MAUMERE, MAL – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 04.58 WIB atau 05.58 WITA.
Gempa dangkal yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, itu menyebabkan korban jiwa, luka-luka, kerusakan bangunan, serta memicu Peringatan Dini Tsunami yang kemudian dicabut pada pukul 07.30 WIB.
Pemerintah pusat melalui Istana Negara menyampaikan belasungkawa dan menginstruksikan percepatan evakuasi serta penanganan darurat.
Data korban hingga Sabtu siang masih bervariasi dan dalam proses verifikasi. BNPB per pukul 08.00 WIB mencatat satu orang meninggal dunia dan empat orang luka-luka di Kabupaten Sikka dan Nagekeo.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, “Korban meninggal dunia merupakan warga Kabupaten Sikka, sementara korban luka tercatat di Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo.”
Berton juga menyebut data korban masih dalam proses verifikasi dan pendataan lebih lanjut oleh tim di lapangan.
Sementara itu, Gubernur NTT Melki Laka Lena menyampaikan jumlah korban meninggal dunia yang diterimanya mencapai lima orang.
“Berdasarkan informasi yang saya terima saat ini, jumlah korban meninggal sudah lima orang,” ujar Melki.
Menurut dia, korban diduga meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa terjadi. Namun, informasi tersebut masih akan dipastikan kembali.
Laporan serupa disampaikan Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko.
“Berdasarkan laporan yang telah diterima, terdapat 2 korban meninggal dunia di Sikka dan 3 korban meninggal dunia di Kabupaten Manggarai. Dengan demikian, sementara ini terdapat lima orang yang telah dilaporkan meninggal dunia akibat bencana gempa di NTT,” katanya.
Gempa berkekuatan M 7,7 tersebut terjadi pada kedalaman 15 kilometer. BMKG menyatakan gempa dipicu aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust.
Dampak kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah. Ruang tunggu Pelabuhan Lorens Say Maumere runtuh dan menimpa calon penumpang. Selain itu, beberapa rumah, hotel, kantor, gudang Bulog, serta fasilitas umum dilaporkan mengalami kerusakan di Kabupaten Nagekeo, Sikka, dan Manggarai.
Kepala Kantor SAR Maumere Fathur Rahman mengatakan tim gabungan masih melakukan evakuasi korban.
“Saat ini dua orang dilaporkan meninggal dunia dan lima lainnya luka-luka. Satu meninggal di rumah sakit setelah dievakuasi dan yang satu meninggal ditemukan di reruntuhan gedung,” ujarnya.
Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso menyebut tiga korban berhasil dievakuasi dari lokasi terdampak di Maumere.
“Jadi, tiga korban tersebut telah dievakuasi; satu di antaranya meninggal dunia dan dua orang mengalami luka-luka,” kata Edy.
Ia menambahkan, “Kantor SAR Maumere mengkonfirmasi korban meninggal dunia teridentifikasi atas nama Meliana Nenong (54), seorang perempuan.”
Di sisi lain, pemerintah pusat telah mengambil langkah koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah menerima laporan terkait gempa tersebut.
“Berkenaan dengan informasi tadi pagi telah terjadi gempa dengan magnitudo yang cukup besar di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kurang lebih pada pukul 5 waktu Indonesia bagian barat. Nah, pertama-tama tentunya kami menyampaikan dukacita yang mendalam terhadap adanya beberapa yang dilaporkan kepada kami, ada beberapa korban meninggal dunia akibat gempa tersebut,” kata Prasetyo.
Ia menjelaskan pemerintah telah berkoordinasi dengan Menko PMK, Basarnas, BMKG, BNPB, dan Gubernur NTT untuk memastikan respons cepat di lapangan.
“Dari tadi pagi saya sudah koordinasi dengan Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan), Kabasarnas, BMKG, BNPB, dan Gubernur NTT untuk memastikan atensi dan kesiagaan semua unsur di masa-masa awal kejadian ini,” ujarnya.
Prasetyo juga mengatakan pemerintah meminta aparat memprioritaskan evakuasi dan penyelamatan warga serta mengecek kemungkinan adanya korban yang masih terjebak di reruntuhan bangunan.
“Tadi dilaporkan beberapa yang masih ada di apa, reruntuhan, dan beberapa bangunan-bangunan termasuk ada pelabuhan ada satu pelabuhan yang tadi dikirimkan kami juga di Maumere, itu ada reruntuhan-reruntuhan dan kemudian ada beberapa kantor-kantor juga yang runtuh. Nah, kami minta untuk segera dicek apakah ada korban di reruntuhan-reruntuhan tersebut. Dan kami juga men-standby-kan di Halim bilamana sewaktu-waktu diperlukan perbantuan dari pemerintah pusat kami sudah siap-siap sediakan,” katanya.
BMKG sebelumnya mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami sesaat setelah gempa terjadi. Peringatan tersebut kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi telah aman. Gelombang tsunami sempat terpantau setinggi 0,20 meter di Sikka dan 0,38 meter di Pelabuhan Kewapante, Sikka.
Hingga Sabtu siang, proses evakuasi dan pendataan korban masih berlangsung, terutama di lokasi-lokasi yang mengalami kerusakan akibat reruntuhan bangunan.
