuat orang berhenti menonton, memberikan tanda suka, berkomentar, membagikan, atau menontonnya berulang kali akan dianggap menarik.

Masalahnya, konten yang paling menarik belum tentu konten yang paling benar. Konten yang paling banyak menimbulkan kemarahan belum tentu paling bermanfaat. Konten yang paling viral juga tidak otomatis memiliki otoritas keilmuan.

Dalam konteks agama, persoalan ini menjadi sangat sensitif.

Judul provokatif lebih mudah menarik perhatian daripada penjelasan panjang. Pernyataan hitam-putih lebih mudah dibagikan daripada penjelasan yang mengandung nuansa.

Akibatnya, algoritma secara tidak langsung dapat memberikan keuntungan distribusi kepada narasi yang lebih emosional.

Bukan karena algoritma memiliki keberpihakan terhadap suatu kelompok agama, melainkan karena emosi manusia merupakan bahan bakar penting bagi interaksi digital.

Dari Perbedaan Pendapat Menjadi Polarisasi

Perbedaan pendapat sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam tradisi Islam.

Sejarah keilmuan Islam justru memperlihatkan adanya perbedaan pendapat dalam banyak persoalan. Para ulama membangun argumentasi, menguji dalil, mengkritik pendapat, dan dalam banyak kasus tetap menghormati pihak yang berbeda.

Namun ruang digital dapat mengubah karakter perbedaan tersebut.

Ketika seseorang hanya berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan sama, ia semakin jarang bertemu dengan argumentasi dari sisi lain.

Lama-kelamaan, pendapat kelompok sendiri dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan mutlak. Pendapat berbeda tidak lagi dipandang sebagai perbedaan ijtihad atau perspektif, tetapi sebagai ancaman.

Pada titik tertentu, perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Inilah salah satu jalan menuju polarisasi.

Yang lebih berbahaya, seseorang dapat merasa bahwa seluruh masyarakat berpikir seperti dirinya karena seluruh linimasa media sosialnya memang memperlihatkan hal tersebut.

Padahal, linimasa seseorang bukanlah cermin utuh masyarakat.

Ia hanyalah cermin dari sistem rekomendasi yang dibentuk oleh perilaku digitalnya sendiri.

Ketika Umat Hidup dalam “Masjid Digital” yang Berbeda

Bayangkan dua orang Muslim menggunakan platform yang sama.

Orang pertama mengikuti ulama, ustaz, dan komunitas yang memiliki kecenderungan pemikiran tertentu. Orang kedua mengikuti tokoh dan komunitas dengan kecenderungan berbeda.

Keduanya setiap hari menerima konten yang semakin memperkuat pandangan masing-masing.

Pada akhirnya, ketika mereka bertemu dalam sebuah persoalan keagamaan, mereka bukan hanya berbeda pendapat. Mereka bahkan bisa berbeda dalam memahami fakta dasar persoalan tersebut.

Masing-masing membawa dunia digitalnya sendiri.

Inilah tantangan baru dalam kehidupan keagamaan: umat secara fisik berada dalam masyarakat yang sama, tetapi secara digital dapat hidup dalam ruang-ruang keagamaan yang sangat berbeda.

Semacam “masjid digital” yang masing-masing memiliki imam, jamaah, rujukan, dan narasi sendiri.

Peran Ulama dan Lembaga Keagamaan

Dalam kondisi seperti ini, ulama dan lembaga keagamaan memiliki tantangan baru.

Tugasnya bukan hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga membantu masyarakat membangun literasi keagamaan digital.

Masyarakat perlu diajarkan bagaimana memeriksa sumber, memahami konteks, membedakan pendapat ulama dengan opini pribadi, serta tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan dari potongan video.

Lebih penting lagi, masyarakat perlu dikembalikan kepada tradisi keilmuan yang menghargai proses.

Agama tidak selalu dapat dipahami melalui potongan 30 detik.

Ada persoalan yang membutuhkan membaca kitab, memahami konteks ayat, mempelajari hadis, melihat pendapat ulama, dan berdiskusi dengan orang yang memiliki kompetensi.

Media sosial boleh menjadi pintu masuk pengetahuan agama, tetapi jangan sampai menjadi satu-satunya pintu.

Menembus Enklave

Tantangan terbesar umat di era algoritma bukan hanya bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana keluar dari ruang informasi yang terlalu nyaman.

Sesekali seseorang perlu membaca pandangan yang berbeda.

Bukan untuk menerima semuanya, melainkan untuk memahami mengapa orang lain berpikir demikian.

Dalam tradisi keilmuan, kemampuan memahami argumentasi pihak lain merupakan bagian dari kedewasaan berpikir.

Karena itu, umat perlu membangun kebiasaan “puasa algoritma” dalam pengertian tertentu: tidak membiarkan seluruh konsumsi pengetahuan ditentukan oleh rekomendasi mesin.

Cari sumber yang berbeda. Baca buku, bukan hanya potongan video. Datangi majelis ilmu. Bertanya kepada guru. Berdiskusi dengan orang yang memiliki latar keilmuan berbeda.

Sebab jika manusia sepenuhnya menyerahkan konsumsi pengetahuannya kepada algoritma, ia berisiko bukan hanya kehilangan keberagaman informasi, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk melihat persoalan secara utuh.

Agama Jangan Dipersempit oleh Linimasa

Islam memiliki tradisi intelektual yang panjang dan kaya.

Ia tidak dibangun dari satu suara, satu tokoh, atau satu potongan video.

Karena itu, keberagaman pendapat dalam batas-batas keilmuan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Yang harus dihindari justru adalah ketika perbedaan diproduksi menjadi kebencian.

Algoritma mungkin menentukan apa yang muncul di layar kita. Tetapi algoritma tidak boleh menentukan seberapa luas cara kita memahami agama.

Jika setiap orang hanya mendengar suara yang sama, ruang publik keagamaan akan semakin terpecah menjadi pulau-pulau kecil.

Dan ketika pulau-pulau itu tidak lagi saling berkunjung, perbedaan yang seharusnya menjadi ruang dialog dapat berubah menjadi tembok.

Pada akhirnya, tantangan umat bukan sekadar menghadapi teknologi.

Tantangannya adalah memastikan bahwa di tengah dunia yang semakin dipersonalisasi oleh algoritma, agama tetap dipahami dengan ilmu, adab, keluasan pandangan, dan kesediaan untuk mendengar.