Pagi baru saja menyentuh Kepulauan Togean ketika beberapa perempuan mulai berkumpul di sebuah rumah produksi sederhana. Tidak ada deru mesin besar atau jalur produksi modern yang bergerak tanpa henti.

Yang terdengar hanya suara percakapan ringan, sesekali diselingi bunyi hand mixer yang mengaduk bahan-bahan alami menjadi sabun dan produk perawatan tubuh.

Di tempat inilah Togean Naturale tumbuh.

Usaha sosial yang berdiri dengan semangat pemberdayaan perempuan itu kini menjadi sumber penghidupan bagi puluhan perempuan dari berbagai desa di Kepulauan Togean.

Dari tangan-tangan mereka lahir sabun batang, body wash, produk perawatan rambut, hingga perawatan kulit yang sebagian besar menggunakan bahan alami dari daerah sendiri.

“Awalnya Togean Naturale memang dibentuk untuk pemberdayaan perempuan,” kata Hana, Manager Operasional Togean Naturale, ketika menerima kunjungan sejumlah awak media, awal pekan ini.

Semangat itu masih terjaga hingga sekarang. Dari empat cabang yang dimiliki—di Ampana, Togean, Bali, dan Raja Ampat—sekitar 34 hingga 35 pekerja yang terlibat seluruhnya adalah perempuan.

Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak terlalu besar. Namun di wilayah kepulauan yang akses ekonominya terbatas, puluhan lapangan kerja bagi perempuan memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar statistik.

Di ruang produksi yang sederhana, sebagian besar pekerjaan masih dilakukan secara manual. Hand mixer menjadi salah satu alat utama yang membantu proses pencampuran bahan. Selebihnya, para pekerja mengandalkan keterampilan tangan dan pengalaman yang mereka miliki.

Setiap hari, mereka mampu memproduksi sekitar 200 batang sabun. Jumlah itu bisa bertambah atau berkurang tergantung permintaan pasar.

Bahan-bahan yang digunakan sebagian besar berasal dari alam sekitar. Minyak kelapa dan minyak nilam diperoleh dari petani lokal. Sekitar 90 persen bahan baku yang digunakan merupakan bahan alami.

Dari pulau-pulau kecil di Togean, produk-produk itu kemudian menempuh perjalanan panjang. Sebelum sampai ke tangan konsumen, hasil produksi dikirim lebih dulu ke Ampana untuk dikemas. Setelah itu, sebagian besar produk melanjutkan perjalanan ke Bali, sementara sebagian lainnya dipasarkan melalui sejumlah resort di Kepulauan Togean.

Nama-nama seperti Reconnect, Sanctum, Bahia, dan Araya menjadi bagian dari rantai pemasaran produk lokal tersebut. Para wisatawan yang menginap di resort-resort itu menjadi pelanggan utama.

Mayoritas pembeli berasal dari luar negeri.

Ironisnya, produk yang banyak digunakan wisatawan mancanegara itu lahir dari sebuah lokasi yang masih menghadapi tantangan dasar yang belum sepenuhnya teratasi.

Salah satunya adalah air.

Di banyak tempat, air bersih adalah sesuatu yang hadir begitu saja ketika keran dibuka. Namun tidak demikian di sebagian wilayah Kepulauan Togean.

“Kendala terbesar sehari-hari sebenarnya air,” ujar Hana.

Saat musim hujan, kebutuhan air masih bisa dipenuhi dari tampungan air hujan. Tetapi ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, air harus didatangkan dari kampung atau pulau lain.

Bagi masyarakat perkotaan, situasi itu mungkin sulit dibayangkan. Namun bagi perempuan-perempuan yang bekerja di Togean Naturale, kondisi tersebut adalah bagian dari rutinitas yang harus dihadapi.

Tantangan lain datang dari logistik.

Sebagai wilayah kepulauan, pengiriman bahan baku membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan daerah perkotaan. Beberapa bahan penting bahkan harus didatangkan dari Bali, termasuk natrium hidroksida atau soda api yang digunakan dalam proses pembuatan sabun.

Ketika kapal pengangkut terlambat datang, aktivitas produksi pun ikut tertunda.

“Ada kalanya ibu-ibu sampai hampir seminggu tidak bisa produksi karena bahan belum sampai,” kata Hana.

Meski begitu, aktivitas usaha terus berjalan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Togean Naturale juga mulai mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Indonesia. Melalui kemitraan tersebut, para pengelola memperoleh akses terhadap pelatihan, termasuk pelatihan ekspor dan pengembangan usaha.

Di tengah segala keterbatasan, Togean Naturale juga berupaya menjaga prinsip ramah lingkungan. Energi listrik yang digunakan untuk mendukung proses produksi berasal dari solar panel. Kebutuhan listrik untuk peralatan sederhana seperti hand mixer dipenuhi dari energi matahari yang ditangkap panel surya.

Sementara itu, limbah produksi hampir tidak menjadi persoalan karena proses yang dijalankan dirancang seminimal mungkin menghasilkan dampak terhadap lingkungan.

Namun mungkin cerita paling penting dari Togean Naturale bukanlah tentang sabun, kemasan, atau pasar wisata.

Cerita itu ada pada perempuan-perempuan yang bekerja di dalamnya.

Salah satunya adalah Tutun.

Dengan suara sederhana dan tanpa banyak kata, ia menggambarkan perubahan yang dirasakan setelah bekerja di Togean Naturale.

“Alhamdulillah, sekarang bisa membantu menyekolahkan anak di Ampana. Pekerjaan ini juga membantu suami,” tuturnya.

Kalimat itu singkat. Tetapi maknanya panjang.

Di sebuah kepulauan yang jauh dari pusat-pusat ekonomi besar, pekerjaan bukan hanya soal pendapatan. Ia menjadi jalan bagi perempuan untuk membantu keluarga, membiayai pendidikan anak, dan memiliki ruang yang lebih besar dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.

Sabun-sabun yang diproduksi di Togean Naturale mungkin pada akhirnya digunakan oleh wisatawan yang datang menikmati laut biru dan keindahan terumbu karang Togean.

Namun di balik setiap batang sabun itu, tersimpan kisah lain yang jarang terlihat.

Kisah tentang perempuan-perempuan yang meracik harapan dari bahan-bahan alami, bekerja dengan peralatan sederhana, bertahan di tengah keterbatasan air dan logistik, lalu mengubah hasil kerja mereka menjadi masa depan yang lebih baik bagi keluarga.

Di tangan mereka, pemberdayaan bukan lagi sekadar program atau slogan.

Ia hadir dalam bentuk yang nyata: pekerjaan, penghasilan, dan kesempatan.