Trump disebut dipindahkan secara rahasia dari Air Force One ke pesawat C-32 setelah muncul laporan intelijen Israel soal dugaan rencana pembunuhan oleh Iran.
JAKARTA, MAL — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan harus meninggalkan Bandara Ankara, Turki, secara diam-diam dengan cara yang tak biasa. Setelah sempat menaiki Air Force One di hadapan kamera, Trump disebut dipindahkan ke pesawat militer yang lebih kecil menggunakan truk katering bandara.
Manuver tersebut dilakukan setelah pejabat AS menerima laporan intelijen dari Israel yang menyebut Iran kemungkinan berencana menyerang Trump ketika menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara pada 7–8 Juli 2026.
Menurut Middle East Eye (MEE), sejumlah pejabat Turki justru menduga laporan tersebut merupakan taktik Israel untuk menggagalkan pendekatan Trump terhadap Iran.
Mereka menilai informasi tersebut dapat membuat Trump menjauh dari perundingan dengan Teheran, sekaligus memperkuat posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang dianggap melindungi presiden AS.
Dugaan tersebut juga muncul karena sikap Trump dalam pertemuannya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan disebut berbeda dengan agenda Netanyahu.
Seorang sumber yang hadir dalam pertemuan Trump dan Erdogan mengatakan Trump berulang kali menyatakan bahwa perang dengan Iran telah berakhir dan mengungkapkan harapan terhadap kelanjutan negosiasi dengan Teheran.
Sementara itu, Netanyahu disebut mendorong dimulainya kembali perang dengan Iran, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi dan operasi yang menargetkan para pemimpin Iran.
Ancaman terhadap Air Force One
Sekitar pukul 14.00 pada 8 Juli, aparat keamanan Turki dilaporkan mengerahkan unit tambahan ke Bandara Ankara, tempat Air Force One diparkir.
Saat itu Ankara berada dalam pengamanan ketat karena menjadi tuan rumah KTT NATO. Sejumlah jalan ditutup dan akses menuju sejumlah kawasan diperketat.
Menurut sumber yang dikutip MEE, pejabat AS kemudian memberi tahu mitra mereka di Turki mengenai laporan intelijen Israel yang menyebut Iran mungkin menargetkan Trump.
Laporan tersebut bahkan disebut memperingatkan kemungkinan unit operasi rahasia Iran menyerang Air Force One di sekitar Bandara Ankara.
Salah satu sumber mengatakan kepada MEE bahwa Iran diduga dapat menggunakan rudal panggul atau man-portable air-defense system (MANPADS) dari jarak sekitar satu kilometer.
Kekhawatiran itu diperkuat kondisi Bandara Ankara yang dikelilingi bangunan sipil. Sejumlah bangunan bahkan disebut hanya berjarak sekitar 500 meter dari landasan pacu.
Aparat AS kemudian mempertimbangkan Bandara Esenboga sebagai lokasi keberangkatan Trump karena area di sekitar perimeter bandara tersebut dinilai lebih aman.
Namun, perubahan berikutnya justru membuat Trump kembali menggunakan Air Force One yang lebih lama. Pesawat tersebut dilaporkan memiliki sistem pertahanan yang tidak tersedia pada pesawat baru.
Trump Dipindahkan dengan Truk Katering
Di tengah situasi tersebut, Dinas Rahasia AS mengambil langkah pengamanan tambahan.
Trump awalnya terlihat menaiki Air Force One di depan kamera. Namun, setelah berada di dalam pesawat, rencana keberangkatannya berubah.
Menurut laporan The Washington Post yang dikutip MEE, Trump kemudian dipindahkan secara diam-diam menuju pesawat pemerintah AS lainnya, sebuah C-32.
Yang menarik, perpindahan tersebut dilakukan menggunakan truk katering bandara.
Kendaraan yang biasanya digunakan untuk mengangkut makanan dan kebutuhan penerbangan itu menjadi bagian dari manuver untuk menyembunyikan keberadaan Trump.
Dengan cara tersebut, lokasi Trump tidak mudah diketahui publik, wartawan, maupun sejumlah staf Gedung Putih.
Trump akhirnya meninggalkan Turki menggunakan pesawat C-32, sementara keberadaan Air Force One yang lebih besar tetap menjadi perhatian publik.
Turki Ragukan Laporan Israel
Meski aparat AS menganggap ancaman tersebut serius, sejumlah pejabat Turki justru meragukan informasi intelijen Israel.
Seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan pihak Turki memang menanggapi laporan itu secara serius dan membantu mitra AS mengambil langkah pengamanan.
Namun, sumber tersebut menyatakan keyakinannya bahwa laporan mengenai rencana pembunuhan Trump sama sekali tidak benar.
Kecurigaan itu muncul karena Iran memang pernah dituduh melakukan operasi terhadap pembangkang Iran di Turki, tetapi menurut sumber MEE, Teheran belum pernah melakukan operasi canggih di wilayah Turki yang menggunakan sarana lebih dari senjata api biasa.
Di sisi lain, Iran telah membantah menargetkan Trump maupun pejabat Amerika lainnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan tersebut, laporan ancaman itu telah membuat perjalanan Trump di Turki berubah menjadi operasi pengamanan berlapis.
Dan dalam salah satu manuver paling tidak biasa, presiden AS yang biasanya bepergian dengan rombongan besar dan pengamanan ketat justru harus disembunyikan dari pandangan publik di balik sebuah truk katering sebelum dipindahkan ke pesawat lain.**
