PALU, MAL – PT Citra Palu Minerals (CPM) bersama Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Kelompok Tani Bunga Jagung Kelurahan Kawatuna, Kecamatan Mantikulore, sukses melakukan penanaman jagung perdana di lahan seluas 7,5 hektare pada Kamis (13/8).
Kegiatan penanaman jagung Kawatuna ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT CPM yang berfokus pada pengembangan komoditas pertanian di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Superintendent Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) CSR PT CPM, Rahyunita Handayani, menjelaskan, pengembangan komoditas disesuaikan dengan potensi masing-masing kelurahan.
Sebelumnya, kata dia, di Kelurahan Tanamodindi didorong dengan komoditas bawang, sedangkan Poboya dengan cabai.
Menurut Rahyunita, sekitar 15 anggota Kelompok Tani Bunga Jagung terlibat dalam pengembangan komoditas penanaman jagung Kawatuna ini.
PT CPM juga berkolaborasi dengan Syngenta untuk penyediaan benih sekaligus pendampingan bagi para petani. Kebutuhan benih untuk lahan 7,5 hektare diperkirakan mencapai 600 hingga 700 kilogram.
Selain benih, petani juga mendapatkan dukungan pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya.
“Kerja sama dengan Syngenta bukan hanya dalam penyediaan benih. Mereka juga ikut melakukan pendampingan bersama kami kepada petani, termasuk membantu menghubungkan hasil panen dengan pasar,” ujar Rahyunita.
Melalui pola kerja sama ini, PT CPM berharap petani tidak lagi menghadapi kendala dalam pemasaran hasil panen jagung mereka, karena pendampingan telah dirancang sejak tahap awal penanaman hingga proses pemasaran. Keberlanjutan program penanaman jagung Kawatuna ini sangat ditekankan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu, Lukman, menyoroti bahwa penanaman jagung ini adalah wujud kolaborasi erat antara pemerintah, perusahaan, penyuluh pertanian, dan kelompok tani. Di Kelurahan Kawatuna, terdapat potensi lahan sekitar 21 hektare. Sekitar 4 hingga 5 hektare lahan dipertahankan untuk tanaman padi, sementara sisanya dikembangkan untuk palawija, termasuk jagung, serta tanaman hortikultura.
Lukman juga menekankan bahwa keberlanjutan program sangat bergantung pada ketersediaan air. Untuk mengantisipasi potensi kekeringan, PT CPM telah menyiapkan sekitar 10 titik penampungan air, masing-masing berkapasitas sekitar satu meter kubik.
Kebutuhan air untuk tanaman jagung tidak sebesar tanaman padi, dengan air terutama diperlukan pada fase awal pertumbuhan, khususnya satu hingga tiga minggu pertama, untuk menjaga kelembapan tanah dan membantu perkembangan akar menyerap unsur hara.
Dari sisi pemasaran, Lukman menilai prospek jagung di Palu masih sangat terbuka. Ia menyebutkan bahwa harga jagung pada bulan sebelumnya sempat mencapai sekitar Rp6.500 per kilogram. Potensi pasar besar datang dari Japfa yang membutuhkan jagung setiap hari untuk pakan ternak, serta kebutuhan dari sekitar 500.000 ekor ayam petelur di Kota Palu.
“Kita sudah punya Japfa yang membutuhkan jagung setiap hari untuk diolah menjadi pakan ternak. Kita juga memiliki peternak. Di Kota Palu saja setidaknya hampir 500.000 ekor ayam petelur,” ujarnya.
Lukman menegaskan, kebutuhan pasar yang tinggi ini menjadi peluang signifikan bagi petani untuk mengembangkan penanaman jagung secara berkelanjutan. Selain itu, Syngenta juga akan membantu membuka akses pasar bagi hasil produksi petani. Pendampingan program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada satu musim tanam, melainkan terus berlanjut selama lahan masih dimanfaatkan petani dan kolaborasi antarpihak tetap berlangsung.
“Ini adalah titik masuk untuk mengembangkan lahan-lahan yang masih tidur atau terlantar di beberapa tempat. Kelurahan-kelurahan yang mengitari PT CPM akan kita bicarakan dan kembangkan secara bertahap,” kata Lukman.
Ketua Kelompok Tani Bunga Jagung Kawatuna, Darwin, menyampaikan apresiasi atas dukungan PT CPM. Bantuan yang diterima kelompoknya meliputi benih, pupuk, herbisida, dan insektisida. Ia berharap pendampingan dan bantuan untuk penanaman jagung Kawatuna dapat dilanjutkan di masa mendatang.
“Kami sangat berterima kasih karena dukungan ini sangat membantu petani. Harapan kami, pendampingan ini tetap berkelanjutan,” ujar Darwin.
Darwin menyebutkan, 15 anggota kelompoknya terlibat dalam pengelolaan lahan secara bersama dalam koordinasi kelompok, namun masing-masing petani tetap menggarap lahannya. Sebelum program penanaman jagung ini, lahan tersebut digunakan untuk tanaman kacang hijau. Persoalan ketersediaan air masih menjadi tantangan utama, dengan debit air yang mengalami penurunan dalam sekitar satu bulan terakhir akibat kemarau.
“Untuk sekarang air memang sangat kurang. Kondisinya mulai terasa sejak kemarau ini,” kata Darwin.
Data dari Penyuluh Pertanian Kawatuna, Made, menunjukkan bahwa luas baku sawah (LBS) yang ditetapkan pemerintah di Kawatuna mencapai 35,11 hektare.
Hingga Agustus 2026, lahan yang telah diolah mencapai sekitar 18,75 hingga 21,25 hektare, atau sekitar 53 hingga 60 persen dari total LBS.
Lahan tersebut ditanami berbagai komoditas: padi (9,25–10,5 ha), jagung (4,75–5,5 ha), kacang tanah (1–1,25 ha), dan cabai (1–1,25 ha). Pertanaman ini tersebar di sejumlah titik, dengan padi di 21 titik, jagung di 14 titik, tomat di sembilan titik, dan cabai di tiga titik.
Made menambahkan, jika kondisi cuaca mendukung, pihaknya menargetkan penambahan tanam padi sekitar 3,5 hektare pada Agustus. Sementara itu, penanaman jagung seluas 7,5 hektare ditargetkan rampung pada September. Namun, penurunan debit air menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi untuk mencapai target tersebut. Di Kawatuna, tercatat tiga subsektor kelompok tani: tanaman pangan (5 kelompok, 103 anggota), hortikultura (4 kelompok, 176 anggota), dan peternakan (4 kelompok, 45 anggota).
Secara keseluruhan, terdapat 324 petani atau keluarga yang terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (SIMLUHTAN).
