MOROWALI, MAL – Kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, terus berkembang sejak berdiri 13 tahun lalu dan kini mencatat jumlah tenaga kerja mencapai 100.310 orang hingga September 2026.

Pertumbuhan kawasan industri tersebut turut mendorong perkembangan usaha lokal dan aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.

Perubahan tersebut terlihat dari perkembangan kawasan Bahodopi yang sebelumnya belum tergambarkan dalam peta kecamatan yang terakhir diperbarui pada 2009. Saat itu kawasan tersebut masih didominasi lahan terbuka dan permukiman kecil, sementara saat ini telah berkembang menjadi kawasan industri yang dilengkapi fasilitas pengolahan mineral, pelabuhan, dan bandara khusus.

IMIP berdiri sebagai bagian dari pengembangan hilirisasi nikel nasional dengan fokus pada pengolahan mineral dari hulu hingga produk akhir.

Kawasan ini berkembang melalui tiga klaster utama, yakni klaster stainless steel yang mengolah bijih nikel menjadi NPI hingga produk baja nirkarat, klaster carbon steel untuk produksi baja karbon, serta klaster bahan baku baterai yang mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Selain itu, kawasan IMIP juga didukung industri penunjang berupa PLTU dan PLTS, pabrik bahan kimia pendukung seperti silikon, mangan, kapur, dan kokas, serta fasilitas pelabuhan dan bandara khusus.

Data HR Department PT IMIP menunjukkan jumlah tenaga kerja di kawasan tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2020 jumlah pekerja tercatat 35.592 orang, meningkat menjadi 51.542 orang pada 2021, kemudian 68.466 orang pada 2022, 74.350 orang pada 2023, dan sekitar 83.000 orang pada 2024. Jumlah tersebut kembali naik menjadi 86.804 orang pada 2025 dan mencapai 100.310 orang hingga September 2026.

Dari total tenaga kerja tersebut, sebanyak 91.904 orang merupakan pekerja laki-laki dan 8.406 orang pekerja perempuan.

Dengan jumlah pekerja yang terus bertambah, aktivitas ekonomi di Bahodopi juga meningkat. Pada 2025, dengan populasi pekerja sebanyak 86.804 orang, estimasi perputaran uang di wilayah tersebut mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau sekitar Rp5,9 triliun per tahun.

Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan pertumbuhan kawasan industri turut mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Bahodopi.

“Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di Bahodopi, antara lain Kios Pertamini (981 unit), Stan Minuman (735), Stan Makanan non-bangunan (670), Kios Umum (648), dan Warung Makan (591). Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun, namun tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas,” ujar Dedy Kurniawan, Jumat (02/10).

Menurut data yang disampaikan PT IMIP, sebagian besar UMKM di Bahodopi bergerak pada sektor usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.

Pertumbuhan industri pengolahan berbasis nikel juga disebut berkontribusi terhadap kinerja ekonomi Sulawesi Tengah. Dalam laporan ekonomi Provinsi Sulawesi Tengah Februari 2026, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, menyebut ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,79 persen.

“Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah,” sebut Muhamad Irfan Sukarna. ***