Ada orang yang hampir setiap hari hadir di masjid, mengikuti majelis, aktif dalam kegiatan keagamaan, bahkan terlibat dalam organisasi. Namun, di tengah keramaian itu, ia tetap membawa perasaan bahwa dirinya tidak benar-benar dikenal, tidak ditanya kabarnya, dan tidak didengarkan.

Ironisnya, kita sering membicarakan agama sebagai sumber persaudaraan dan kebersamaan, tetapi jarang membicarakan pengalaman orang yang merasa sendirian di tengah komunitas keagamaannya sendiri. Padahal, seseorang bisa berada di tengah banyak orang dan tetap mengalami kesepian.

Kita sering mengukur keberhasilan sebuah komunitas dari banyaknya jamaah, ramainya kajian, banyaknya kegiatan, atau besarnya program sosial. Tetapi ada ukuran yang lebih sederhana dan mungkin lebih penting: apakah orang-orang di dalamnya merasa dilihat dan dianggap berarti?

Masjid bisa penuh setiap malam, tetapi seseorang yang datang sendirian mungkin tidak pernah disapa. Ia bisa duduk di tempat yang sama selama bertahun-tahun, tetapi tidak ada yang benar-benar mengetahui namanya, pekerjaannya, masalah yang sedang dihadapinya, atau alasan mengapa ia terus datang.

Begitu pula dalam majelis ilmu. Orang bisa rutin hadir, mencatat kajian, mengikuti berbagai kegiatan, tetapi tidak pernah memiliki ruang untuk berbicara tentang dirinya sendiri. Ia mendapatkan banyak nasihat, tetapi mungkin tidak pernah mendapatkan satu pertanyaan sederhana: “Bagaimana keadaanmu?”

Di sinilah komunitas keagamaan perlu melihat kembali makna ukhuwah. Persaudaraan bukan hanya berkumpul dalam shalat, pengajian, peringatan hari besar, atau kegiatan sosial, tetapi juga kemampuan untuk mengenali manusia di balik kehadirannya.

Kadang kita terlalu cepat memberikan nasihat kepada seseorang yang sebenarnya hanya membutuhkan telinga untuk mendengarkan. Kita menawarkan ayat, ceramah, dan berbagai solusi, padahal yang dibutuhkan mungkin hanya seorang teman yang bersedia duduk bersamanya tanpa menghakimi.

Kesepian di dalam komunitas keagamaan juga tidak selalu berarti komunitas tersebut buruk. Bisa jadi masalahnya jauh lebih sederhana: kita terlalu sibuk menyelenggarakan kegiatan sehingga lupa membangun hubungan antarmanusia yang menjadi ruh dari kegiatan itu sendiri.

Karena itu, mungkin sudah waktunya masjid dan organisasi keagamaan tidak hanya bertanya, “Berapa banyak orang yang hadir?” tetapi juga bertanya, “Berapa banyak orang yang merasa memiliki tempat di sini?”

Sebab ukuran keberhasilan sebuah komunitas bukan hanya ketika orang datang, tetapi ketika mereka merasa diterima. Bukan hanya ketika mereka duduk bersama, tetapi ketika mereka merasa dikenal. Dan bukan hanya ketika mereka mendengar nasihat, tetapi ketika mereka tahu bahwa ada orang yang bersedia mendengarkan mereka.

Agama seharusnya tidak membuat seseorang merasa semakin sendirian. Justru di tengah dunia yang semakin individualistis, masjid, majelis, dan komunitas keagamaan semestinya menjadi tempat di mana seseorang dapat menemukan kembali rasa bahwa dirinya dilihat, didengar, dan memiliki saudara.

Mungkin karena itu, salah satu bentuk ibadah sosial yang paling sederhana bukanlah membuat kegiatan yang besar, melainkan menyapa seseorang yang biasanya tidak disapa. Bertanya kabarnya, mengingat namanya, mendengarkan ceritanya, dan membuatnya tahu bahwa kehadirannya tidak pernah dianggap biasa.

Karena terkadang, yang membuat seseorang bertahan dalam sebuah komunitas bukanlah megahnya masjid, banyaknya kajian, atau besarnya organisasi. Melainkan satu perasaan sederhana: “Di sini, ada orang yang peduli bahwa saya ada.”**