MORUT, MAL – Keluarga seorang pelajar asal Desa Korompeli, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah (Sulteng), meminta bantuan pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Sulteng untuk mencarikan solusi atas tagihan pengobatan yang mencapai sekitar Rp42 juta.
Permintaan itu disampaikan setelah A, siswi kelas III SMK, harus menjalani operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar akibat terkena tembakan senapan angin saat bermain bersama rekannya.
Kini, setelah menjalani operasi, keluarga justru dihadapkan pada persoalan biaya pengobatan yang menurut mereka mencapai sekitar Rp42 juta.
Mastin Lamato, tante korban yang mendampingi A selama menjalani perawatan di Makassar, mengatakan keluarga mendapat informasi mengenai kewajiban pembayaran tersebut ketika hendak membawa korban pulang ke Morowali Utara.
Keluarga disebut diberi waktu hingga Jumat (14/8) untuk menyelesaikan persoalan pembayaran.
“Sebenarnya keluar hari ini, tapi kendala soal pembayarannya yang kami harap ditanggung BPJS, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Rincian sementara sekitar Rp42 juta,” ujar Mastin, Kamis (13/8).
Kondisi tersebut membuat keluarga kebingungan. Sebab, sejak awal korban dirujuk dari Morowali Utara menggunakan ambulans rujukan dan didampingi perawat dari RSUD Kolonodale.
Keluarga juga mengaku sebelumnya mendapat informasi bahwa biaya pengobatan korban akan ditanggung melalui BPJS Kesehatan.
“Kami diantar ambulans rujukan dari Morowali Utara dan juga didampingi sama suster pendamping. Disampaikan ke kami ditanggung BPJS Kesehatan,” katanya.
Menurut Mastin, keluarga tidak memiliki persiapan dana untuk membayar biaya pengobatan hingga puluhan juta rupiah.
Persoalan itu semakin berat karena keluarga masih harus menghadapi kondisi A yang kini kehilangan mata kanannya dan membutuhkan perhatian setelah menjalani operasi.
Mastin pun berharap pemerintah turun tangan membantu mencarikan jalan keluar agar persoalan biaya tersebut dapat segera diselesaikan.
“Kalau bisa bantu dulu kami, Pak. Sampaikan ke Pak Gubernur Sulteng dan Pak Bupati Morowali Utara. Kami diberikan waktu sampai besok,” ungkapnya.
Ia mengaku keluarga tidak tahu harus mencari uang sebesar itu dalam waktu singkat.
“Kami punya kemenakan sudah kehilangan mata, sekarang kami menghadapi pergumulan, di mana mau ambil uang sebanyak itu. Kalau kami tahu begini, kami tidak akan operasi,” tuturnya.
Sebelum menjalani perawatan di Makassar, keluarga juga sempat menghadapi persoalan administratif terkait kronologis kejadian yang dibutuhkan dalam proses pengobatan.
Keluarga kemudian berkoordinasi dengan Polsek Lembo dan diarahkan ke SPKT Polres Morowali Utara. Kepolisian selanjutnya menerbitkan kronologis kejadian untuk membantu kelengkapan administrasi korban.
A sebelumnya mengalami cedera serius setelah terkena proyektil senapan angin saat bermain bersama rekannya. Senapan yang digunakan sempat dianggap tidak memiliki peluru, namun ternyata masih mampu melontarkan proyektil hingga mengenai mata korban.
Akibat insiden tersebut, korban harus menjalani perawatan hingga tindakan operasi pengangkatan mata kanan di RSUD Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Sementara itu, orang tua dari pelaku penembakan yang sebelumnya telah sepakat menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan juga tengah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RSUD Kolonodale.
Mereka mengaku masih mempertanyakan proses rujukan korban, terutama karena keluarga sebelumnya menerima informasi bahwa pengobatan akan ditanggung BPJS Kesehatan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak RSUD Kolonodale maupun pihak rumah sakit terkait mengenai status pembiayaan dan penyebab munculnya tagihan sekitar Rp42 juta tersebut.
Keluarga korban kini berharap pemerintah dapat membantu memberikan kejelasan mengenai status pembiayaan sekaligus mencarikan solusi agar A dapat kembali ke Morowali Utara tanpa terbebani persoalan biaya pengobatan.
