KYUSHU JEPANG, MAL – Gunung Sakurajima di Prefektur Kagoshima, Kyushu, Jepang, mengalami ledakan erupsi pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Tokyo Volcanic Ash Advisory Center (Tokyo VAAC) mencatat ledakan terjadi pada pukul 08.14 UTC atau 17.14 waktu Jepang, dan menerbitkan advisori abu vulkanik yang menyebut abu terdeteksi atau dilaporkan meluas ke arah barat pada level penerbangan FL110.
Advisori nomor 2026/142 diterbitkan pada pukul 08.32 UTC berdasarkan data pengamatan satelit Himawari-9 milik Badan Meteorologi Jepang (JMA).
Dalam keterangan teknisnya, Tokyo VAAC menyatakan, “ERUPTED AT 20260808/0814Z FL110 EXTD W,” yang menunjukkan erupsi terjadi pada 8 Agustus 2026 pukul 08.14 UTC dengan abu meluas ke arah barat pada FL110.
FL110 merupakan istilah dalam dunia penerbangan yang merujuk pada level penerbangan sekitar 11.000 kaki atau sekitar 3.350 meter. Namun, angka tersebut merupakan informasi ketinggian dalam advisori penerbangan dan tidak otomatis menunjukkan tinggi kolom erupsi yang terukur langsung dari kawah.
Gunung Sakurajima berada di kompleks vulkanik Aira Caldera pada koordinat 31°36’ Lintang Utara dan 130°39’ Bujur Timur. Gunung api ini dikenal sebagai salah satu gunung paling aktif di Jepang dengan aktivitas erupsi yang berulang.
Meski erupsi dan pelepasan abu telah terkonfirmasi, data resmi yang tersedia hingga Minggu, 9 Agustus 2026, belum mencantumkan volume abu, ketebalan endapan, jumlah warga terdampak, kerusakan, maupun gangguan penerbangan yang ditimbulkan.
Dalam pengamatan pukul 08.20 UTC pada hari yang sama, Tokyo VAAC menyatakan, “VA NOT IDENTIFIABLE FM SATELLITE DATA,” atau abu vulkanik tidak dapat diidentifikasi dari data satelit pada saat pengamatan tersebut.
Lembaga itu juga tidak menerbitkan prakiraan kondisi abu untuk enam, 12, maupun 18 jam berikutnya. Dalam advisori yang sama, Tokyo VAAC menyebut, “WE WILL ISSUE FURTHER ADVISORY IF VA IS DETECTED IN SATELLITE IMAGERY,” yang berarti pembaruan hanya akan diterbitkan apabila abu kembali terdeteksi melalui citra satelit.
Sejumlah unggahan di media sosial menyebut abu vulkanik menyebar ke wilayah Kagoshima dan memicu hujan abu tebal. Namun, informasi mengenai luas penyebaran abu, ketebalan endapan, dampak terhadap warga, fasilitas umum, maupun operasional penerbangan belum dapat diverifikasi melalui data resmi yang tersedia.
Karena itu, belum terdapat dasar resmi untuk menyatakan bahwa abu menutupi seluruh Kota Kagoshima, menyebabkan gangguan besar, atau memicu pembatalan penerbangan dalam jumlah tertentu.
Abu vulkanik tetap memiliki potensi bahaya bagi kesehatan dan transportasi. Partikel abu dapat mengganggu pernapasan, mengurangi jarak pandang, merusak mesin kendaraan maupun pesawat, serta berdampak pada pertanian dan infrastruktur apabila terjadi hujan abu dalam jumlah signifikan.
Hingga laporan ini disusun, belum ditemukan informasi resmi mengenai korban, kerusakan, evakuasi, maupun peningkatan status bahaya terkait erupsi Sakurajima pada 8 Agustus 2026. Pembaruan lebih lanjut masih menunggu informasi dari JMA, Tokyo VAAC, pemerintah Prefektur Kagoshima, dan otoritas terkait di Jepang.
